Orang mabuk mungkin tidak takut mati. Tapi mereka yang sadar, pasti ngeri juga jika menghadapi kematian. Para teroris sedang mabuk agama. Mereka berusaha mati dengan cara membunuh orang lain. Mereka mengkhayal masuk surga.

Tapi, mereka cuma sedang korslet otaknya. Mereka keracunan fikirannya sendiri soal agama yang dipersepsikan begitu mengerikan.

Pasca kasus Mako Brimob, orang-orang mabuk berdatangan dan bereaksi. Mereka bermaksud menyerang polisi. Di Surabaya pemabuk kelas kakap, sampai mengajak istri dan anaknya untuk ikut mati juga. Lalu mereka meledakkan diri di gereja.

Barangkali mudah. Mereka tinggal jalan ke arah sasaran. Sesampainya di satu target, tinggal pencet tombol. Lalu, duaarrr!




Tidak ada jeda untuk merasakan sakit. Yang tersisa adalah jerit tangis korban.

Berbeda dengan orang yang mencekoki para teroris itu dengan doktrin agama yang membuatnya mabuk. Ternyata dia masih sadar. Takut mati juga.

Ini terbukti saat JPU membacakan tuntutan mati kepada Aman Abdurahman, pentolan JAD yang selama ini menjadi inspirator para pemabuk agama untuk membuat kekacauan. Aman dikenal sebagai dedengkot ISIS yang tinggal di Indonesia. Dia juga menjadi orang yang mempengaruhi banyak orang lain lagi dengan doktrin palsunya.

Nyatanya, ketika JPU membacakan tuntutan mati kepada Aman, celananya basah. Wajahnya bisa saja pura-pura tenang. Tapi reaksi biologis organ lain tidak bisa dibohongi, Aman ngompol. Dia ngeri juga ketika JPU menuntut hukuman mati. Padahal Amanlah yang mengajak orang untuk berjihad.

Palu hakim memang belum diketuk. Tapi kematian sudah membayang di wajah Aman. Buktinya dia kencing di celana.

Seeerr…

Menjelang dijatuhi hukuman, di ruang sidang itu, nyatanya Aman masih sempat melakukan teror.

Lihat saja. Kursi terdakwa kini basah oleh ompol. Kali ini, OB Pengadilan yang kena teror.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.