Lebaran bulan depan adalah ajang promosi dan cari perhatian, selain dari ajang bermaaf-maafan. Ajang promosi bahwa “ini loh aku”, sudah sukses, sudah kaya dan mudik pun bawa mobil. It’s OK. Semua itu wajar dan namanya juga manusia (suka pamer). Tetapi bagaimana perasaan anda ketika seorang teman, saudara atau konco lawas yang sudah lama gak bertemu. Eh begitu bertemu saat mudik lebaran, memakai kaos ganti presiden 2019?

Eneg atau pengen muntahin isi perut ke si pemakai kaos?

Hal inilah yang akan merusak kesucian lebaran itu. Idhul Fitri yang sejatinya untuk saling bersilaturahmi, bermaaf-maafan dan saling berbagi kebahagiaan, jadi hilang momennya gara-gara adanya kaos provokasi.

Gimana gak hilang momennya? Lha, pas ketemu dan ingin saling bermaaf-maafan, eh salah satunya pakai kaos provokasi tersebut. Walhasil maaf-maafan gak jadi, berdebat bertengkar hingga jambak-jambakan rambut yang terjadi.

Boleh anda gak suka terhadap Presiden Jokowi. Tetapi, saran saya, jangan kotori hari nan fitri anda nanti dengan kaos anda yang bernada provokasi. Bagaimanapun juga, saudara dan teman adalah hal utama. Hormati hak pilih mereka dan jangan menyinggung perasaannya. Bukankah bercerita tentang indahnya masa lalu itu lebih asyik daripada sekedar berbicara tentang pilihan politik?

Karena hakikat bersilaturahmi di hari Idhul Fitri itu adalah “meskipun berbeda namun tetap seduluran selamanya”. Itulah sejatinya tujuan utama, di saat mudik kita nantinya yang emejing dan warbiasyah. Tetapi, jikalau anda memaksa tetap memakai kaos provokasi bertagar ganti presiden 2019, maka ya jangan salahkan orang lain bila meneriaki anda dengan teriakan.

“Woooiii… pendukung TERORIS mudik lebaran juga rupanya?”
Salam Jemblem..







Leave a Reply