Kolom Eko Kuntadhi: KISAH TENTANG SAHABAT

0
516

Benar saja, pertemuan dengan Ahok siang tadi banyak dihiasi dengan guyon. Obrolan ringan dan ceplas ceplos, saling ledek dan menertawakan keadaan. Seperti bertemu teman lama. Sebelum pertemuan, kami semua sepakat nanti jangan pernah menyinggung persoalan pribadi Ahok. Menurut kami itu akan membuat obrolan jadi gak enak.

“Gimana kabarnya, Pak Ahok? Semakin sehat keliatannya,” ujar Permadi Arya, membuka pembicaraan.

“Lu gak liat gue seger begini? Duda kan harus selalu ceria,” jawab Ahok spontan. Kami semua tertawa mendengar jawaban itu.

“Pak Ahok, tadi kami sepakat gak mau omongin soal masalah pribadi. Eh, malah Pak Ahok yang bicara duluan. Hahahahhaha…,” Denny Siregar gak tahan untuk diam.







Melihat Ahok siang itu, ada sedikit perubahan dibanding beberapa bulan lalu. Badannya lebih gemuk, mungkin naik sekitar 5 kiloan. Kulitnya mulai memerah lagi karena terjemur matahari. “Sekarang udah hitaman lagi. Kalau musim hujan, gue putihan. Karena jarang olahraga di luar.”

“Kalau badan makin gemuk, kayaknya udah kerasan di sini, Pak?” sambung saya.

“Lha, kerjaan gue di sini ngapain? Makan, baca buku, nulis, tidur. Gimana gak gemuk?”

Lalu obrolan mengalir. Ahok berkali-kali bicara jika kembali ke masyarakat nanti, dia lebih suka menggunakan nama Basuki. “Ahok akan jadi brand aja. Misalnya, jadi mata acara Ahok Show,” ujarnya.

Birgaldo Sinaga mulai membuka obrolan nyerempet-nyerempet politik. Bahkan menanyakan perasaan Ahok mengenai Jokowi. “Kita ingin tahu perasaan terdalam Pak Ahok tentang Pak Jokowi,” tanyanya. Kami semua seperti menunggu apa reaksi mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

“Jika gue ditanya siapa sahabat gue, gue akan jawab: Jokowi. Gue yakin Jokowi juga akan menyebut nama gue ketika ditanya hal yang sama,” katanya yakin.

Kata-kata itu disampaikan dengan cepat. Tadinya mungkin kita menyangka ada nada kekecewaan dalam jawaban Ahok. Wajar. Dia kini jadi pesakitan. Sedang karir politik Jokowi moncer. Nyata sama sekali gak tergambar. “Pak Jokowi itu pemimpin yang bagus. Dia gak pernah menyalahgunakan kekuasaanya untuk kepentingan sendiri. Makanya gue juga ikhlas,” lanjutnya.

“Maksudnya, pak?”

“Dalam politik susah mencari sahabat sehati, kebanyakan hanya berorientasi kepentingan. Bagi gue, Jokowi itu seorang sahabat. Dia tulus. Makanya kita harus memahami posisi masing-masing. Itulah arti sahabat.”

Di mata saya, Ahok seperti ingin mengatakan, meskipun sedang menghadapi suasana yang tidak menyenangkan, dia sama sekali tidak kehilangan kepercayaan terhadap sahabatnya.

Iya, apa yang dialami Ahok, akibat dari kedegilan politik memang telah merusak sendi-sendi keadilan negeri ini. Meski telah ditetapkan bersalah oleh pengadilan, di mata saya Ahok hanyalah korban dari kedegilan itu. Keadaan memang tidak berpihak kepadanya.

“Kalaupun gue gak ngomong di Pulau Seribu, akan dicari juga masalah lain. Gue akan diobok-obok terus.”

Ahok selalu meyakini persahabatannya dengan Jokowi tidak pernah terganggu dengan hingar bingar suasana politik. Meski keduanya kini ada dalam posisi berbeda, tapi mereka jalani semua dengan perasaan yang jembar. “Kalau sahabat kita sedang menjalankan amanah buat bangsa, kita jangan ngegerecokin.”

Saya melirik mbok Niluh Djelantik yang sedari tadi duduk di sebelah Ahok. Matanya sedikit memerah. Rupanya kata-kata Ahok mengenai arti persahabatan sangat menyentuhnya. Soal komitmen persahabatan dikukuhkan oleh seorang pesakitan kepada sahabatnya yang sedang duduk di posisi tertinggi pemerintahan. Dan itu semua tidak membuat Ahok kehilangan kepercayaan.

“Saya makin respek pada keduanya. Pak Ahok dan Pak Jokowi. Betapa indah persahabatan mereka. Betapa berat ujiannya. Tapi mereka tetap yakin satu sama lainnya,” bisiknya pelan.

