Ada lagu baru di DPR, karangan Inas Nasrullah Zubir, politikus Hanura. Liriknya mengiris hati para tikus got dan kaum kampret. Mengapa? Karena ada kata tikus got dan kampret.

“Akan jadi apa negeri ini yang tercinta, semua kampret, kecoa dan tikus got pengen banget ganti presiden,” begitulah lirik lagu tersebut.







Lagu itu mengocok nalar saya. Mengapa para tikus got dan kaum kampret plus kecoa ingin mengganti presiden? Apa modus mereka? Saya bertanya dan menjawab sendiri hehe.

Ada dua macam jenis tikus got. Pertama, tikus got yang terancam dan selalu ketakutan. Siapa mereka? Mereka adalah pihak-pihak yang merasa terancam akan terjerat hukum karena sudah berbuat korup luar biasa di masa lalu. Mereka-mereka itu dengan sangat rakusnya telah menghisap dana negara dengan berbagai trik untuk menumpuk kekayaan.

Nah, karena Jokowi tak kompromi dalam menghabisi koruptor, maka pihak-pihak yang telah berbuat dan sarat dosa ini ketar-ketir. Mereka takut masuk penjara. Mereka kemudian membangun koalisi jahat dan rela mensuplai dana besar-besaran dalam kampanye ganti presiden 2019 alias mengganti Jokowi. Mereka bersumpah bahwa hanya dengan mengganti Jokowilah yang dapat menyelamatkan mereka dari jeratan hukum.

Mengganti Jokowi pada Pilpres 2019 adalah pertarungan hidup-mati mereka. Hanya ada dua pilihan: Jokowi diganti atau mereka yang masuk penjara seperti Setya Novanto. Masih ingatkah kue lezat Century? Nah itu salah satu contohnya.

Jenis tikus got yang ke dua adalah tikus got yang kekeringan dan kelaparan. Mereka adalah para koruptor yang telah rela berinvestasi besar-besaran untuk mendapatkan kursi jabatan di negeri ini. Investasi besar-besaran mereka sampai sekarang belum balik modal. Penyebabnya karena pemerintahan Jokowi sangat ketat dalam penggunaan dan pengawasan anggaran. Paceklik berjamaah yang dialami oleh kelompok ini membuat mereka menjerit-jerit. Aksi-aksi Jokowi yang menutup yang bocor, bocor dan bocor, membuat tikus got sangat kekeringan dan kelaparan.




Lalu, siapa kaum kampret yang juga kebelet mengganti Presiden? Mereka adalah kaum radikalisme dan separatisme. Dengan kedok agama, kelompok ini berusaha keras untuk menguasai Indonesia. Mereka ingin membuat negara ini sesuai dengan paham yang mereka anut. Kelompok ini sangat bernafsu menguasai negara ini seperti apa yang dilakukan oleh kelompok sejenis di negara lain seperti Mesir dan Turki. Lewat dalil agama, pentolan kelompok ini berani dengan lantang tidak mengakui Pancasila yang merupakan dasar negara.

Kelompok-kelompok di atas memiliki satu tujuan utama yakni mengganti presiden untuk melindungi kepentingannya masing-masing. Nah kesamaan misi inilah yang membuat tiga kelompok itu, yakni tikus got yang terancam, tikus got yang kelaparan dan kaum kampret bahu-membahu agar target mereka tercapai. Mereka punya satu tujuan utama, yakni mengganti presiden dengan segudang modus. Modus yang mereka pakai selalu gonta-ganti sesuai dengan kebutuhan.

Saat Ahok tersandung kasus Al-Maida, misalnya, ketiga kelompok itu bergerak bersama menggulingkan Jokowi. Lewat Ahok mereka berencana menggulingkan Jokowi. Seperti yang kita ketahui, modus penggulingan Jokowi lewat Ahok ternyata gagal total. Ketika ada sinyal bahwa mereka gagal, dengan segera mereka meluncurkan modus baru yaitu membangun konflik SARA ala kerusuhan 98 dengan sasaran etnis Cina. Hasilnya? Lewat kesigapan TNI dan Polri, modus itu kemudian gagal juga.

Masih ingatkah menjelang 30 September 2017 lalu? Saat itu ketiga kelompok ini sedang memainkan modus adu domba. Ya, saat itu sedang mengadu-domba Presiden Jokowi dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dengan menghembuskan adanya kudeta. Ternyata modus adu domba ini seperti yang kita ketahui gagal. Kini mereka sedang menghembuskan modus baru yakni tagar ganti presiden 2019. Alasannya: presiden sekarang tukang utang, tukang impor pekerja asing, tukang cabutin subsidi dan seterusnya.




Hebatnya koordinasi ketiga kelompok ini sangat rapi. Mereka biasanya serentak memukul gendang. Jika modus yang digaungkan bulan ini adalah konflik SARA, maka di mana-mana baik di dunia nyata dan di sosial media, ujaran-ujaran kebencian terhadap etnis tertentu terlontar. Jika modus adu domba Presiden dengan Panglima TNI, maka di mana-mana yang digaungkan menghembuskan adanya kudeta. Ketika modus yang digaungkan adalah tagar ganti presiden, maka di mana-mana mengglegar tagar ganti presiden.

Saat terjadinya teror bom di Mako Brimob, ketiga kelompok ini sebenarnya sedang membangun modus membenturkan aparat kepolisian dengan umat Islam. Modusnya adalah menghembuskan isu bahwa polisi menggunakan Al-Quran sebagai barang bukti kejahatan teroris. Kini ada modus baru dari tikus got dan kaum kampret yang tergabung dalam koalisi lebaran kuda. Katanya reformasi jilid II sangat mendesak dilakukan karena reformasi jilid 1 gagal.

Modus apa lagi yang dihembuskan? Mari kita tunggu deteksi kura-kura.







1 COMMENT

  1. Tikus got 1, Tikus got 2, dan Kampret . . . wow, metafor yang tepat pilihan.
    ‘Kampret’, apa karena suka teriak-teriak, serta kakinya diatas dan kepalanya dibawah ya?

    Dari segi lainnya ialah kekuatan luar (NWO) yang melihat tikus dan kampret, bikin meleleh air liurnya. Santapan paling lezat pikirnya. Karena
    “the thrust of ‘regime change’— is deployed in all major regions of the world.” kata Professor Chossudovsky dalam bukunya “The Globalization of War”.

    Neolib NWO sudah merasakan lezatnya tikus dan kampret 1965. Disini dapat hasil triliunan dolar dari SDA, dari satu sumber saja seperti emas Papua perusahaan neobib Freeport. Dan kekuasaan ditangan rezim marionet yang diangkat dan ditentukan sendiri oleh neolib internasionl NWO. Teror pembantaian 3 juta ‘orang komunis’ 1965 dan kudeta Soekarno sampai sekarang masih bersimpang siur beritanya. Masih tetap gelap atau digelapkan. Masih perlu peningkatan pengetahuan publik yang luas. Kekurangan informasi dan pengetahuan inilah yang telah menjadi kekuatan utama bagi neolib NWO untuk bikin teror dan ‘rezim change’.
    “It’s hard to think of a solution to these problems, given the fact that those who are pulling strings behind closed doors are so powerful, but their power lies in our ignorance.” http://truthrising.net/CHIEF-OF-CIA-BIN-LADEN-UNIT-TELLS-WORLD-AL-QAEDA-NEVER-EXISTED/
    Mari terus meningkatkan pengetahuan
    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.