Semula Prabowo galau menjadi Capres. Ia lebih memilih menjadi ‘King maker’. Tetapi, para jenderal di sekitarnya bersuara keras. Letnan Jenderal Kopasus tidak pernah menyerah. Tidak ada dalam kamus Kopasus kata galau. Itu hal yang tabu, pantang dan memalukan.

Pertemuannya dengan Luhut memantik harga diri Letjen Prabowo. “Pangkostrad tidak boleh galau, bimbang dan menyerah. Maju sampai titik darah penghabisan. Bertarung hingga akhir hayat”.

Begitulah kata-kata menggelar Sang Letnan Jenderal Luhut Panjaitan. Mengapa Jenderal Luhut bertemu dengan Prabowo dan menyarankannya maju menjadi Capres?







Teka-teki pertemuan itu adalah menghindari adanya 3 Capres. Jika Prabowo tidak maju, maka akan ada kemungkinan 3 Capres. Menghadapi 2 Capres lainnya, kemungkinan Pilpres menjadi 2 putaran. Dan itu menyita energi Jokowi untuk memenangkan Pilpres. Ketika Prabowo maju, maka hampir bisa dipastikan hanya ada 2 Capres: Jokowi Vs Prabowo. Pilpres dipastikan hanya 1 putaran. Dan itu lebih mudah bagi Jokowi.

Dengan diberikannya mandat kepada Prabowo sebagai Capres oleh Gerinda yang dipastikan berkoalisi dengan PKS, maka mulailah tabuhan genderang perang. Adu strategi mulai dirancang. Para jenderal, ahli strategi perang Cina Kuno, Romawi Kuno, hingga strategi Vladmir Putin, Donald Trump di kedua belah kubu, akan bertarung sengit. Dari rangkaian tindakan dan sinyal yang terjadi, ada 7 strategi maut Prabowo dalam usaha menekuk Jokowi yang bisa dideteksi.

Pertama, Prabowo akan memilih jalan kanan habis-habisan. Ia akan merangkum semua elemen Islam yang tertekan menurut Yusril Izra Mahendera secara all out. Prabowo akan merangkum FPI, eks HTI dan semua pihak-pihak yang selama ini berseberangan dengan Jokowi. Mereka akan bersatu dan menggempur celah pertahanan Jokowi secara frontal. Dukungan menolak Perpu Ormas, menolak pembubaran HTI oleh Gerinda adalah contoh konkritnya. Pertemuan dengan Rizieq di Tahun 2017 dan pujian kepadanya sebagai seorang pemberani adalah fakta-fakta yang tidak dapat dibantah.

Ke dua, politisasi masjid akan kembali digaungkan. Politisasi masjid dengan kampanyes pembusukan: isu-isu PKI, utang, dan kriminaliasi ulama akan kembali dilakukan lebih hebat dan lebih spektakuler. Para relawan Prabowo yang terkenal lebih militan yang kebanyakan dari PKS akan kembali menggunakan strategi politisasi masjid ala Eep Syaifullah yang terbukti sukses menjungkalkan Ahok. Politisasi masjid adalah jalan yang sangat murah namun hasil yang gilang-gemilang.

Ke tiga, mengkampanyekan hastag ganti presiden. Tagar ini terbukti sukses membahana dan menggetarkan sosial media. Hastag ganti presiden 2019 terbukti mampu menohok Jokowi secara langsung. Ke depan hastag ganti presiden, akan lebih masif, terstruktur dan sistematis menghantam jantung pertahanan Jokowi. Hastag itu akan dikampanyekan di masjid dengan beragam cara. Hipnotisisasi tagar ganti presiden akan mengecaukan nalar orang-orang bodoh dan dungu.




Ke empat, merusak koalisi Jokowi. Calon pengkhianat Jokowi, Muhaimin Iskandar akan dipancing secara membabibuta agar berani mendikte Jokowi menjadi Cawapresnya. Ancaman pun sudah mulai ditebar oleh kubu Muhaimin. Pendirian posko Join, Jokowi-Muhaimin tanpa malu dideklarasikan. Pun ancaman PKB yang akan mendukung Prabowo jika Jokowi tidak memilih Muhaimin adalah sinyal intriknya.

Para Jenderal di kubu Prabowo paham betul bahwa Jokowi tidak mudah memilih Muhamin yang nol prestasi saat menjadi menteri. Oleh karena itu Jokowi dimasukkan dalam jebakan. Jika memilih Muhaimin, maka Golkar akan mengamuk karena ikut ngebet Cawapres juga. Itu bisa berujung goyahnya koalisi Jokowi. Sementara jika Jokowi tidak memilih Muhaimin, akan berujung pencabutan dukungan PKB.

