Setelah deklarasi pencapresan dirinya yang memang wajar karena beliau sebagai pemilik Gerindra, yang tentu saja merah hitamnya ada di genggamannya, lalu oleh pengikutnya diangkat. Beliau tanpa sungkan di hadapan ribuan pasang mata, laki-laki dan perempuan, membuka baju dan bertelanjang dada.

Prabowo yang memang kontroversial, yang kadang berpenampilan ala Bung Karno, yang bahkan oleh pengikutnya dianggap sebagai pemimpin yang mewakili Islam. Mewakili kesempurnaan sebagai seorang pemimpin sejati. Bahkan saking “mbilungnya”, beliau dikatakan sebagai Titisan Allah.







Jika mau mengamati sepak terjang beliau, dengan bertelanjang dada, sebenarnya itulah jati diri yang natural. Beliau bukan seorang Soekarno yang simpati dan cerdas dalam kepemimpinannya. Beliau bukan seorang orator yang intelektual. Ketika bertelanjang dada dengan tubuh penuh lemak, kita bisa menilai bahwa beliau adalah seorang manusia “sak karepe dewe”.

Lalu adakah pesan yang ingin disampaikan?

Jika pemimpin yang suka bermain-main dengan simbol seperti halnya Pak Jokowi, Prabowo bertelanjang dada bisa diasumsikan beliau siap On Air bertarung habis-habisan. Bertarung sampai titik darah terakhir. Bertarung hidup mati demi kesempatan terakhir. Kayak film Die Hard lah kira-kira.

Yang jadi soal adalah, hingga kini nampaknya PKS dan PAN masih lirik kanan kiri belum bersuara lantang mendukung Prabowo. Kedua partai tersebut ditenggarai cenderung ke lain hati mencari kandidat yang lebih fresh dan mempunyai logistik yang juga fresh untuk bisa dicabik-cabik.

Jadi, jika demikian bertelanjang dadanya Prabowo untuk apa? Semoga sih tidak lagi galau-galau Bandung. Bagaimana?








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.