Ada 3 perempuan Indonesia yang pada saat tulisan ini saya buat menjadi trending topik dikalangan warganet. Ketiga perempuan tersebut, yakni; Fitri Septiani Alhinduan (Pity), Dian Anggraeni Umar, dan Puji Kuswati. Urutan pertama dan ke dua tidak terlalu menarik perhatian saya. Pembaca dapat menelusuri sendiri kedua nama itu melalui internet, atau via akun sosial media masing-masing. Nah, nama ke tiga (Puji Kuswati) inilah yang cukup menyita perhatian saya, karena nama tersebut terkait langsung sebagai salah satu pelaku bom bunuh diri gereja Surabaya. Siapa Puji Kuswati?

Puji Kuswati adalah istri dari Dita Supriyanto, pelaku bom bunuh diri yang melibatkan seluruh anggota keluarganya pada pengeboman 3 gereja di Surabaya.




Melalui penelusuran Facebook saya menemukan dua akun Puji Kuswati. Akun almarhumah (Alm.) pertama bernama Kuswati Puji, terakhir update pada 21 Januari 2012, dan akun kedua bernama Puji Kuswati, terakhir update pada 07 Oktober 2014. Saya lalu melihat lini masa dua akun Alm. Puji. ‘Time line’-nya tidak ada hal-hal mencolok yang mengindikasikan dia berpikiran radikal. Berbeda dengan akun Fitri Septiani Alhinduan (Pity) dan Dian Anggraeni Umar yang seolah menggambarkan diri mereka adalah ‘aktifis’ sosial media.

Kedua akun mereka tidak bisa saya akses, dan sepertinya sudah di ‘delete’ dari Facebook. Tetapi jejak digital keduanya masih tersebar di Facebook, dimana akun atas nama Fitri Septiani Alhinduan (Pity), yang juga seorang PNS, pemiliknya sudah ‘diamankan’ pihak kepolisian dengan dugaan hate speech dan provokasi.

Ketiga perempuan di atas tentu tidak bisa saya simpulkan menjadi representasi perempuan-perempuan radikal di Indonesia, meski praktek radikalisasi yang berujung aksi ‘nekat’ oleh perempuan-perempuan radikal, perlahan tapi pasti mulai menunjukkan ‘gigi’-nya di Indonesia.

Lantas, apakah ‘radiasi’ radikalisasi sudah merambat ke banyak perempuan di Indonesia?

Inilah yang saya harapkan dapat dicermati oleh berbagai pihak, khususnya bagi kalangan stake holder (pemerintah), dan terutama bagi kalangan penegak hukum.

APA YANG MEMBUAT PEREMPUAN MUDAH TERSERET KE DALAM ARUS RADIKALISASI?

Menurut sosiolog Lebanon (Mona Fayyad), konsep reproduksi sosial adalah kunci utama yang melatarbelakangi perempuan harus direkrut kalangan radikal.

Sebagai orang yang akan melahirkan generasi penerus, maka perempuan wajib direkrut, dilatih dan diindoktrinasi dalam pemikiran ekstrim karena merekalah yang akan menciptakan generasi yang berpikiran sama, dan menjamin kesinambungan untuk berbagi peran dalam lingkungan yang radikal seperti itu.

Organisasi teror seperti Al-Qaeda dan ISIS menyadari bahwa perempuan adalah setengah dari masyarakat dan memiliki kepentingan strategis di dalamnya, sehingga perlu merekrut mereka dalam berbagai hal, termasuk melakukan tugas militer.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa para perempuan yang berhasil direkrut menunjukkan kelemahan karakter, kecenderungan untuk melakukan kekerasan, kebutuhan untuk melarikan diri dari realitas mereka, dan mencari alternatif yang dianggap memenuhi kebutuhan spiritulaitasnya.

Fayyad mengambil contoh seorang perempuan Belgia bernama Laura Passoni. Laura adalah seorang janda yang bertemu seorang pria secara online di Facebook.

Pria yang kemudian diketahui anggota ISIS itu membujuknya menikah dan melakukan perjalanan ke Suriah dengan anaknya yang masih kecil.

Laura yang menjadi mualaf diyakinkan bahwa Belgia tidak akan pernah menjadi rumah yang baik bagi seorang Muslim. Dia mendapatkan indoktrinasi dan diminta membujuk perempuan-perempuan lain agar mau mengikuti keputusannya untuk pergi ke Suriah pada Juni 2014.

Ketika ditanya mengapa ISIS merekrut wanita? Dia menjawab karena wanita adalah komoditas yang menarik dan mudah dipengaruhi.

“Karena kita membuat bayi dan terutama anak laki-laki untuk masa depan khilafah. Seperti yang mereka katakan, mereka membutuhkan keturunan,” jawab Laura.

Laura menyadari kekeliruannya setelah kelompok teroris itu menyerang bandara dan metro Brussels. Dia akhirnya kembali setelah mengalami banyak kesulitan dan menyadari dia telah melakukan langkah yang salah.




Sosiolog lainnya, Farhad Khosrokhavar yang mengamati ketertarikan perempuan-perempuan Barat dari kalangan non-muslim (Rusia, Perancis, dan Jerman) untuk bergabung dengan ISIS mengatakan itu berkaitan dengan ‘pemulihan identitas’.

Di mata mereka keluarga patriarki klasik lebih memberikan perasaan aman dan rasa memiliki.

Farhad berpendapat apa yang membuat para gadis muda Barat pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS adalah fenomena yang paradoksal.

Dia menghubungkannya dengan kekecewaan gadis-gadis ini dengan feminisme dalam masyarakat Barat dan ketidaktertarikan mereka sebagai perempuan generasi kedua dalam perjuangan feminis ibu mereka.

