Setelah tercabut ruh dari jasadnya, keluarga teroris yang mengebom gereja di Surabaya itu kebingungan untuk mencari jalan menuju syurga, hingga sang istri pun mengeluh.







Istri: Pakne, mana surganya? Aku cepat-cepat pengen belanja sepuasnya, nih.
Suami: Iya, bune, sabar ntar juga nyampai.
Istri: Tuh ada malaikat, pakne, coba kita tanya beliau arah jalan ke syurga.
Suami: Oh, iya bune. Coba saya tanya jalan ke syurga kepada Si Malaikat.
Istri: Yo wes, cepetan samperin.

Terlihat Malaikat yang sedang duduk sambil berdzikir kepada Tuhannya.

Suami: Afwan ya Malaikat, apa benar ini jalan menuju syurga?
Malaikat: Naam, maa ismuka?
Suami: Afwan ya malaikat, saya tidak mengerti bahasa sampean.
Malaikat: Lhadalah, biyen awakmu iki sok ngarab pas di dunia? Dikit-dikit afwan, ngantum, ana, akhi, jebule cuma itu doang toh bahasa ngarabmu?
Suami: Ho’oh ya Malaikat.
Malaikat: Woalah wong Jowo kakehan polah koen iku.
Suami: Afwan, eh ngapunten ya Malaikat.
Malaikat: Bentar …. bentar, tak lihatnya dulu riwayat hidupmu.




Dengan satu telunjuk saja, Malaikat sudah mengetahui riwayat hidup si keluarga teroris ini.

Malaikat: Ah, ternyata kamu yang mengebom di Surabaya itu ya, hmmmm.
Suami: Iya.. iya.. betul Malaikat, itu kami sekeluarga, hebaatt ya kami?
Malaikat: Kamu, istrimu dan anak laki laki pertamamu jalan ke kiri, arah ke neraka. Sedangkan yang masih kecil-kecil, biarkan di sini dulu bersamaku.

Sang suaminya pun protes.

Suami: Lho bukannya kami mati di jalan ALLOH, wahai Malaikat?
Malaikat: Ah.. siapa bilang kamu mati di jalan ALLOH??
Suami: Lha terus??
Malaikat: Matinya kalian itu di Jalan Ngagel, Diponegoro dan Arjuna, gitu lho, ini lengkap ada catatannya dan buktinya.
Suami: Lhadalah, mati aku!
Malaikat: Lha kowe wes modar, dul, lali tah pikun awakmu iku?

Salam Jemblem







Leave a Reply