Alam semesta yang bisa dipantau oleh pengetahuan dan teknologi manusia usianya sudah di kisaran 13,7 milyar tahun. Galaxy sekitar 6 milyar tahun, planet bumi 4,5 milyar tahun, species homo sapiens baru nongol 200 ribu tahun lalu. Agama baru nongol 70 ribu tahun, Buddha baru 500 tahun, Kristen baru 2000 tahunan. Islam 1400 tahunan.

Artinya, kita ini baru nongol di planet bumi dibandingkan kecoa yang sudah jutaan tahun lamanya.







Tapi, walaupun terbilang masih muda, species homo sapiens telah sukses memusnahkan banyak jenis species lainnya. Apalagi dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, sapiens semakin menggila lewat berbagai doktrin tunggal, spesial dan status Istimewa lainnya.

Padahal, semua itu hanyalah temuan-temuan berbasis ego. Bagi saya, tidak ada yang spesial dari sapiens selain ambisi-ambisinya. Lewat ambisi inilah manusia bisa sampai pada temuan-temuan besar. Ternyata, dengan temuan-temuan fantastik itu, sapiens masih belum sanggup melahirkan peradaban yang model atlantis yang pernah dibayangkan oleh philosofer Plato, dimana sinergi antara Ilmu Pengetahuan sanggup melahirkan harmoni antara manusia dan alam.

Ternyata, semua itu hanyalah imaginasi utopis dari sang Philosopher King. Manusia selamanya akan menjadi binatang pemangsa yang tidak akan pernah puas. Di situlah esensi dari berbagai konsep kompleks yang diciptakan, hanya untuk menjelaskan banyak hal, sementara problems serius dari peradaban manusia sendiri belum bisa dijawab secara menyeluruh.

Lalu, bagaimana manusia menjawab problems kemiskinan, kebodohan, dan sikap intolerant yang sampai saat ini masih eksis, sementara di belahan bumi lain problem ini bisa dijawab? Mengapa? Karena manusianya sadar bahwa ternyata yang terpenting dari semua itu adalah bekerjasama. Inilah inti dari Ilmu Pengetahuan yang bersinergi dengan harmoni.

#Itusaja!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.