Saya ini wong ndeso, wong Islam, wong Jowo asli, wong yang cuma ilmunya seujung kuku item. Tapi, aku tidak pernah menyakiti hati orang lain, memaki, menghasut apalagi memfitnah. Yang lagi tenar sekarang menghujad-hujad para pemimpin negeri.

Aduuhhh duuhh …. Miris dan sangat menyedihkan, punya ilmu tinggi, sekolah sampe ke luar negeri, pinter segala hadist or harokah ilmu keislaman, namun apa yang didapat?







Ilmunya tak bermanfaat or berguna. Dengan ilmu segunung jadi merasa angkuh dan sombong. Merasa diri paling benar. Merasa diri halal untuk menghujat or mencaci- maki dengan kata-kata kotor yang tak beretika. Duhh Gusti Nu Agung …. heuu kumahaa GUSTII?

Orang yang punya ilmu tinggi seharusnya makin bijaksana dalam tindakkan, santun dalam ucapan, baik hatinya lagi pemaaf. Punya ilmu tinggi seharusnya menjadi jalan mencari RIDHO ILLAH, menyiarkan kebaikan dan perdamaian antar ummah, bermanfaat buat orang banyak, menjadi pengayom orang banyak, menjadi panutan or menjadi suri tauladan orang banyak. Masya Alloh ….




Punya ilmu tinggi gunakan sebijak mungkin, sebab iman ditentukan oleh hati bukan dengan kata-kata kotor tak karuan. Saya ini cuma wong ndeso aja faham, “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”, bukan kacang lali lanjaran …. wong urip iku kudu guyup rukun eling-eling NKRI iki milik rakyat Indonesia ….

NUSANTARA JAYA BUMI PERTIWI KITA.



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.