Jika bukan karena takbir yang diteriakkan oleh para terroris sebelum melakukan aksi bunuh dirinya selama ini, mungkin Islam tidak layak disebut agama terroris. Tapi, faktanya, sekuat apapun kaum musliman dan muslimun menulis klarifikasi soal agama Islam yang damai, faktanya terroris doyan sekali mengucapkan “takbir” lalu “Kabooom” loncatlah semua particle yang membentuk tubuh semoknya.

Lalu, menurut Bapak Rasionalist Kiri Radikal (Andi Safiah), bagaimana menjawab problem terrorisme yang kebetulan doyan teriak “Takbir”?




Begini, sebelum saya menjawab pertanyaan sederhana itu, saya berharap sabuk pengaman dalam batok kepala anda sudah terpasang dengan sempurna. Soalnya, jika terjadi turbulence, isi kepala anda tidak berhamburan keluar arena.

Pertama, problems terorisme yang marak dan menjadi trending topik saat ini terjadi karena kelalaian kepala negara dan juga kepala rumah tangga. Mari kita urai dari posisi negara terlebih dahulu. Jika anda familiar dengan isi Pembukaan UUD 45, maka tentu saja kalimat ini menjadi tidak asing di kepala anda. Baca baik-baik agar pada saat anda melakukan orasi di hadapan istana negara anda tidak lupa mengucapkan mantra ini: “Negara punya kewajiban dasar untuk melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia at any cost.

Tapi, apa yang sedang dikerjakan negara?

Nampaknya negara lebih sibuk mengurus jembatan, jalan tol, jalan lintas sana-sini dari pada mengurus ex mujahid yang baru pulang dari medan perang. Di medan perang pun sebenarnya para mujahid Islamiah ini tidak berperan. Tugas mereka lebih banyak cuci kakus dan nonton bokep. Cuman saja, karena ada kelatahan dalam diri bangsa ini, sehingga ketika para mujahid pulang malah dianggap pahlawan. Bahkan menteri sosial yang baik hati memberikan mereka fasilitas dan penghargaan khusus karena telah mengharumkan nama bangsa lewat aksi suka rela cuci kakus dan nonton bokepnya di sana.

Dari sinilah pintu terrorisme itu masuk. Itu pun jika disadari oleh anjing penjaga bangsa Indonesia.

Ke dua, ini yang lebih penting dan utama. Karena keluarga adalah fondasi utama sebuah bangsa, dan peran Bapak plus Emak menjadi ujung tombak serius dalam proses melahirkan generasi penerus bangsa, apakah akan melahirkan generasi hebat macam Jepang, atau malah melahirkan tikus radikalis yang doyan bermain di selokan depan dan belakang rumah?

Tantangan serius ini perlu dijawab oleh Bapak plus Emak. Saya perhatikan, Bapak dan Emak sangat bahagia ketika otak anaknya dititipkan di sekolah-sekolah agama macam pesantren dari pada dititipkan di warnet atau di taman bermain siswa. Ini karena Bapak dan Emak masih berpikir bahwa surga jauh lebih penting dari pada dunia. Padahal, Bapak dan Emak tidak sadar mereka sedang hidup di dunia saat ini.

Paradigma atau cara berpikir seperti inilah yang membuat Indonesia sebagai bangsa sangat lemah dan rapuh.




Jika Bapak dan Emak berpikirnya di balik, bahwa dunia adalah tempat terbaik untuk menikmati hidup, maka anak-anaknya sudah pasti akan dikirim belajar di sekolah-sekolah terbaik, atau minimal jika Bapak dan Emak tidak punya cukup duit, maka rumah bisa diisi dengan akses Internet berkecepatan buriq agar anak-anaknya bisa sekolah dengan gaya bebas di universitas Google, Wikipedia, atau sekedar membaca diskusi-diskusi di wall Andi Safiah yang selalu ramai dikunjungi oleh manusia-manusia cerdas.

Jadi, paham kan sekarang di mana masalah serius dari fundamentalisme ala Islamiah? Kalau masih belum faham juga nanti saya coba telepon Bapak kita Erianto untuk memberikan penjelasan tambahan bagaimana menjawab problem-problem radikalisme dengan menggunakan pendekatan Sun Tzu. Sejauh yang saya amati, baru Bapak kita yang punya jurus pamungkas dalam menjawab soal-soal kesalahan berpikir dalam agama. Pasalnya, Bapak kita sudah terbiasa mondar-mandir neraka karena dia punya kartu akses dengan kendaraan ilusif tapi legendaris macam buriq.

Sehingga, bagi anda-anda yang masih terus bertanya mengapa problem radikalisme Islamiah tidak bisa diberantas. Padahal negara Indonesia punya semua perangkat pemusnah massalnya. Hanya saja, senjata itu tidak bisa diakses bahkan oleh Presiden RI sekalipun. Jawabannya ada di balik mimbar masjid. Kalau mimbarnya sudah disegel oleh negara, maka radikalisme Islamiah akan kehilangan corongnya. Ibarat tikus got yang akses pada lumbung makannya ditutup secara permanen.

Saya kira itu dulu. Jika terus-terusan, maka saya bisa menggantikan posisi David Hume dalam menjelaskan problem fundamental dari agama, terutama agama “takbir” macam Islamiah yang kebetulan sedang menjamur di Republik Indonesia.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.