Ke lima, memakai strategi Donald Trump yang menghantui dan menakut-nakuti masyarakat. Lontaran Indonesia bubar pada tahun 2030 adalah contohnya. Isu Indonesia bubar di tangan Jokowi jika menjadi presiden kembali akan dicoba dibuktikan dengan contoh-contoh penyerangan ulama, bergeraknya orang gila, dan menyebarnya teror di mana-mana. Isu bahwa presiden sipil tidak mampu mengatasi keadaan akan dibesar-besarkan. Sementara dewa penolong dari militer, satu-satunya jalan keluar.

Ke enam, Pilkada Juni 2018 akan menjadi pertarungan sengit. Jika kubu Gerinda, PKS dan koaliasinya akan banyak memenangkan PIlkada, maka tugas utama kepala daerah baru adalah mengkonsolidasi segenap kekuatan untuk melemahkan citra Jokowi di daerah masing-masing. Para kepala daerah yang dimenangkan Gerinda, PKS, PAN akan diperintahkan untuk memobilisasi kekuatan untuk mengalahkan Jokowi.

Ke tujuh, memancing terus-menerus Jokowi dengan fitnah, nyinyir, dan kritikan super pedas agar terpancing meresponnya dengan kata-kata blunder atau makian. Mereka akan menunggu dan menunggu Jokowi salah ucap, salah kata, salah respon dan sedapat mungkin dicoba di-ahok-kan. Segenal cyber army kubu Prabowo: Fahri, Fadli, Eggy Sudjana, akan merancang strategi untuk memancing amarah Jokowi. Dan ini sudah mulai terlihat ketika Jokowi berpidato di hadapan relawannya di Bogor. Di situ Jokowi terlihat emosional dan melakukan serangan balik dengan pidato berapi-api.

Adu strategi, adu taktik akan dimainkan oleh kedua kubu. Para jenderal, relawan, pendukung di kedua kubu akan melakukan segala macam cara untuk memenangkan Capresnya. Menghadapi taktik jitu Prabowo, tentu Jokowi tidak akan tinggal diam. Jokowi akan memainkan strategi 5 kebijakan populis.

Kita akan bahas bagaimana taktik tangkisan dan serangan balik plus strategi kebijakan populis Jokowi ala warga biasa pada tulisan selanjutnya.










1 COMMENT

  1. ‘Jebakan Muhaimin’ adalah jebakan paling jitu dari segi divide and conquer internasional. Tadinya memakai Rizieq, berhasil maksimal. Kalau pakai nama-nama lainnya seperti AR, GN, AH dll berangsur-angsur hilang begitu saja imbasnya tanpa hasil seperti yang diharapkan, dalam usaha menyingkirkan kekuasaan nasionalis Jokowi. Muhaimin akan dipakai dan dicoba sekarang. Pilihan ini memang sangat briliant, seperti biasanya taktik pilihan akan berimbas sangat crucial, disini terutama karena Muhaimin sendiri tidak sedar taktik internasional ini, dan sebab lainnya yang diharapkan ialah NUnya yang merupakan basis bersifat nasionalis bermassa banyak. Kalau taktik ini berhasil, Jokowi bisa goyah, lebih hebat dari goyahan Rizieq.

    Tetapi kalau sudah ketahuan begini dan kalau semakin banyak dari massa NU memahami taktik briliant ini, usaha divide and conquer satu ini juga akan gagal seperti usaha Rizieq. Muhaimin bisa jadi akan masuk kandang untuk selama-lamanya, tetapi jangan buronlah.

    ‘Dari isu ke isu’ . . . kali ini memang sangat jitu, tepat pilihan, Muhaimin dari PKB dengan basis NU massa banyak. Dengan mengadu domba dua pihak dan “With their eyes fixed on the issues, they fail to see who is behind every scene”, pengakuan seorang pemecah belah rakyat Amerika Serikat, lihat disini:
    https://www.henrymakow.com/000334.html

    https://www.facebook.com/WhoaretheKenites/photos/a.1006984649362005.1073741828.1006977722696031/1183188558408279/?type=3&theater

    Pembongkaran dan penelanjangan taktik dan strategi divide and conquer internasional ini memang perlu terus menerus dilakukan oleh publik yang luas untuk publik yang luas. Dan ini memang sudah mungkin sekarang di era keterbukaan dan era partisipasi publik ini.

    MUG

Leave a Reply