Kolom Asaaro Lahagu: SETELAH GOYAH, JOKOWI TEGAK LAGI

1
1151

Tiga survei terakhir (LSI, Charta Politika dan Indo Baromoter) telah merilis hasil surveinya. LSI Denny JA merilis bahwa elektabilitas Jokowi hanya sebesar 46%, Charta Politika 51,2% dan terakhir Indo Barometer sebesar40,7%. Ketiga survei terbaru itu melantunkan koor bersama. Ketiganya secara implisit menyatakan bahwa Jokowi sedang goyah.

Kendatipun elektabilitas Jokowi masih tertinggi, namun hal itu belum aman karena hanya berkutat pada angka 50%. Jokowi tetap dalam posisi goyah.




Goyahnya elektabilitas Jokowi itu memang sangat beralasan. Serangan tagar ganti presiden, turunnya nilai kurs Rupiah terhadap dollar dan isu utang, turut menambah kegoyahan Jokowi. Pertanyaannya adalah seberapa besar skala goyahnya Jokowi? Mungkinkah pasca teror bom di jantung Brimob beberapa waktu lalu, disusul serangan berikutnya di berbagai wilayah Indonesia, kegoyahan Jokowi semakin bertambah?

Dalam pengamatan saya, skala goyahnya Jokowi masih kecil termasuk pasca teror bom itu. Ibarat gempa, daya getar dari kegoyahan itu hanya mampu menghuyungkan Jokowi namun tidak sampai merobohkannya. Jika diibaratkan dengan badai di lautan, serangan itu hanya mampu menggoyangkan kapal. Namun goyangan badai itu tidak sampai merusak apalagi menenggelamkan kapal.

Serangan-serangan yang ditujukan kepada Jokowi tidak lebih sebagai warning. Ia hanya sebagai daya kejut agar Jokowi sendiri dan para pendukungnya tidak terlena. Bisa dikatakan bahwa hasil akhir dari serangan itu selain menyadarkan Jokowi, tetapi justru membuat Jokowi imun. Artinya, sesudah Jokowi menangkis serangan-serangan itu, ia kembali menjadi kuat. Dengan kata lain, survei LSI, Charta Politika dan Indo Barometer hanya mengkonfirmasi sesuatu. Serangan itu tidak mampu membuat elektabilitas Jokowi terjun bebas atau menukik tajam.

Sebagai contoh, saat teror bom terjadi, masyarakat sempat khawatir. Namun berkat kesigapan TNI-Polri, kekhawatiran akan keamanan itu menjadi hilang. Masyarakat akhirnya tidak menjadi panik dan percaya sepenuhnya kepada kekuatan TNI-Polri. Ketegasan yang dilakukan aparat, untuk menembak mati para teroris, sangat efektif mengembalikan kepercayaan masyarakat. Status-status netizen di media sosial yang terus berkumandang, bahwa ‘kami tidak takut’, membuat situasi cepat terkendali.




Sebaliknya pasca teror bom itu, kaum teroris semakin tersudut. Sejak aparat menyatakan perang kepada teroris, dalam kurun waktu 13 Mei-20 Mei 2018, sudah ada 74 teroris tertangkap. Di antaranya ada 14 orang yang tewas ditembak karena melawan petugas. Tak ketinggalan juga para provokator dan pemfitnah di sosial media. Pihak-pihak yang ikut mendukung teroris ikut juga diciduk oleh aparat. Di antaranya ada kepala sekolah negeri, dosen, pegawai BUMN.

Dipicu oleh teror bom itu, para pendukung teroris terkuak sendiri belangnya. Ternyata, di Indonesia ada banyak pihak yang mendukung para teroris. Hal itu sudah cukup dijadikan alasan bahwa, ke depan, upaya membersihkan sekolah, universitas, lembaga-lembaga negara dari bibit radikalisme mutlak dilakukan.




