Kuambil gadget, kubuka berupa media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dsb.. Kubuka sana, kubuka sini. Kuklik di sana, kuklik di sini. Kubaca di sana, kuaca di sini. Kebanyakan berita dan postingannya tak lain adalah terkait bencana di rumah ibadah beberapa hari yang lalu.

Dan yang menjadi pusat perhatianku bukan lagi masalah bencananya, tetapi mengarah kepada komentar-komentar massa yang begitu hebat melebihi bom itu sendiri.




Begitu banyak sumpah, cacian, makian dan hujatan yang diberikan oleh massa. Sampai kata-kata yang tak seharusnya terucap sudah menjadi kebiasaan. Nama binatang yang terkenal dengan kesetiaannya terhadap tuannya pun dibawa-bawa.

Emang anjing bisa merakit bom? Emang babi bisa ngeledakin bom? Kedua nama binatang ini menjadi sangat terkenal karena bencana tersebut. Jika mereka berdua bisa berbicara, pasti mereka marah disamakan dengan pelaku yang tak punya moral tersebut. Bisa-bisa mereka menerkam kita karena perkataan kita yang tidak relevan. Binatang buas sekali pun pasti akan jinak jika dipelihara dengan baik oleh tuannya, itu pertanda semua binatang punya naluri.

Lalu, bukankah kita yang mengatakan bahwa teroris itu sudah dicuci otaknya? Kita sebut mereka sudah menganut aliran sesat. Jadi, tidakkah seharusnya kita sebut mereka juga korban dari kejahatan dunia ini? Sebagai manusia berdosa, pantaskah kita menghakimi mereka? Bukankah itu adalah bagian dari pekerjaan Sang Pencipta?

Dan yang paling menyedihkan, saudaraku seiman yang paling banyak menghujat. Bukankah kepercayaan kita mengajarkan KASIH? Bukankah tawar dari kejahatan adalah kasih? Tidakkah seharusnya kita mendoakan mereka supaya kembali ke jalan yang benar?

Life is God’s novel, let Him write…
We just enough surrender to Him…







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.