Kolom Eko Kuntadhi: KONTEKS PARTAI GENDERUWO

0
95

Rocky Gerung bicara soal kitab suci adalah fiksi. Orang protes. Tapi pembelanya mengarahkan perdebatan pada definisi fiksi. Amien Rais bicara mengenai Partai Allah dan partai setan. Orang juga protes, tapi pembelanya mengarahkan pada dalil-dalil Alquran soal hizbullah.

Para pembelanya selalu ingin melepaskan omongan itu dari konteksnya. Lalu mengajak orang hanya berkubang dari definisi ke definisi. Padahal mudah saja. Memahami apa yang dikatakan keduanya, cobalah tarik dari konteksnya. Dalam suasana apa omongan itu dilontarkan? Agar kita tidak orang mabuk, muter-muter gak karuan dalam kubangan kata.







Begini. Rocky bicara kitab suci adalah fiksi, karena ingin melakukan pembelaan pada Prabowo yang membuat pernyataan bahwa Indonesia bubar 2030. Pernyataan itu bukan datang dengan rangkaian data ilmiah dan otentik, tapi hanya berdasar kitab fiksi.

Karena Rocky ingin mengatakan tidak ada yang salah sebuah kitab fiksi dijadikan rujukan prediksi masa depan, maka dicarilah alasan bahwa kitab suci juga fiksi. Toh, masyarakat beragama percaya kitab suci. Lalu, apa salahnya Prabowo dengan referenai fiksinya?

Begitukah jika kita melihat sebuah pernyataan dari konteksnya.

Amien Rais juga bicara soal Partai Allah dan partai setan. Dia mungkin mengutip istilah Alquran, yang bicara soal hizbullah dan hizbutsy shyaitan. Tapi dia memperkuat konteks pembicaraan. “Bukan hanya PAN, PKS dan Gerindra. Tapi semua yang kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah (partai Allah)…”

Tentu saja orang gampang menangkap makna yang disampaikan Amien Rais ini. Dia menuding partai selain PAN, Gerindra dan PKS termasuk partai setan.

Tapi para pembelanya, sekali lagi, berlindung di balik konten. Mereka menyodorkan ayat Alquran yang mengulas soal golongan Allah dan golongan setan. Lalu merasa apa yang disampaikan Amien itu ada rujukannya dalam Alquran.

Ini adalah cara melepaskan makna kata dari konteksnya. Cara melepaskan sebuah omongan dari motifnya.

Amien dan Rocky tidak bicara seperti itu di ruang kelas yang terlepas dari kepentingan dan syahwat. Rocky bicara seperti itu dalam acara debat TV yang bertema politik. Amien juga bicara seperti itu di depan jamaah 212 yang dibentuk karena syahwat politik. Jadi, akan terasa lucu, jika sebuah statemen yang terasa keberpihakannya itu, kita malah digiring untuk menempatkan Rocky dan Amien sebagai resi yang lepas dari interest politik.

Kata-kata mereka berdua dilepaskan dari konteksnya. Ini benar-benar pengecohan yang lucu.




Yang menyebalkan adalah para pembela Amien yang menuding orang yang mengritisi omongan itu akibat gak baca Alquran atau tidak memahami makna hizbullah dan hizbutsy syaitan. Mereka mau main-main dengan ayat Alquran, lalu bersembunyi di baliknya, untuk menyembunyikan sebuah motif. Dengan demikian mereka sudah terbebas dari beban konteks ketika pernyataan itu disemburkan.

Pola pernyataan seperti ini akan terus dimainkan. Ke depan akan banyak lagi omongan ngawur, lalu ketika jadi masalah, akan dilakukan pembelaan dengan melepaskan diri dari konteksnya.



Ada anggota dewan dari PKS yang saling bertelepon, bicara tentang juz dan liqo. Jika kita lepaskan pembicaraan itu dari konteksnya, omongan itu sungguh syar’i. Ini jenis omongan para ustad dan jamaah yang taat.

Tapi, KPK menemukan konteksnya. Makna liqo dan juz dibicarakan untuk menggarong duit negara. Tidak salah jika KPK menyeretnya ke meja hijau.

“Lho, juz itu kan bermakna bagian dari Alquran. Liqo itu pengajian. Apa salahnya orang PKS membicarakan soal quran dan pengajian?”

Woii, kampret. Anggota parlemen dari PKS itu udah nyolong duit negara sekian ‘juz’. Untuk merencanakan merampokannya mereka berkali-kali mengadakan ‘liqo’. Jadi jangan sok suci dan sok hebat, mau melakukan pembelaan kepada koruptor dengan cara melepaskan istilah ‘juz’ dan ‘liqo’ dari konteks pembicaraan mereka.

“Mas, kalau soal Capres telanjang dada, itu konteksnya apa?”

“Pamer puting. Biar mirip Putin, mbang…”







Leave a Reply