Kolom Seriulina Karosekali: KETIDAKTAHUAN DAN KETIDAKPEDULIAN

1
499

Ketika suatu saat saya ngobrol dengan seorang penggerak KBB (Karo Bukan Batak), dia tanya saya:  “Kam tahu mengapa sebagian orang Karo tidak menerima KBB? Tidak tahu, jawabku. Jawabnya adalah: “Ketidaktahuan dan tidak mau tahu.” Setelah saya renungkan, dan mencoba bertanya ke beberapa orang, sangat benar apa yang dikatakannya.

Saya sudah pernah buktikan ketika bertanya kepada beberapa orang; baik muda maupun orang tua. Dari jawaban yang mereka berikan, saya menyimpulkan mereka memang sama sekali tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu mengapa ada sebutan “Batak Karo” meskipun kebanyakan orang Karo mengaku dirinya Karo bukan Batak Karo.







Pertanyaan saya adalah sebagai berikut. Kalau kam bertemu dengan orang asing dan mereka tanya “kam suku apa?” apa jawabanndu? Mereka semua menjawab: “Saya Suku Karo.” Kalau orang bertanya “kam Suku Batak, ya?”, apa jawabanndu? Ada yang menjawab bukan, saya Batak Karo dan kebanyakan menjawab “bukan,  saya Suku Karo.”

Kenapa kam Batak Karo? Karena memang katanya kan kita Batak Karo. Siapa yang bilang kam Batak Karo? Apakah orangtua atau kakek/ nenek pernah bilang kam keturunan Batak? Tidak, kita beda dengan Batak. Jadi kenapa kam bilang kam Batak Karo? Karena memang katanya kita masuk Batak.

Sejauh apapun saya bertanya tetap dia mengaku Karo dan bukan Batak, tapi hanya ikut-ikutan saja ketika dikatakan Batak Karo. Padahal, sudah jelas dari kakek/ neneknya pun bilang kita Kalak Karo berbeda dengan Batak. Karena yang mereka tahu Batak itu adalah Toba atau Tapanuli atau Tebba, dan Batak Karo itu ya Karo.



Nah itu masih segelintir orang saja yang saya tanya. Saya kira ketidaktahuan dan ketidakpdulian itulah faktor yang paling besar membuat sebagian orang Karo menganggap remeh KBB. Faktor yang lain, mungkin karena masih berpikir negatif dengan gerakan KBB, yang mengira akan memecah belah suku, merusak hubungan kekerabatan dengan saudara atau keluarga yang sudah beberapa keturunan kawin campur antara Batak dengan Karo. Ini diasumsikan akan membuat hubungan tidak baik dengan Suku Batak yang tinggal di daerah yang sama, bertetangga, satu arisan, satu gereja, satu organisasi, dlsb.

Nah, yang golongan seperti ini, butuh waktu untuk merenungkan dan belajar mengubah mindsetnya jadi positive thinking. Kalau buat orang yang bukan Karo sich tidak perlu dibahas walaupun ada oknum-oknum yang suka ngeyel dan jadi kopi (korek api) yang siap meledakkan kompor yang disimpan di drum yang ditutup rapat tanpa ventilasi udara yang cukup.

HEADER: Instagram Suku Karo

VIDEO: Lagu, musik, dan tari tradiional Karo







1 COMMENT

  1. “Nah, yang golongan seperti ini, butuh waktu untuk merenungkan dan belajar mengubah mindsetnya jadi positive thinking.”
    “Ketidaktahuan dan tidak mau tahu.” Setelah saya renungkan, dan mencoba bertanya ke beberapa orang, sangat benar apa yang dikatakannya.- dari kolom Seriulina Karosekali di Sorasirulo.

    Fenomena ini adalah bagian dari fenomena internasional ‘political correctness’ (PC) dari The Establishment secara global, nasional dan juga secara etnis. Orang jadi takut, tetapi tidak mengerti mengapa. Secara internasional, presiden Trump sangat berjasa mengubah fenomena besar dunia yang sangat mengerikan ini. PC sangat mendalam pengaruhnya terutama tadi di AS, tetapi berangsur sudah bisa dikikis. oleh sikap tegas Trump.

    “When his supporters praised his honesty and bluntness, aka his political incorrectness, what they meant was his willingness to air bigotry as truth. For them, his public prejudice was a kind of liberation from an oppressive atmosphere of conformity.” lihat disini: ‘The Real Political Correctness’

    http://www.slate.com/articles/news_and_politics/politics/2017/09/the_real_political_correctness_is_what_put_trump_in_the_white_house.html

    Jadi jelas disini bahwa soal bigotry dan soal truth dibikin bingung (confusing). Confusion and divide and conquer adalah strategi utama neolib deep state. Kontra penjelasan dari Trump telah merupakan
    “a kind of liberation from an oppressive atmosphere of conformity.”

    Di Eropah terutama juga di Skandinavia masih sangat ketat PC mencekik kebebasan rakyat untuk berpikir bebas. Cengkeraman PC masih sangat kuat, belum ada Trumpnya, tetapi sudah bangkit makin besar gerakan nasionalisme Eropah Barat dan UE. NASIONALISME dan KETERBUKAAN merupakan musuh utama PC.

    Betul memang bahwa peningkatan pengetahuan dan keterbukaan dalam soal PC KBB adalah kunci selain menambah keberanian dan keterus terangan soal KBB.
    Ada penjelasan yang unik dari seorang antropolog USU soal Mandailing Bukan Batak, disini: http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2017/11/11/12745/mandailing_bukan_batak_kita_beda_leluhur_mengapa_harus_dipaksa_sama/

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.