Pandangan optimis saya sebagai warga negara Indonesia yang selalu menolak kebodohan atas nama apapun, terutama atas nama agama yang kian hari kian populer dan menjadi realitas baru di Republik Indonesia. Hampir setiap detik dari waktu bangsa ini tidak lepas dari agama.

Mulai dari subuh hingga ketemu subuh lagi yang terpancar dalam kesadaran manusia Indonesia adalah siraman rohani.







Ibarat bunga, jika terus-terusan di siram 24 jam sehari maka yang terjadi bukanlah pertumbuhan. Malah kematian permanen yang ada. Bunga tidak ada bedanya dengan manusia. Mereka butuh air, butuh sinar matahari sebagai makanan utamanya, butuh lingkungan yang sehat, bersih dan bebas dari polusi.

Sebagai bangsa kita sudah sampai pada tahap over dosis soal agama. Bayangkan saja, berapa jumlah masjid di satu wilayah. Bhkan di satu RT saja masjid bisa saling berhadap-hadapan. Di hampir semua stasiun TV diskusi soal agama tidak ada habisnya. Mulai dari program kuis sampai program kultum temanya tidak lepas dari agama. Sinetron TV bernuansa agama. Film-film layar lebar juga nuansanya tidak jauh-jauh dari agama terutama Islam.

Dan puncaknya, Departemen Agama mendapat dana terbesar ke dua setelah Departemen Pertahanan di Republik ini. Artinya, porsi APBN terbesar ke dua di makan oleh agama.

Sebagai negara hukum, bangsa ini sebenarnya telah salah makan. Menu terbanyak yang disantap oleh bangsa ini adalah gula, sehingga obesitas tidak bisa dihindari lagi.

Tahu sendiri bagaimana orang yang kelebihan berat badan dalam bergerak. Sangat terbatas. Ruang yang dia butuhkan juga akhirnya sangat besar. Begitulah agama-memakan tempat yang cukup besar dalam kesadaran manusia Indonesia, sehingga porsi lain menjadi tidak menarik lagi. Bagaimana mungkin menjadi menarik jika mengangkat beban sendiri saja sudah kerepotan?

Tidak heran jika kita benar-benar tertinggal jauh dari bangsa-bangsa yang dietnya sudah teratur, macam Jepang, Singapore, Korea, bahkan negara yang baru saja merdeka macam Vietnam.




Lalu, bagaimana menjawab problem obesitas religioso di negara ini?

Pertama yang perlu kita lakukan sebagai bangsa adalah menyadari bahwa kita sudah kelebihan berat badan. Sampai kesadaran ini muncul, baru bisa melangkah pada langkah selanjutnya yaitu memperhatikan pola makan. Tidak hanya mengkonsumsi makanan berlemak tebal, tapi makanan yang proteinnya sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Dari sana proses metanolisme tubuh akan berangsur membaik.

Ke dua, berolahraga dalam demokrasi terbuka. Olah raga artinya melatih diri terus menerus dalam pertandingan gagasan, semakin sering dilatih maka akan semain baik kondisi tubuh dan otak manusia Indonesia. Sehingga ruang kesadaran mereka tidak melulu soal agama, tapi ada soal-soal lain yang lebih penting seperti Filsafat, Science, Physicology, Anthropology, Sosiology, Politik, Art, Poetry, Teknology, IT, Neuroscience, Astrophysic, hingga ilmu-ilmu seputar masak-memasak.

Mengapa semua ilmu di atas perlu diperkenalkan? Memories dan kapasitas otak manusia memang sangat besar. Sayang sekali kalau isinya cuman seputar agama yang dari dulu hanya berkutat seputar reward and punishment. Terakhir, salah paham seputar agama dan keyakinan bisa diurai lewat memperluas jangkauan berpikir rakyat Indonesia. Dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi semua bisa dijawab. Rakyat cerdas maka negara yang dibangun juga akan ikut kecipratan cerdasnya.




Demikian pandangan optimistik dari seorang anak bangsa yang selalu dituding sebagai biang kerok kerusakan nalar, tapi faktanya justru berusaha menawarkan cara pandang yang sedikit geser 7° dari cara pandang yang beredar secara umum di masyarakat.

Bpk Kebebasan Berpikir Indonesia
Andi Safiah







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.