Kolom Andi Safiah: INTOLERANT

Terdengar mudah di telinga mereka yang kewarasannya masih tersisa walau tinggal separuh.

0
691

Intolerant terjadi karena kita suka mentoleransi hal-hal yang sepantasnya tidak bisa ditoleransi. Prilaku toleran kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan yang paling umum adalah membuang sampah sembarangan. Perilaku ini ditoleransi sehingga menular dan menjadi kebiasaan.

Jika ada seekor manusia waras yang mencoba menegur, reaksinya langsung naik pitam, padahal nuraninya menyadari bahwa prilaku dia memang salah.




Tidak heran jika ceramah di masjid-masjid semacam tong kosong nyaring bunyinya, karena ternyata yang ceramah pun masih doyan memgkhianati slogannya sendiri. Bunyi slogan populer tapi kosong: “Kebersihan adalah sebagian dari Iman.” Sebagiannya lagi tidak disebutkan. Mungkin malu sama kecoa yang kebetulan parkir di sampingnya.

Jadi, sebenarnya, tidak sulit melawan intoleransi dalam negara. Apalagi negara punya alat semprot macam Polri dan TNI jika ada sekelompok kecoa yang merencanakan sebuah gerakan intoleransi nasional. Tinggal keluarkan semprotan bermerek POLRI. Kalau masih belum mempan tambahkan dosis bermerek TNI.

Terdengar mudah di telinga mereka yang kewarasannya masih tersisa walau tinggal separuh.

#Itusaja!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.