Kolom Eko Kuntadhi: SLOGAN PERPECAHAN FELIX SIAUW

1
377

Suriah saat ini sedang dibombardir AS, Inggris, Perancis, Saudi dan Israel. Polanya sama, atas tuduhan penggunaan senjata kimia di Douma, Ghauta Timur. Padahal pasukan pemerintah Suriah telah berhasil mendesak mundur para jihadis yang mengacau di sana.

Seperti biasa, jika jihadis ISIS, Alqaedah atau Jabra Nusra terdesak oleh tentara pemerintah, tuannya akan datang membantu. Caranya dengan menyebar isu senjata kimia. Padahal buat apa senjata kimia? Wong pasukan pemerintah sebentar lagi menguasai kota itu.







Tapi itulah watak bengis AS dan sekutunya. Sehari setelah membuat isu senjata kimia, dengan video palsu dan disebarkan oleh media propaganda, tanpa cek dan ricek, tanpa persetujuan PBB mereka langsung menghujani Suriah dengan rudal. Ratusan rudal ditembakkan dengan sasaran siapa saja. Ratusan rakyat Suriah bergelimpangan.

Lalu para kampret di sini berteriak, ini adalah konflik Suni-Syiah. Mereka mengehembus-hembuskan perpecahan umat Islam, untuk membantu agresi AS dan sekutunya ke negeri berdaulat itu. Mirip anjing yang menjaga kepentingan tuannya.

Jika benar konflik antar mazhab, apa pentingnya AS dan sekutunya ikut dalam perang Suni-Syiah? Apakah Donald Trump sekarang sudah menjadi Suni?

Mana peduli AS dan sekutunya dengan aliran dan mazhab agama. Yang mereka pedulikan hanya minyak yang mengalir di tanah-tanah Suriah. Atau wilayah yang dilewati pipa gas dari Timteng menuju Eropa. Yang mereka perebutkan adalah wilayah untuk menguasai Timur Tengah. Yang mereka pedulikan adalah merampas harta dan kekayaan rakyat Suriah.

Sama seperti Irak atau Libya. Setelah dihancurkan oleh AS dan sekutunya dengan dasar informasi palsu –sampai sekarang senjata pemusnah massal di Irak tidak pernah ditemukan padahal jutaan rakyat Irak jadi korban– para baron minyak dan mafia kapitalis berebutan membagi-bagi proyek di sana. Mereka seperti burung bangkai yang memangsa jasad warga Irak.

Felix Siauw bilang para pemberontak di Suriah adalah mujahid yang mau menegakkan syariat Islam. Artinya pasukan ISIS dan Al Qaedah serta antek-antek sejenisnya, bermaksud menegakkan syariat Islam di Suriah atas bantuan AS dan Israel?

Di Libya, Hizbut Tahrir memprovokasi masyarakat untuk berontak kepada Khadafi. Mereka merancang perpecahan. Ada demontsrasi kecil yang dijadikan alasan AS untuk mengirim tentaranya ke sana. Lalu mereka menghancurkan negeri itu. Khadafi tumbang. Kini masyarakat Libya hidup dalam kehancuran dan kenestapaan. Kekayaannya dirampas asing.

Padahal di jaman Khadafi, Libya adalah salah satu negeri termakmur di Afrika. Rakyatnya hidup berkecukupan dan semua bahan makanan tersedia. Kini di jalan-jalan Tripoli kekacauan terjadi. Bahan makanan minim. Sekolah dan infstruktur hancur. Masa depan mereka suram.

Ke mana Hizbut Tahrir yang dulu mengompori rakyat Libya? Mereka melepas tanggungjawab. Mereka hanya menjadi oli untuk memuluskan langkah agresi AS dan sekutunya merampas kekayaan Libya.

Kini Felix Siauw –aktifis HTI– teriak-teriak soal pertikaian antar mazhab di Suriah. Sebentar lagi para penjaja sedekah akan bergentayangan menjual penderitaan rakyat Suriah lalu sebagian sumbangan kita akan disalurkan untuk gerombolan jihadis. Mereka saling bergandengan tangan dengan AS, Saudi dan Israel untuk merusak negeri itu.




Propaganda konflik antar-mazhab ini memang selalu diteriakkan para burung bangkai untuk mengompori kebencian diantara umat Islam. Mereka senang jika sebuah negeri yang tadinya aman, makmur dan hidup penuh kedamaian, berubah menjadi neraka.

Herannya, mereka masih saja menjajakan surga. Padahal mereka sedang membantu menciptakan neraka di Suriah. Contohnya, tulisan Felix itu, dishare oleh ribuan orang. Untuk menggesekkan kebencian antar mazhab di sini. Sedangkan informasi pembandingnya, mungkin sebagian besar kita malah men-share. Wajar saja jika publik termakan kampanye Felix.




Di Indonesia, polanya sama saja. Mereka melempar isu perpecahan di kalangan umat Islam. Memanaskan kebencian rasial. Memercikkan api permusuhan. Menggosok-gosok emosi untuk saling mencurigai. Topengnya seruan jihad dan penegakkan syariat. Padahal yang diusahakan adalah penghancuran sebuah negeri untuk dirampok kekayaannya.

Mereka menjajakan surga, dengan cara menciptakan neraka. Herannya masih banyak orang Indonesia yang mau dicekoki dengan slogan bodoh tapi membius seperti ini. Bersyukurlah HTI sudah dibubarkan di Indonesia.

Kita berharap semoga PBB bukan menjadi lembaga mandul yang membiarkan pembantaian para agresor merusak sebuah negeri berdaulat. Kita berharap dunia membiarkan Suriah menentukan masa depannya sendiri. Mencari jalan damai untuk masyarakat yang beradab.

Tanpa ISIS, tanpa Alqaedah, tanpa Hizbut Tahrir. Juga tanpa intervensi AS dan Israel.







1 COMMENT

  1. Usaha perpecahan selalu dari agen internasional divide and conquer. Usaha dan cita-cita meng’Libya’kan Indonesia masih terus setelah berhasil 1965. Berbagai usaha perpecahan dengan menggunakan orang-orangnya di dalam negeri demi duit, duit, power, power, dan ke tujuan bangun NWO dan menguasai Indonesia sepenuhnya.

    Bos besar NWO sudah bilang kalau rencana itu sudah ‘collapsing’. Dan memang terlihat sekarang ini, kalau penggiat NWO ini semakin kalap dan desperat mengelabui dan menipu rakyat banyak dengan berita-berita palsunya. Contohnya tindakan sekarat ini ialah team white helmets di Syria. Mereka bikin fake news terang-terangan saja dihadapan orang banyak. Mengharapkan masih ada banyak orang diluar sana bisa dibohongi.
    lihat disini: https://www.mondialisation.ca/syria-and-the-white-helmets-fake-humanitarian-entity-supported-by-us-nato-a-politically-motivated-hoax/5552246

    atau disini juga: https://www.globalresearch.ca/heres-why-chemical-attack-in-syrias-douma-is-just-another-fake-news-from-white-helmets/5636060

    Kalau ada tim white helmet di Indonesia tentu cepat sekali bisa ditelanjangi dan ditumpas oleh aparat keamanan, seperti ratusan ribu akun berbiaya tinggi Saracen dan juga Muslim Cyber. Itulah hebatnya publik Indonesia dan aparat keamanannya.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.