Andai kami bangsa pemarah, mungkin acara Indonesia Damai-mu di Tivi One bisa saja bubrah. Andai kami bangsa pemarah, bukan hanya acaramu, tetapi juga kantor redaksimu yang kami lempari batu.

Andai kami bangsa pemarah, jutaan masamu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan badai kami yang tak terhitung jumlahnya. Andai kami bangsa pemarah, Serta merta Kyai kami berseru lantang untuk memburu dan merajammu.




Tapi, sayangnya, kami bukan bangsa pemarah. Kami masih setia dan menjunjung tinggi etika dan budaya leluhur bangsa. Tapi, sayangnya, kami bukan bangsa pemarah. Kami terbiasa menjadikan welas asih sebagai prinsip hidupnya. Tapi sayangnya, kami bukan bangsa pemarah, kami terbiasa menjunjung silaturahmi daripada sekedar membenci dan emosi.

Kami umat beragama, namun kami tak melupakan budaya bangsa. Kami bukan Bangsa Arabia, yang saling menikam bila terjadi kesalahfahaman.Kami bukan Bangsa Barat, yang berlaku individualis tanpa peduli dengan sesama. Kami juga bukan Bangsa jepang, yang hanya serius tetapi melupakan tertawa. Kamilah Indonesia dengan beragam budaya adiluhung yang menyertainya.

Di negeri ini kami hidup, dan di tanah ini pula kami akan menutup mata. Agama dan Budaya adalah karakter yang membentuk jiwa kami selama ini. Maka, jangan pernah mencoba kalian pisahkan salah satunya.

Karena dengan segenab jiwa dan raga, kami serta merta akan membelanya.

Puisiku ini untuk Agung Izzulhaq, presenter Tivi One acara Indonesia Damai yang telah mengata-ngatain Gus Mus kami. Dan untuk semua manusia yang telah melupakan budaya bangsanya sendiri.

Salam Jemblem








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.