Saya tengah membuat sebuah tulisan bertema cinta Tanah Air. Ketika pas online, saya melihat Penanggulangn Krisis Facebook merilis kejadian ledakan bom di 3 gereja Surabaya. Ada 19 teman saya di Facebook yang di dentifikasi oleh Facebook berada di area kejadian.

6 orang telah menandai dirinya sebagai selamat dan saya berharap yang lainnya juga selamat.




Kembali sejenak ke tragedi di Mako Brimob Kelapa Dua. Pada saat peristiwa itu masih jadi breaking news di stasiun tv swasta nasional, saya langsung ‘menjelajah’ ke situs-situs radikal yang ada di luar negeri. Dari situlah saya mendapat foto dan video mengerikan yang dibarengi dengan komentar-komentar suka cita dan dukungan untuk menyemangati ‘perjuangan’ saudara-saudara sepaham dengan mereka di Indonesia, termasuk ikut berkomentar orang dari Indonesia sendiri.

Grafis kejam tersebut sudah saya simpan dan justru lebih dulu saya dapat dari situs di luar negeri ketimbang dari situs dalam negeri atau dari pengguna media sosial di Tanah Air.

Ini sebenarnya masih menjadi ganjalan pertanyaan bagi saya, “Kenapa bisa begitu cepat mereka yang di luar sana terkoneksi dengan aksi teror di Tanah Air”?

Saya memang tidak mau membagikan konten-konten berdarah yang saya dapat itu di akun saya. Dan dari media online barusan saya baca Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga menghimbau agar pengguna Medsos tidak membagi foto-foto korban-korban ledakan bom Surabaya di jejaring sosialnya.

Peristiwa bom Surabaya jelas menambah keprihatinan yang makin mendalam bagi saya. Kemarin saudara saya sesama muslim yang sekaligus aparat kepolisian menjaid korban, sekarang saudara setanah air jadi korbannya. Sementara, di satu sisi, para pembela teroris terus meminta agar para pelaku teror yang tertangkap diperlakukan secara manusiawi dan pemerintah tidak boleh melanggar HAM.

Terkait itu saya mengutip tulisan Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono di laman Facebooknya yang mengatakan, “Bahwa jika hukum telah bisu dalam menegakkan keselamatan umum, bahaya yang terjadi adalah senjata saling berbicara. Kekacauan seperti itu akan menempatkan kita, pada titik terendah keselamatan bersama yang sangat sulit untuk dihentikan.”

HAM yang harus tetap dijunjung tinggi adalah HAM setiap orang Indonesia untuk hidup aman dan sejahtera..” (Lihat di SINI)

Dari pernyataan di atas, saya setuju dan berharap pihak aparat penegak hukum meninjau kembali langkah ‘soft approach’ dalam penanggulangan aksi terorisme ketimbang ‘hard approach’, karena mereka bukan lagi manusia biasa, tetapi psikopat yang memang sangat susah disembuhkan.

Kalau aparat penegak hukum tidak tegas, maka saya yakin segala paham radikal akan sangat sulit diberantas di Indonesia. Harus menunggu berapa banyak korban lagi meregang nyawa dan darah bersimbah akibat kebiadaban para teroris yang memakai agama sebagai pembenar tindakannya?

Jika pelaku teror ini adalah orang-orang yang merasa paling bersetia dengan Tuhan, maka sepertinya mereka adalah pemuja Tuhan yang haus darah.

Semoga keluarga korban diberi kesabaran dan ketabahan.







Leave a Reply