Jadi begini, demi meluruskan salah samsung, eh salah sambung sekaligus salah somad, eh salah lagi. Maka ijinkan saya menulis opini tentang salah sambung yang menyebabkan banyak salah paham di antara anak negeri.

Kita mulai dari gagalnya negara melindungi segenap warga negara dan seluruh tumpah darah Indonesia hanya karena salah sambung soal “Imaginary Friends” macam Tuhan.

Mengapa negara bisa gagal?







Argumen pertama, karena Negara tidak sanggup menjadi wasit yang netral, para penyelenggara negara yang tidak sanggup memisahkan mana wilayah “personal” dan mana wilayah “public” adalah alasan fundamental mengapa negara tidak bisa bertindak sebagai wasit yang netral.

Argumen ke dua, kitab suci posisinya lebih tinggi dari kitab konstitusi. Inilah yang kemudian menyebabkan mengapa menggunakan “kopeah putih” lebih percaya diri dari pada menggunakan helm dalam berkendara. Polisi yang bertugas di perempatan jalan cuman bisa bengong menyaksikan fenomena itu, tidak bisa mengambil langkah tegas, karena takut dicap menghina simbol agama.

Argumen ke tiga, sebenarnya kalau mau jujur, kita masih belum punya negara, yang ada baru sekelompok manusia yang berkuasa di atas manusia lainnya.

Hasilnya, ketika kelompok yang sedang berkuasa dikritik oleh kelompok manusia yang masih mengincar kekuasaan, hasilnya selalu terjun ke wilayah “personal” sehingga pertengkaran antar geng tidak bisa dihindari.

Ke empat, dasar dari berdirinya negara ini adalah HOAX, sehingga tidak heran jika rakyatnya lebih doyan mengkonsumsi hoax dari pada mengkonsumsi informasi yang valid. Bisa diverifikasi kebenarannya. Sementara HOAX tidak bisa, karena Hoax itu adik kandung dari Fiktif.

Argumen ke lima, tidak heran jika salah paham dan salah sambung adalah produk turunan dari HOAX. Kelompok A mencibir kelompok B sebagai biang HOAX, da vise versa. Sementara rakyat yang masih waras tentu saja menjadi penonton yang baik dan santai. Inilah karakter mental Indonesia. Sebenarnya tidak ada yang benar-benar serius dalam kesadarannya, karena pada dasarnya memang belum sadar.

Kesimpulan, jadilah manusia Indonesia yang terus belajar, jangan takut ketika anda berbeda dengan arus utama, karena ternyata kedamaiaan itu bukan berada dalam arus utama, tapi menciptakan arus sendiri walaupun hanya anda sendiri yang mengalir di sana.

#Itusaja!







1 COMMENT

  1. Ketika MSM (Main Stream Media) AS bikin hoax pada zamannya he he . . .
    Tiap zaman, media ini selalu bikin hoax, zaman dulu maupun zaman sekarang. Bedanya ialah kalau dulu belum ada yang menelanjangi, sekarang terus menerus ditelanjangi oleh publik yang luas lewat media independen maupun media alternatif lainnya. Hoax buatan MSM atau CMMM (The Controlled Major Mass Media) ‘provides powerful mixed messages that are selectively perceived and internalized by each emergent group’. Kedua grup dipersiapkan ‘modal’ untuk bertempur (mind control).

    Jadi kelompk yang mempersiapkan ‘pertempuran’ (divide and conquer) itu adalah grup yang menguasai dan mengontrol MSM yaitu grup neolib/deep state. Fenomena pecah belah ini sangat marak sekarang di AS, terutama karena Trump memenangkan pilpres lalu. Sebelumnya kegiatan divide and conquer ini hanya terpusat diluar AS. Sekarang semua kegiatan divide and conquer di AS ini dipusatkan untuk menjatuhkan Trump. Contohnya ‘perkelahian buatan’ di Charlottesville tahun lalu. Trump disalahkan dari semua segi oleh MSM. Padahal huru-hara direkayasa oleh mereka sendiri.Tetapi penelanjangan juga semakin gesit atas kekuatan divide and conquer deep state ini. “The only reason why a small group of evil men have been successful in ruling the world is because they understand human psychology and economics” lihat disini: http://www.jesus-is-savior.com/False%20Religions/Illuminati/nwo_basics.htm

    Semua kegiatan divide and conquer neolib ini, sejak dulu kegiatannya selalu fokus atau difokuskan di luar negeri bukan di AS. Adanya di AS sekarang ini adalah karena keberadaan Trump di Gedung Putih sebagai seorang nasionalist anti globalist. Trump sudah menjadi duri dalam sepatu. Kegiatan divide and conquer terpaksa juga diadakan di AS, walaupun fokus selalu di luar negeri karena tujuannya memang bikin NWO, juga terutama sekali negeri-negeri kaya SDA (kekayaan dan duit untuk modal pecah belah). Di Indonesia seperti 1965, akun mahal Saracen, teror Thamrin, Muslim Cyber Army, HTI, gerakan makar 411, 212, berita hoax Jokowi komunis dsb dsb, dalam rangka pecah belah, ngacau untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.