Kronologis si dosen Filsafat UI yang mengatakan “Kitab Suci Itu Fiktif” (berhenti terus si doski tarik nafas entah mungkin si Rocky ini bengek atau apalah, dia lanjutkan kembali ucapanya), fiksi adalah imaginasi ke depan yang memicu kreativitas. ILC kemarin malam.

Saya yang nonton ILC langsung terbengong. Dalam hati pun berkata: “Wow, wes kentir tah wong iki?”.

Garis bawah “fiktif” dan “kreativitas”? Pengen marah, tetapi saya gak ingin membatalkan janji kepada anak saya, agar tidak marah meski apapun bentuknya.

Oww baru tau, ternyata kitab suci itu fiktif? Ternyata black hole di angkasa raya yang disebut di kitab suci saya itu fiktif. Termasuk air tawar dan asin yang punya sekat di lautan nan luas itu fiktif? Juga perahu Nabi Nuh yang mengarungi bahtera itu juga fiktif?

Memicu kreativitas?

Apakah kitab suci dan segala kalam Illahi itu “hanya” bentuk kreativitas? Apakah Tuhan itu hanya berkreasi untuk menunjukan jalan kebajikan dalam kehidupan di dunia? Mengapa Tuhan repot-repot berkreasi? Bukankah Tuhan itu adalah wujud cinta dan kebenaran hakiki?



Entahlah? Sedari kecil saya diajarkan untuk mempercayai Kitab Suci, seperti halnya keyakinan yang saya tanamkan kepada anak saya bahwa Kitab Suci itu fakta bukanya fiktif. Faktanya memang Kitab Suci yang saya yakini adalah FAKTA, bukanlah fiktif ataupun kreativitas manusia.

Endingnya amanlah dia dari demo dan laporan ke pihak kepolisian, karena si Rocky inilah mentor mereka untuk membully pemerintah yang saat ini berkuasa. Karena peraturan Bangsa Kamvret mengatakan:

  • Pasal pertama, kebenaran mutlak hanya milik Bangsa Kamvret dan sekutunya.
  • Pasal ke dua, bila Bangsa Kamvret melakukan kesalahan, maka peraturannya kembali ke pasal pertama.

Ah, sudahlah…. semoga si Rocky Gerung tidak kebablasan.

Salam Jemblem.







Leave a Reply