Elon Musk ketika ditanya bagaimana anda bisa menciptakan atmosfir di planet merah Mars? Dengan enteng dan santai dia menjawab dinuklir saja tepat di bagian Kutub Utara. Dengan begitu, pecahan esnya berhamburan ke angkasa.

Lalu, dengan kecepatan berputar, Planet Mars dengan sendirinya akan membuat semacam membran yang nantinya secara perlahan membentuk atmosfir.




Begitulah cara Elon Musk menjawab problem yang bisa dikategorikan mustahil dalam otak primitif binatang melata macam Somad, dimana pelaku bom bunuh diri dia sebut sebagai sebuah tindakan yang mulia karena sedang berjuang di jalan Allah; sebuah kebodohan yang dipresentasikan di atas mimbar sambil komat kamit baca mantra langit.

Kita sedang hidup di Era Somad, bukan Era Elon yang jauh di sillicon valley sono. Otak kita dipenuhi oleh sampah komat-kamit Si Somad, karena ternyata si Joko lagi sibuk bangun jembatan layang dan jalur express.

Tapi, yang tidak saya pahami, mengapa manusia Indonesia tidak pernah mengajukan pertanyaan kepada Somad soal bom bunuh diri. Pertanyaanya begini ….

Jika Somad percaya bahwa dengan bom bunuh diri dia bisa langsung tembus ke sorga, mengapa Somad tidak melakukan itu pada dirinya yang keceng ganteng pun tidak, gitu lho?

Kalau generasi Elon Musk ngga perlu ditanya, karena level berpikir mereka sebentar lagi sampai pada level Homo Deus, level selanjutnya dari Homo Sapiens.

Bpk Dekonstruksi Indonesia.
Andi Safiah



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.