Tatanan yang diimaginasikan bersama bernama Negara adalah Fiksi, bahkan bisa terjun bebas ke dalam Ilusi, ketika yang di Imaginasikan bersama adalah Keadilan, yang nongol malah Tiran. Jadi, fiksi pada level tertentu sanggup membangunkan imaginasi manusia. Maknanya imaginatif dan pendulumnya bisa bergerak dua arah. Tinggal bagaimana yang mengimaginasikan mendorong arahnya agar sesuai dengan keinginannya.

Jika makna Imaginatifenya “Adil”, sementara realitasnya justru tidak adil, maka di sanalah gagalnya tatanan yang diimaginasikan.




Di negara macam Indonesia, arti sesungguhnya dari sebuah pemahaman menjadi “bias makna”, karena kita lebih banyak bermain di wilayah politik dari pada wilayah-wilayah lain macam sastra, filsafat, science, physicologi, antropologi, kosmologi, dll. Pemahaman kita dipersempit oleh kepentingan politik dukung mendukung, kubu mengkibu. Setiap ucapan bisa diperkarakan lewat logika nista seperti agama politik, ketika secara Independent kita berani menyampaikan atau meluruskan sebuah makna.

Mereka yang berani berdiri di tengah kepentingan politik yang sedang “bertikai” rebutan pengaruh selalu menjadi korban. Padahal, dalam pertikaiaan sengit selalu ada “poros tengah” yang muncul sebagai wasit, walaupun dia harus siap menerima pukulan dari kedua kelompok yang bertikai.

Begitulah ketika “Fiksi” diributkan dalam arena yang tidak mengenal ethic, hasilnya salto.

#Itusaja!








Leave a Reply