“Gadis-gadis itu berpikir pejuang (ISIS) adalah sosok pria yang serius dan penuh tanggung jawab, sedangkan pria-pria Barat tampil sebagai penipu dan belum dewasa,” jelasnya.

Di bawah ‘kepura-puraan’ untuk mendapat kehidupan yang lebih baik, lebih suci dan lebih menarik, pada akhirnya yang mereka temukan hanyalah tipuan.

“Mereka lantas terjebak pada”jihadisme”, menikah, membesarkan anak-anak bahkan mengalami kekejaman ketimbang memperoleh idealisme dari tujuan awalnya, dimana jihadis adalah sesuatu ketidakcocokan dalam masyarakat Barat dimana pun,” terang Farhad.

Studi-studi terbaru menemukan terdapat varian sosial lain, selain faktor ideologi, ketimpangan sosial, kemiskinan dan ketidakadilan yang dianggap menjadi penyebab utama munculnya paham radikal yang merembes dikalangan perempuan.

Kasus yang terjadi pada perempuan-perempuan di negara Barat sebagai contoh, dimana mereka umumnya bisa dikatakan memiliki kehidupan yang cukup mapan baik secara ekonomi dan pendidikan, serta hidup di negara yang maju dan demokratis.

Kedua sosiolog itu mengidentifikasi bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perempuan terseret arus radikalisasi adalah:

1. Pencarian ‘identitas baru’;
2. Minimnya pengetahuan
3. Emotional instability (ketidakstabilan emosi) dan tingkat kecerdasan yang rendah;
4. Termakan bujuk rayu dan propaganda kelompok radikal;
5. Mengikuti orang terdekat (pacar, suami, saudara kandung atau anggota keluarga lainnya); dan
6. Ingin menjadi pribadi yang lebih suci secara religius.

Faktor-faktor itulah yang dengan cepat memungkinkan seseorang untuk mengasosiasikan dan memproyeksikan keyakinannya pada kelompok baru dan membuat perempuan terseret arus radikalisasi yang terkadang berakhir dengan kengerian.

PERHATIAN SERIUS PEMERINTAH

Selama ini mungkin kita abai dan menyangka radikalisasi adalah domainnya laki-laki, meski perempuan sama berpotensinya dengan pria untuk menjadi radikal.

Tidak hanya perempuan di Indonesia, secara global perempuan dihadapkan pada wacana-wacana radikal di banyak negara.

Peningkatan penggunaan internet dikalangan perempuan, kaum hawa yang dianggap mudah untuk disentuh secara emosional ketimbang rasional menjadi celah bagi kelompok radikal untuk menyebarluaskan dan menyemai bibit-bibit radikal ke dalam kepala mereka.

Media, baik itu media mainstream atau media sosial, juga sering tanpa disadari dapat memunculkan bibit-bibit radikalisasi melalui informasi-informasi yang disajikan.

Apalagi masih banyak audiens tanah air yang naif, mudah terjebak dan terprovokasi sebuah informasi apabila itu terkait dengan agama, sektarianisme, perbedaan budaya, dll jika informasi itu dianggap bertentangan dengan perspektifnya.

Perspektif massa ini yang kemudian bisa dipolitisasi menjadi kebencian.

Dengan memainkan taktik prinsip bukti sosial, para provokator radikal pada situasi yang dianggap tepat akan dengan mudah menghasut orang untuk melakukan tindak kekerasan yang seolah-olah itu tidak bertentangan dengan paham yang mereka yakini.

Melihat semakin masifnya radikalisasi di kalangan perempuan, sudah mesti ada upaya segera dari pemerintah, terutama aparat penegak hukum untuk bersikap dengan lebih serius terhadap fakta sosial yang terjadi di masyarakat kita, khususnya di kalangan perempuan Indonesia kini.




Radikalisasi yang dikatakan lahir akibat rasa ketidakadilan, kemiskinan, rasa keputusasaan yang mendorong munculnya ekstrimisme hingga terorisme kini tidak lagi menjadi tolok ukur yang sepenuhnya.

Sebagai contoh akibat kemiskinan misalnya, para penyebar paham radikal tidak lagi melakukan indoktrinasi dengan cara ‘jemput bola’ kepada targetnya, tetapi sudah dilakukan melalui perangkat android canggih yang masih menjadi barang mahal bagi orang miskin.

Dan tidak sedikit pula kita melihat perempuan-perempuan yang mengekspresikan pikiran radikalnya di media sosial tetapi tetap berpenampilan layaknya seorang ‘borjuis’.

Perlu juga diketahui bahwa radikal tidak selalu berkonotasi negatif.

Radikal menurut Oxford Dictionaries memiliki banyak arti. Radikal bisa berkaitan dengan upaya melakukan perubahan atau tindakan yang mempengaruhi sifat dasar sesuatu ke arah yang lebih baik. Misalnya bagaimana mengentaskan kemiskinan secara radikal, dan lain sebagainya.

Poltik dan agama yang meradikalisasi oranglah yang berbahaya karena akan melahirkan ekstrimisme yang dapat mendorong orang berpartisipasi dalam aksi-aksi kekerasan hingga terorisme.

Tujuan keduanya sama, yakni kekuasaan!

Ketika destabilisasi negara terjadi, aktor-aktor radikal itulah yang menjadi pemenang sekaligus pihak yang paling diuntungkan dari kekacauan yang mereka ciptakan.

Mari kita selamatkan perempuan-perempuan Indonesia dari segala macam bentuk infiltrasi radikal!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.