Memang kenyataan tidak memiliki perasaan. Para kuli membangun gedung-gedung besar dan mall-mall mewah, tapi rumah reot yang ia tinggali. Para nelayan menangkap ikan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa, tapi kelambatan pertumbuhan dan kebodohan yang ia dapati.

Para petani menanam padi untuk mengenyangkan perut para abdi negeri, tapi kelaparan yang ia alami.

Hasil kerja bukan untuk penghidupan diri mereka sendiri, tetapi untuk kekuatan asing di luar diri mereka yang membuat mereka semakin miskin. Semakin mereka mengembangkan kerja, semakin tercerabut fisik dan mentalitasnya. Kehidupan batiniah bertabrakan dengan penyempurnaan hakikat kemanusiaan yang terdalam.

Mereka pun pantas mengeluh dengan menunjuk roh pengetahuan dan keadilan sebagai juru bicaranya.

Kapankah semangat zaman merekah, mengantar kami menuju altar kemerdekaan dan kejayaan sejati? Apakah alam raya betul-betul bisu dan tuli, abai lagi tak peduli? Betulkah negeri yang begitu subur ini mengidap kutukan tak henti-henti?

Lingkaran setan kemiskinan, kebodohan dan kekerasan, yang tak memiliki ujung dan pangkalnya merantai kuat nasib anak negeri.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.