Kolom Ganggas Yusmoro: DI TANGAN JOKOWI, POLITIK ITU TERNYATA ASYIK

0
198

Tidak dipungkiri bahwa lengsernya Pak Mantan, e ini menyisakan berbagai masalah. Jika kebijakan soal ekonomi dan pembangunan yang mangkrak agak bisa dimaklumi, namun ada hal yang paling mendasar dalam berbangsa dan bernegara. Pak Mantan terlalu lunak bahkan membiarkan oraganisasi yang jelas-jelas mau mengganti Ideologi Pancasila.

HTI dibiarkan beranak pinak. Masuk pada ruang-ruang publik. Menggerogoti dan masuk pada institusi negara. Meski senyap namun diam diam menjadi virus yang berbahaya. Berbahaya bagi keutuhan bangsa dan negara.

Ketika Jokowi terpilih, ketika nilai Kebangsaan dan Kebhinnekaan disuarakan keras, ketika pemerintah yang dimotori oleh PDIP mencanangkan nasionalisme, ketika Pancasila kembali digaungkan, Nawacita digeber, dan semua lini diluruskan kembali, di sinilah paham Khilafah menjadi seperti cacing kepanasan. Menggelepar berusaha menyudutkan pemerintahan Jokowi dengan berbagai cara.




Semua gerak gerik Jokowi dijadikan komoditi politik. Mulai pakai sarung kotak-kotak dianggap bermotif salib. Sholat pakai kaos kaki diributin. Keluar negeri bersama keluarga juga pada nyinyir, Ngasih makan kambing juga pada mbak mbek.

Lalu, apakah Jokowi mengikuti selera permainan mereka? Di sinilah kepiawaian Pak Jokowi. Beliau tidak menggubris. Beliau tetap melangkah pasti bersama pasukan di kabinetnya menyelesaikan semua program yang prestisius agar tidak ada yang mangkrak.

Ada filosofi Jawa yang sering kita dengar: Yo wis ben. Ini yang seringkali terjadi di tengah masyarakat yang suka menggunjing. Dalam skala kecil, seringkali kita harus tidak peduli dengan orang-orang yang iri, dengki dan sirik dengan mengucapkan “Yo wis ben”. Asyik, bukan?

Puncaknya adalah, tiba-tiba pak Jokowi mengangkat Ali Mochtar Ngabalin untuk jadi Jubir. Apa yang terjadi? Pak Jokowi tidak perlu repot-repot menangkis sendiri ocehan para pendengki. Jika dicermati, Jokowi seakan mengatakan gini: “Lho,ya, omongan yang keluar dari mulut Ngabalin adalah ucapan dari orang yang dulu kancamu.”

“Shubhanallah, semua orang di istana memikirkan Bangsa dan Negara,” ini ucapan Pak Ngabalin.

Para coro, capung, kadal dan codot tidak tahu pasti wajahnya seperti apa saat mendengar dan membaca celoteh bapak yang terhormat Jubir Istana, Ustadz Ngabalin. Hallaahhh..

Silahkan bilang ~ Subhanallah ~ (jangan kedengaran mereka, ya ….)

#TetapJokowi
#Jokowi2Periode.







Leave a Reply