Setelah beberapa teman meminta sedikit oret-oretan Ahok sebagai kenang-kenangan, kami pun pamit pulang. Ahok bangkit, berdiri di dekat pintu menyalami kami satu-satu.

Sore hari, ketika berjalan pulang dari Mako Brimob, kami memdengar berita soal SP3 Rizieq yang dikeluarkan Polda Jabar. Atas berita itu, ada Ahoker yang marah dan kecewa. Mereka beranggapan kondisi ini wujud ketidakadilan. Ahok di penjara. Sementara Rizieq dapat SP3.

Sialnya, ada sebagian orang yang menyalahkan Jokowi. Ujung-ujungnya malah menyerukan Golput karena kekecewaanya itu. Bagi saya itu adalah cara berfikir ngawur.




Anggapan bahwa kasus SP3 Rizieq bisa dihubung-hubungkan dengan Jokowi, sama saja berasumsi bahwa Presiden bisa sembarangan masuk ke wilayah hukum. Itu tandanya mereka sama sekali tidak mengerti bagaimana selama ini Jokowi menjalankan kekuasaan.

Kekecewaan pada Jokowi karena dianggap membiarkan SP3 Rizieq keluar, sesungguhnya juga semacam pikiran bahwa Presiden bisa mengintervensi kasus hukum. Justru jika Jokowi melakukan itu dalam menjalani kekuasaanya, saya adalah orang pertama yang kecewa. Kekuasaan yang berdiri di atas hukum, bagi saya amat tidak menarik untuk dibela.

Saya merasa penting untuk terus berdiri di belakang Jokowi, justru ketika dia sama sekali tidak menggunakan kekuasaanya untuk mencari keuntungan politik.

Jokowi konsisten menjalankan fungsi-fungsi kekuasaan. Dia berjalan di jalur eksekutif. Sementara jalur yudikatif dibiarkan punya otoritas sendiri. Jadi, jikapun polisi mengeluarkan SP3 buat Rizieq dalam salah satu kasusnya, saya memandangnya itu murni soal teknis hukum dan penyidikan. Tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kekuasaan Presiden.

Kita bisa membangun fikiran begini. Kasus Penistaan Pancasila yang terjadi pada 2011 dan baru dilaporkan pada 2016. Bukti laporan yang dibawa hanya potongan video ceramah Rizieq. Padahal semua tahu, sebagai barang bukti diperkukan video asli. Jika tidak ada, potongan video itu tidak ada harganya sama sekali di mata hukum.

Nah, jika barang bukti yang disodorkan gak kuat, apakah bila polisi tetap ngotot meneruskan kasus ini tidak malah merugikan secara hukum? Bukankah di tangan polisi sekarang ada 8 kasus lain berkenaan dengan Rizieq? Termasuk kasus mesum itu.

Ada teman bertanya: “Apakah sedang terjadi ketidakadilan kepada Ahok? Dia dihukum sementara orang yang begitu membencinya dapat SP3? Buni Yani juga tidak dipenjara.”

Jawaban saya jelas, hukum memang tidak berlaku adil kepada Ahok. Sebagaimana hukum kita belum bisa berbuat adil ke rakyat.

Tapi ketidakadilan itu jauh dari jangkauan kekuasaan seorang Prasiden. Hukum berjalan di relnya sendiri, politik berjalan di tol yang beda lagi.

Suatu keanehan jika kekecewaan kita pada ketidakadilan hukum, terlontar menjadi ajakan politis. Sok menghubung-hubungan dengan kekuasaan. Apalagi sampai Golput.

Kalau orang yang tadinya pendukung Ahok lantas mau Golput. Atau beralih jadi mendukung Anies Baswedan, itu silakan saja. Ini negara demokrasi. Atau Anda beralih mau jadi aktifis PKS atau FPI, monggo. Gak ada yang larang.




Tapi menggunakan alasan keluarnya SP3 Rizieq sebagai dasar, itu sama saja menunjukan kekonyolan. Apalagi berkoar-koar di medsos, menumpahkan kekecewaan berlebihan. Bahkan mengkait-kaitkan dengan Jokowi segala.

Anda seperti ingin memperhadapkan dua orang sehabat. Padahal persahabatan mereka sudah teruji waktu. Keduanya juga bukan anak kemarin sore dalam politik. Mereka bukan orang naif yang saling memanfaatkan. Sahabat jauh dari sikap seperti itu.

“Jika gue ditanya siapa sahabat dalam politik. Jawabnya: Jokowi!” ujar Ahok siang itu. Yakin.

Sama kalau orang bertanya ke saya, siapa sahabat yang menyebalkan tapi bikin kangen? Jawabnya juga jelas: Abu Kumkum!

“Kalau Rizieq dapat SP3, saya juga dulu waktu sekolah sering nunggak SPP, mas. Biasa aja. Gak ada yang ngajak Golput, tuh,” ujar Abu Kumkum.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.