Jokowi bicara soal racun Kalajengking, lalu ada orang yang melecehkannya. Mereka mengecilkan arti pentingnya sebuah informasi. Padahal, informasi yang disampaikan oleh Presiden cukup valid. Di dunia saat ini, racun Kalajengking merupakan cairan termahal yang harganya gila-gilaan. Menurut sebuah situs harga racun Kalajengking mencapai US$ 39 juta per galon.

Jika dirupiahkan, sama dengan setengah triliun lebih.

Sekarang, malah lebih mahal lagi. Harga racun kalajengking per kilogram mencapai Rp 145 milyar. Bayangkan. Setya Novanto saja harus mendekam di penjara 15 tahun mencoleng duit sekian ratus miliar dari proyek e-KTP. Kalau kamu punya seliter racun Kalejengking, rasa-rasanya gak perlu jualan bubur lagi seumur hidup.

Masih gak percaya? Buka saja situs Alibaba dan coba telusuri. Untuk racun Kalajengking ada orang yang memasang harga US$ 50-200 per gramnya atau setara Rp 700 ribu sampai Rp 2,8 juta segram. Harga emas saja sekarang cuma Rp 630/ gram.

Soal bagaimana kita memproduksinya, tentu ini soal lain. Tapi sebagai sebuah informasi, racun Kalajengking harganya sekarang sedang mahal-mahalnya.




Dunia kedokteran, misalnya, berhasil membuat obat kanker otak yang bahannya dari racun Kalajengking. Racun bekerja untuk mematikan sel-sel kanker.

Enzim dan protein yang terkandung dalam zat itu memiliki kemampuan penyembuhan yang luar biasa. Karena tidak mudah memanennya, harga produk ini jadi sangat mahal. Sekali perah satu Kalajengking hanya menghasilkan 0,05 gram racun.

Peneliti Maroko berhasil membuat semacam robot untuk mempermudah proses pemerahan racun. Mereka memasang alat pada ekor hewan. Jika dilakukan dengan cara tradisional sebuah peternakan Kalajengking hanya mampu memanen 22 ekor dalam sehari. Dengan alat ini bisa meningkat sampai 150 ekor yang diperah.

Saya ingin mengatakan informasi yang disampaikan Presiden di depan para Bupati dan Gubernur kemarin sangat valid. Kabarnya di India dan Pakistan ada perusahaan yang berinvestasi serius membangun peternakan Kalajengking hitam. Mereka menanamkan duit jutaa dolar, mendatangkan para ahli dari seluruh dunia, dan juga mencoba berbagai cara agar produksinya maksimal.

Bukan apa-apa. Jika dalam setahun saja perusahaan itu berhasil memanen 1 galon racun kalajengking, penghasilannya minimal sampai setengah tiriliun rupiah lebih.

Sementara masyarakat di desa-desa kecil Pakistan dan Bangladesh, juga menjadikan berburu Kalajengking sebagai mata pencariannya. Mereka berburu Kalajengking hitam yang bisa dijual dengan harga tinggi.

“Jika saya berhasil mendapatkan Kalajengking hitam dengan berat 100 gram, itu cukup membiayai tiga bulan kebutuhan kami,” ujar seorang penduduk. “Biasanya penduduk akan heboh dengan berita itu.”

Memang sih, jika kita lakukan perburuan di alam liar, itu akan sangat membahayakan ekosistem. Tapi bukan tidak mungkin metode peternakan bisa dikembangkan.

Bagi saya, informasi ekonomis soal racun kalajengking yang disampaikan Presiden jauh lebih segar ketimbang kasiat pipis Onta. Jika Anda pengemar pipis Onta, mungkin memang belum bisa memahami informasi ekonomis dari Jokowi itu. Kita maklum, sih. Bisa jadi kualitas penangkapan seseorang bergantung dari zat yang sering diteguknya.

Ketika Jokowi bicara soal Kalajengking, saya mengira dia mulai bergeser –dari fans Metalica menjadi fans Scorpion.

Jokowi, Still Loving Youuuu…







1 COMMENT

Leave a Reply