Kemenangan Mahatir Muhammad di Malaysia atas incumbent (Najib Razak) membawa angin ueforia berlebihan kaum micin curah di Indonesia. Mereka mengatakan: “Malaysia sekarang punya pemimpin baru. Jadi, 2019 nanti, Indonesia Harus punya Presiden Baru.” Apakah keinginan mereka salah? Tidak. Memiliki Capres adalah hak semua warga Indonesia. Yang menjadi masalah adalah penyesetan informasi.

Saat ditanya kenapa Jokowi harus diganti (?), dengan kompaknya semua kampret akan berteriak: “Gara-gara Jokowi listrik naik, BBM naik, Harga barang-barang naik, beras impor, rupiah ambles, hutang menggunung. Presiden ngak bisa kerja dan cuma obral janji kok dipertahankan?”




Nah cara-cara kotor yang mereka lakukan itulah yang salah. Mereka ini bukan murni rakyat jelata yang ingin memiliki presiden baru, tapi hanya gerombolan manusia frustasi karena semua subisidinya dicabut. Mereka sekumpulan zombie yang lagi setres akut karena nggak bisa lagi jadi mafia anggaran di proyek-proyek pemerintah.

Kalau alasannya hutang naik, harusnya mereka mikirlah Jokowi aja saat dilantik udah diwarisin hutang Rp. 2.700 T. Tiap tahun bunga dan pokoknya harus dibayar hampir Rp. 365 T. Kalau sekarang nggak nambah hutang, terus buat ngelanjutin dan menyelesaikan infrastruktur mangkraknya Pak Mantan pakai apa? Pakai daun? Buat bangun jalan, Bandara atau bendungan baru pakai apa? Pakai upil?

Harga-harga mahal? Lah, emang dulu harga daging, cabe, beras, dll berapa? Kayaknya sama dech dulu daging Rp. 120 ribu/ Kg. Sekarang juga segitu. Beras impor? Emang zaman Pak Mantan beras nggak impor? Malahan dulu tiap tahun impor beras dengan jumlah gila-gilaan sampai jutaan ton. 4 tahun era Pakde jadi presiden, Jokowi baru 2 kali impor beras. Itu juga jumlahnya sedikit. Bukan karena di dalam negeri nggak ada beras, tapi karena memenuhi amanat UU perihal batas minimum stok beras nasional.

Apalagi? Masalah dollar? Dulu tahun 2015 dollar juga sempat di angka 14 bahkan 15 ribuan, tapi akhirnya balik normal lagi. Waktu naik kalian hujat habis-habisan, kan? Tapi waktu normal lagi apa ada kalian puji? Kagaakk…. Kalian cuma mingkem pura-pura tuli. Jadi, nggak usah teriak-teriak dollar lah. Lha, wong beli ikan asin aja masih nawar, sok-sokkan ngomoin dollar.

Jadi, alasan-alasan kalian ingin menganti Jokowi itu mengada-ada dan terkesan hoax. Tapi, ya, sudah. Kalau mau tetep ganti pemimpin seperti di Malaysia itu hak kalian. Kan hoby kalian dari dulu memang selalu membanggakan negara lain dibanding negeri sendiri. Tapi, supaya adil, yuk kita bandingan keadaan Malaysia dengan Indonesia sekarang ini.




Najib diganti itu wajar, karena tingkat kepercayaan rakyat Malaysia kepada pemerintahannya itu rendah sekali. Bandingkan dengan Jokowi yang memiliki tingkat kepercayaan di atas 80% berdasarkan Laporan Organization for Economic Cooperation and Development atau OECD tahun 2017 kemarin.

Mau bandingan masalah apa lagi? Integritas? Boleh. Kemarin Penyidik Kepolisian Malaysia menyita uang sejumlah 120 juta Ringgit Malaysia atau senilai Rp. 426 Milyar. Juga ada beberapa tas dan koper berisi jam tangan mewah, perhiasan dan beberapa tumpuk mata uang asing. Semuanya ditemukan di beberapa apartemen milik mantan PM Malaysia (Najib Razak) belum lagi skandal kasus 1MDB dimana KPKnya malaysia (MACC) menemukan aliran dana senilai 681 juta dollar atau senilai Rp. 9,07 T ke rekening pribadi Najib.

Bandingkan dengan Jokowi yang nyaris bebas isu soal korupsi. Keluarga Najib terkenal dengan hidup Hendonismenya alias foya-foya. Coba lihat keluarga Jokowi. Lah, anak-anaknya malah sibuk jualan martabak sama pisang bakar. Bukannya minta jatah proyek sama bapaknya. Dasar katrok anak-anak Jokowi.

Jadi, udah yah, ngak usah sebar hoax lagi buat memenuhi syahawat politikmu yang nggak jelas itu apa? Loe bilang rakyat Malaysia sekarang lagi patungan buat bayar hutang? Nggak usah banyak tingkahlah. Loe mau Jokowi juga buat kebijakan supaya rakyatnya mau patungan buat bayar hutang? Oalah cuk…. cuk…. lah kowe ngisi BBM aja ngantri di barisan Premiun kok sok-sokan mau nyumbang buat bayar hutang negara.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.