Mengkritik agama dengan logika dan empirisme adalah tindakan salah alamat.  Agama itu bukan rivalnya logika dan sains karena agama tidak mencari kebenaran seberti logika dan sains, tapi melakukan pembenaran untuk setiap yang membuat hati pemeluknya merasa damai.


Bapak Kita 
Erianto Anas

 

Kali ini saya harus berbeda pendapat sama Bpk kita Erianto. Begini, sejak lama agama dan berbagai jenis aliran pemikiran yang nongol di abad pencerahan Eropa seperti sekepticism, empiricism, rasionalism, nihilism, hingga comunism serta sampai pada science berkonflik serius dan terbuka dengan aliran theologis yang bersumber dari agama.

Jika agama dibiarkan dominan kembali dalam sebuah negara, maka hasilnya adalah otoritas dan di atas otoritas agama orang-orang seperti Bpk kita dan terutama saya bisa dibakar, dipenggal dan dibantai hidup-hidup.




Artinya, logika scientific dan logika sastra perlu digunakan sebagai alat tangkis dari virus yang telah sukses bikin manusia bego sepanjang masa. Kita bakal di tinggal oleh Homo Deus, replika terbaru dari Homo Sapiens yang sebentar lagi kadaluarsa di planet bumi.

Agama sejati adalah aktivitas kegilaan yang sifatnya privacy, tidak bisa dipamerkan dalam ruang-ruang publik yang warnanya kompleks. Kecintaanmu pada dirimu sendiri hanya akan bernilai ketika anda berbicara dalam ruang-ruang intimacy, pada Tuhan dimana harapanmu dititipkan, pada surga dimana cita-cita terakhirmu beristrahat dan pada neraka dimana ketakutanmu tidak bisa tenang di dunia.

Itulah mengapa negara perlu bersikap tegas terhadap setiap doktrin yang mengancam kebhinekaan yang sejak lama diperjuangkan oleh bangsa ini. Membiarkan atau bahkan memelihara ajaran terror adalah kesalahan serius yang perlu segera disadari. Jika tidak, generasi hari ini dan mendatang akan menjadi korban dari kebodohan yang ditransfer lewat media agama.

Jadi, logika empiricism lewat bahasa Ilmu pengetahuan perlu terus dimunculkan ke permukaan publik sebagai anti virus terhadap berbagai ajaran yang memang perlu dievaluasi sekaligus disingkirkan secara permanen dalam ruang-ruang interaksi publik di republik.

Jika aksi serious ini tidak segera diambil oleh negara, maka anak-anak dan wanita Indonesia yang polos akan menjadi korban kebiadaban ajaran sampah peradaban.

Bpk Rasional Indonesia penerus Tan Malaka
Andi Safiah







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.