Mungkin kamu bahagia waktu kepemimpian DKI berganti. Jakarta akan lebih tertata bersih indah Islami. Gubernurnya seiman membanggakan. Transparansi anggaran dan pembangunan meningkat. Warga lebih mendapat pelayanan maksimal dari aparat. Akhlak sang pemimpin menjadi cermin, teladan mulia bagi siapa saja.

Waktu pun bergulir…

Dan, banyak orang mulai berfikir. Dimanakah hubungan kampanye tentang pahala dan dosa dalam sebuah Pilkada? Kini saat secawan anggur direguk yang terpilih di kursi empuk, para pemilih bertanya-tanya angin surga yang mana yang bisa nyata hembusannya. Ketika harapan jadi kebalikan, barulah terasa semua ada palsu-palsunya.







👉Anggaran DPRD DKI naik 10 kali:
zaman Ahok Rp 8,8 milyar menjadi Rp 107,7 milyar.
👉Reses DPRD:
Masa Ahok Rp 34,96 miliar sekarang Rp 69,3 miliar.
👉Pembahasan Pansus dan Lainnya:
Masa Ahok Rp 2,29 miliar, kini Rp 29,25 miliar.
👉Pembahasan Banggar :
Rp 4,23 miliar menjadi Rp 16,2 miliar.
👉Bamus :
Masa Ahok Rp 3,64 miliar, menjadi Rp 15,24 miliar.
👉Pengelolaan website DPRD:
Zaman Ahok Rp 31 juta , kini Rp 571 juta.

Setelah membaca data ini, kita melihat sesuatu… melambung jauh, terbang tinggi bersama mimpi. Terlelap dalam lautan emosi… (kenapa Anggun C. Sasmi resmi pindah kewarganegaraan? Mungkin dia ill feel menemukan sendiri apa yang semula cuma dalam nyanyian).

Inilah tanda-tanda bagi orang yang berakal. Orang Jakarta mesti baca, orang Indonesia harus berkaca. Jangan asal percaya isu normatif politik berjubah agama. Lihat visi misi dan kapasitas yang terukur. Kalau tidak, semua akan rugi sendiri karena hanya dijadikan alat semata, bukan tujuan utama.







Leave a Reply