Seorang teman baik di Kompasiana menyapa saya dengan istilah ‘Horas’. Dia tulis begini: “Horass Pak Ginting”. Saya juga menyambutnya, Horas juga Pak Tjip. Saya sangat senang mendengar sapaan ini, Pak Tjip. Di samping itu, saya merasa sangat berutang kalau tidak bikin sedikit penjelasan tambahan soal yang bagi saya atau juga mudah-mudahan bagi semua rakyat Bhinneka Tunggal Ika ini juga ikut bergembira dengan penjelasan sederhana ini he he he. Minta maaf sebelumnya, Pak Tjip.

Istilah sapaan ‘horas’ adalah bahasa suku Batak [Toba]. Suku yang bermarga ‘Ginting’ seperti saya adalah dari Suku Karo. Saya tidak mengerti Bahasa Batak, tetapi ‘Horas’ itu sudah terkenal dan sangat indah didengar.







Dalam Bahasa Karo (Suku Karo) sapaannya ‘Mejuah-juah’, walaupun di Sumut umumnya kita mengerti ‘Horas’ itu. Sapaan ‘Mejuah-juah’ jarang didengar, walaupun suku Karo termasuk pendiri kota Medan sendiri, suku asli di Medan. Tetapi ini tentu bisa juga diteliti dengan pelajaran tersendiri pula he he . . dari segi antropoligi, psikologi dan karakter suku-suku bangsa atau suatu bangsa.

Saya jadi teringat pula ketika perkawinan putri Presiden Jokowi dengan seorang pemuda bermarga Nasution dari Mandailing. Kobaran ‘Mandailing Bukan Batak’ jadi populer pula ketika itu, seperti di You Tube ini:



Jadi ‘rame’ ketika itu, Pak Tjip. Saya pribadi sangat senang melihat dan mendengar keramaian itu. Sungguh saya senang sekali. Kenapa?

Pertama, karena itu menunjukkan secara konkret (bukan dari segi teori sekolah tinggi atau teori-terori lainnya), tetapi curahan hidup isi hati manusia, dalam hal ini juga bisa dibilang ‘curahan kultur/budaya dari manusianya pemilik kultur budaya itu. Ini saya sangat menyukainya, curahan kultur budaya mana saja, nasional maupun internasional, suku mana saja, tarian, nyanyian, tradisinya, adat istiadatnya, way of thinkingnya, way of life-nya, saya sangat memuja dan menyukainya, terutama karena selalu dibarengi dengan emosi ‘ingin tahu’ dan keinginan ‘menikmati’. Dan curahan kultur/ budaya itu juga sepertinya sebagai pelajaran yang sangat berharga bisa bermanfaat bagi kita yang hidup di negeri Bhinneka Tunggal Ika. Begitulah pikiran saya.




Ke dua, kegembiraan juga bertambah di hati saya, karena anak-anak muda bangsa ini malah semakin tertarik untuk mendiskusikan, melihat dan mendekati secara konkret di mana dan sampai di mana pengertian yang sudah ada selama ini soal Bhinneka Tunggal Ika suku-suku bangsa ini dalam kehidupan sesungguhnya. Sepertinya pengetahuan konkret soal suku-suku itu adalah pengetahuan sebenarnya dari Bhinneka Tunggal Ika dalam praktek.

Ya, itulah saya pikir juga. Jadi lebih jelas lagi kalau Bhinneka Tunggal Ika itu bukan hanya simbol atau tata tertib teoritis. Prakteknya dalam kehidupan lebih nyata karena lebih dimengerti bhinnekanya/ perbedaannya sekecil apa sajapun, pasti lebih indah he he.

Banyak juga yang menilai kalau ‘gerakan’ Mandailing Bukan Batak, Karo Bukan Batak, Pakpak Bukan Batak, Simalungun Bukan Batak . . . adalah negatif karena dikhawatirkan bikin semacam perpecahan. Sebaliknya saya menganggap itu positif, semangat untuk mempelajari lebih mendalam tiap suku bertambah, pengetahuan konkret bertambah soal suku-suku bangsa, dan itulah dasar persatuan yang ilmiah dengan memahami perbedaannya yang lebih mendetil. Hanya ada keuntungannya, tidak ada kerugiannya menurut saya.

Dulu kita atau bahkan sampai sekarang masih pakai ‘suku Papua’. Tetapi ada ratusan suku di Papua. Mempelajari perbedaan ratusan suku itu . . . tak diragukan juga adalah keindahan sesungguhnya dari Bhinneka Tunggal Ika he he . . . dan pengetahuan ilmiah soal kultur.

Saya sekali lagi minta maaf, Pak Tjip, tambahan intermezzo ini.

Salam hangat, MEJUAH-JUAH.







Leave a Reply