Ada sebagian orang yang melihat peristiwa di Mako Brimob sebagai peristiwa konspirasi. Para penganut teori ini menggunakan ilmu cocoklogi. Mereka mencocokan dan mengutak-atik peristiwa itu dari segala sudut. Lalu kemudian diambil sebuah kesimpulan serampangan. Teori konspirasi yang menggunakan ilmu cocoklogi ini bisa juga disebut teori kriuk. Ya, teori kriuk.

Seperti jajanan yang kriuk pada kerupuk, mie kriuk, ayam kriuk, kulit ayam, caker ayam kriuk, pisang kriuk, rasanya renyah. Gurih. Enak dikunyah.




Sensasi gurih, tekstur renyah dan suara kriuk yang muncul bila digigit. Kendatipun kriuk, ia miskin gizi, kurang protein, nihil vitamin. Jadi, namanya teori kriuk, sudah pasti renyah, gurih dan lezat, namun miskin fakta dan bukti sahih. Akhirnya, tak memuaskan. Ibarat mau onani, tetapi tak berhasil. Mumet.

Teori kriuk ini dengan cepat muncul setelah peristiwa di Mako Brimob. Para penganut teori konspirasi sibuk melontarkan analisis kelas kriuknya. Dahnil Simanjuntak salah satunya. Kesimpulannya pun muncul. Peristiwa di Mako Brimob itu disebut settingan polisi. Sebuah rekayasa. Sebuah pengalihan isu atas naiknya dollar. Sebuah pencitraan. Malah ada yang menyebutnya sebagai proyek.

Segila apapun narasi yang terkonstruksi pada sebuah teori konspirasi, ada saja sejumput orang yang mempercayainya. Membaca berbagai teori konspirasi dalam takaran yang wajar memang cukup menyenangkan. Di satu sisi, menghibur bak membaca kisah sains-fiksi. Ia bisa menyulut rasa penasaran dan tanya; ‘masa iya sih begitu?’

Sepintas teori konspirasi itu ada benarnya. Masuk sebagian di akal. Liarnya daya imajinasi pencetusnya membuat fakta bisa digugat. Mereka bisa menyusun puzzle. Mereka bisa meruntut kronologis kejadian: kayak gini, kayak gitu, maka kemudian seperti ini. Runtut. Kayak infografis. Ada jalinan cerita dengan bumbu fakta.

Para penganut teori konspirasi selalu berimajinasi liar. Mereka sok jenius ala Hercule Poirot. Mereka berlindung dalam istilah kata transenden. Nalarnya selalu dibumbui metafisika, metanarasi, metarealita. Tak heran jika ada kesimpulan sampah. Peristiwa di Mako Brimob itu adalah settingan polisi. Ini jelas absurd. Seabsurd teori pemboman menara kembar WTC. George W. Bush yang men-setting peristiwa pemboman itu. Ada Yahudi di balik peristiwa pemboman peristiwa itu. Katanya.

Hasil kesimpulan teori konspirasi memang sangat kriuk untuk dilontarkan. Ketika ada peristiwa pemboman di Thamrin beberapa waktu lalu, pelontar teori konspirasi mengatakan bahwa itu adalah ulahnya pemerintah. Eko Patrio termasuk penyuka teori ini. Ketika dikejar, isu apa dan bagaimana benang merahnya, kacaulah jawabannya. Merah-merona mukanya.

Faktanya jika dianalisis lebih jauh, teori konspirasi pada peristiwa di Mako Brimob itu gampang dipatahkan. Tak didukung bukti rasional. Tidak secanggih bukti Mossad, FBI atau CIA. Tak sehebat Althur dalam tokoh fiksi rekaannya Sherlock Holmes. Dan memang terkadang, teori konspirasi dengan mudah dibantah. Ia dianggap sebagai paranoia. Itulah sebabnya sebagian besar teori konspirasi dianggap sebagai angin kentut.




Saya sendiri yakin bahwa peristiwa di Mako Brimob itu adalah murni kecerobohan petugas. Ada kesalahan prosedur. Ada kelalaian petugas. Ada masalah yang menumpuk di sana. Seperti penitipan napiter di Mako yang tidak semestinya. Pun  senjata sitaan yang tidak disimpan di tempat semestinya. Juga penjagaan yang kurang ketat di dalam Rutan. Lalu, kurangnya kewaspadaan terhadap para napi. Semua itu harus diakui. Itu semua menjadi faktor-faktor yang logis penyebab terjadinya tragedi itu.

Tragedi di Mako Brimob memang banyak menyisakan pertanyaan. Mengapa anggota polisi begitu mudah disandera, disiksa dan dibunuh? Mengapa para Napi yang berbeda sel itu bisa menjebol selnya dan berkumpul? Lalu, dari mana senjata tajamnya? Terus, bagaimana korban dikeluarkan oleh polisi dari Rutan padahal sebelumnya dikuasai oleh napiter?

Ada banyak pertanyaan memang. Kalau dirunut mungkin ada 50 pertanyaan yang terlontar. Sebagian pertanyaan itu bisa dijawab sendiri. Sebagian masih teka-teki. Seiring waktu, akan terkuak sendiri. Namun, yang jelas tak ada alasan valid bahwa kejadian itu merupakan sebuah settingan. Tidak cukup alasan untuk sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa itu sebagai sebuah rekayasa atau sebuah konspirasi.

Akan menjadi tidak wajar, jika pada akhirnya teori konspirasi dianggap sebagai sebuah kebenaran, dianggap sebagai rasionalitas tunggal. Lalu, membuat kita menyangkal penjelasan lain yang justru bersifat logis dan ilmiah. Terlalu fatal bila peristiwa di Mako Brimob itu disimpulkan sebagai sebuah settingan. Bila ada yang percaya, mungkin itu bagian dari teori pekoknya Amin Rais.







Leave a Reply