Ditolaknya ulama picisan yang suka bicara ekstrim, yang suka bicara ngelantur meski tidak lagi mabuk janda di beberapa daerah, juga ada komplain dari beberapa daerah yang tidak ingin kotanya diputar film “Power Of Love”. Film ini dianggap tidak mewakili jati diri bangsa, tandanya bangsa ini sudah makin banyak yang sadar.

Sadar bahwa kebenaran yang universal, nilai-nilai harmonisasi sebuah bangsa yang plural, yang menjadi satu dalam satu atap yang namanya Pancasila.




Negeri ini tidak boleh seperti Suriah atau seperti negara-negara Jazirah Arab lainnya. Yang selalu saling membunuh, yang selalu dirundung kesedihan ketika banyak anggota keluarga menjadi korban. Mayat-mayat bergelimpangan. Darah berceceran hanya karena perbedaan golongan. Hanya karena perbedaan suku, agama dan ras yang dibawa ke ranah politik.

Agama apapun tentu mengajarkan rasa kasih kepada setiap manusia. Agama apapun rasanya membuat damai di hati. Membuat rasa tenteram dalam hubungan antar sesama manusia. Jika ada golongan yang merasa eksklusif, merasa yang paling bener, lalu membuat gaduh mengusung keegoisan kebenarannya sendiri, jelas akan merusak dan merobek-robek jalinan kasih kerukunan berbangsa dan bernegara.

Aksi teroris yang dipicu oleh keinginan mendirikan Khilafah, aksi yang brutal dan tidak berperikemanusiaan adalah bukti bahwa cara-cara tersebut tidak sesuai dengan akar budaya bangsa ini yang mengedepankan tepo sliro, unggah ungguh dan welas asih. Intoleran, merasa yang paling benar, suka membid’ahkan, membenci ulama yang moderat, tidak menghormati simbol-simbol negara, adalah merupakan sikap radikal yang, jika dibiarkan, akan menjadi gerombolan teroris!

Bangsa ini tidak boleh kecamuk, siapapun dan apapun bentuknya yang ingin merongrong Pancasila tidak boleh ada di Bumi Pertiwi ini. Harus diberangus! Jika bersatunya Kepolisian dan TNI untuk menghabisi terorisme beserta bibit-bibit radikalisme, tentu kami sebagai rakyat sangat mendukung!

Kami ingin damai.




2 COMMENTS

  1. Film ‘Power of Love’ tidak bisa dipisahkan dari tujuan aslinya gerakan 212.
    Juru bicara Polri, Boy Rafli membantah bahwa penangkapan ditujukan untuk membungkam kritik terhadap pemerintah. “Ada garis yang jelas perbedaan antara memberikan kritik dan mencoba berkonspirasi dan memprovokasi orang untuk melakukan makar,” ujarnya. Polisi beralasan mereka memiliki dasar yang kuat untuk menetapkan mereka sebagai tersangka, berdasarkan bukti-bukti termasuk “dokumen tulisan tangan dan bukti elektronik yang mencatat percakapan antara tersangka.” http://www.dw.com

  2. Film ‘Power of Love’ tidak bisa dipisahkan dari tujuan aslinya gerakan 212.
    Juru bicara Polri, Boy Rafli membantah bahwa penangkapan ditujukan untuk membungkam kritik terhadap pemerintah. “Ada garis yang jelas perbedaan antara memberikan kritik dan mencoba berkonspirasi dan memprovokasi orang untuk melakukan makar,” ujarnya. Polisi beralasan mereka memiliki dasar yang kuat untuk menetapkan mereka sebagai tersangka, berdasarkan bukti-bukti termasuk “dokumen tulisan tangan dan bukti elektronik yang mencatat percakapan antara tersangka.” http://www.dw.com/id/polri-duga-sejumlah-orang-ingin-belokkan-aksi-212-jadi-aksi-makar/a-36639736

Leave a Reply