Selain kau perseorangan terkuak belangnya, 3 partai oposisi Gerinda, PKS dan PAN (partai dua kaki), semakin tersudut. Publik mencap negatif ketiga partai ini akibat Revisi Undang-undang Terorisme yang tidak kunjung selesai. Banyak orang percaya bahwa RUU Terorisme terhambat akibat ulah partai Gerinda dan PKS. Hal itu semakin kuat ketika ada oknum DPRD dari PKS yang ditangkap terkait terorisme.

Teror bom yang mengerikan itu mulanya menyudutkan Pemerintahan Jokowi. Namun, kemudian, publik dengan cepat bersimpati kepada Presiden Jokowi, ketika ia dengan tegas menumpasnya. Ada keyakinan jika Jokowi tidak lagi presiden, negeri ini tak bisa diprediksi nasibnya. NKRI bisa diujung tanduk dan mengalami nasib yang sama dengan Suriah dan Irak.

Ingat, selama 10 tahun pemerintahan sebelumnya, bibit-bibit radikalisme dibiarkan tumbuh subur termasuk Ormas HTI. HTI tanpa rintangan terus berpenetrasi di berbagai institusi, termasuk di kampus-kampus. Ketika tiba era pemerintahan Jokowi, bibit-bibit yang sudah tumbuh subur itu mucul dan meledak di permukaan. Ini kemudian menakutkan publik. Namun ketegasan dan keberanian Jokowi membuabarkan HTI dan menumpas dengan tegas terorisme, maka Jokowi yang sempat goyah, kembali tegak lagi. Selain itu insitusi TNI-Polri semakin solid. Belang kawan dan lawan semakin jelas dan terang-benderang.

Lalu, bagaimana dengan tagar presiden itu? Setelah sempat berkibar, pamor tagar ganti presiden itu lama-kelamaan pudar. Blunder para pendukung tagar ganti presiden itu di CFD beberapa waktu lalu membuat publik geram. Ternyata di balik tagar itu, terkuak bahwa para pendukungnya tagar itu adalah sejenis preman, pengecut yang hanya berani kepada anak-anak dan wanita.

Tagar Presiden itu pun dilawan dengan tagar Jokowi tetap Presiden, Jokowi Lanjut Presiden, Jokowi Presdenku, Jokowi 2 Periode dan ratusan tagar lainnya. Walaupun tidak terkoordinasi gaungnya, namun sudah cukup mengcounter pamor tagar presiden itu. Ke depan, Tagar Ganti Presiden pun akan semakin hilang pamornya seiring dengan waktu. Apalagi masyarakat semakin sadar bahwa mendukung Tagar Ganti Presiden tanpa jelas siapa nama penggantinya, bisa berarti lebih dungu dari keledai.

Soal elektabilitas yang berkutat pada angka 50%, bagi saya raihan itu sudah cukup menjadi modal Jokowi untuk bertarung pada Pilpres 2019 mendatang. Alasannya, masih ada waktu untuk meningkatkan elektabilitasnya. Pun lawan potensial Jokowi seperti Prabowo elektabilitasnya masih juga berkutat pada angka 20-25%. Padahal semua orang tahu bahwa sosok Prabowo yang sudah dua kali dilanching ke publik seharusnya laris manis. Namun, faktanya gagal dan tidak laku terjual. Sementara lawan lainya seperti Gatot, Anies, masih tidak beranjak pada angka 5%.

Kalau demikian tagar ganti presiden berubah menjadi tagar tetap presiden. Pun ketika serangan teroris gagal menakut-nakuti masyarakat, maka yang terjadi sebaliknya. Masyarakat semakin waspada dan bersatu melawan teroris bersama Presiden Jokowi dan aparat. Jika demikian, setelah Jokowi goyah, ia kembali tegak dan siap menangkis serangan yang sama atau serangan baru. Begitulah kura-kura.







1 COMMENT

  1. ‘setelah goyah tegak lagi’. . . sinanggel-surasura-sinanggel-surasura . . . ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ – tesis-antitesis-syntesis Karo.
    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.