Kalau ada politisi paling ngenes, mungkin dia adalah Prabowo. Niatnya untuk jadi Capres (inget, baru Capres, belum Presiden) masih menggantung. Meskipun Gerindra sudah mengusung Prabowo secara resmi, tapi suara Gerindra gak cukup. Partai itu akhirnya bergantung dengan partai lain yang lebih kecil seperti PKS dan PAN. Dan sialnya, lebih lincah.

Amien Rais seolah mendukung Prabowo mati-matian seperti yang dilakukan pada Pilpres yang lalu. Semua yang berkenaan dengan Amien memang kesannya anti-Jokowi. Tapi, orang juga tahu PAN sekarang masuk dalam koalisi pemerintah. Seorang kadernya Asman Abnur, duduk di pemerintahan.




Meski PAN jelas-jelas main dua-kaki begitu, Prabowo ya, hanya bisa menelan ludah sambil mengelus dada. Entah dada siapa. Ngenes, kan?

Meski sudah nurut seperti itu, toh PAN belum juga secara resmi memberikan dukungannya kepada Prabowo. Partai itu masih membiarkan Amien Rais memainkan jusrus PHP habis-habisan.

Selain PAN, Prabowo juga bergantung kepada PKS. Partainya sih, kecil. Cuma calon Presiden dan Wapresnya paling banyak. Ada 9 orang sekaligus. Kesembilan orang yang dimajukan PKS ini tampak dari luar seperti biasa-biasa saja. Tapi di dalamnya mengandung gejolak luar biasa.

Masing-masing orang yang dicalonkan PKS sudah horny sendiri. Saling gesek dan gasak terjadi di akar rumput. Sudah jadi rahasia umum faksi Anis Matta milsanya, perang habis-habisan dengan faksi Sohibul Iman. Bahkan banyak yang main pecat dan singkirkan. Surat kaleng beredar. Informasi palsu dan fitnah merajalela.

Ada lagi faksi Ahmad Heryawan di Jawa Barat. Tadinya faksi Aher cukup percaya diri karena dua kali memenangkan Pilkada. Tapi, orang juga mau tahu apakah Aher dan PKS benar-benar punya basis masa loyal? Bagaimana cara mengukurnya? Salah satunya dilihat seberapa besar suara Sudrajat-Saikhu di Pilkada Jabar nanti. Kalau ternyata jeblok, Aher dan PKS bisa dibilang kehilangan gregetnya di sana.

Nah, konflik internal yang keras itu, meski gak muncul ke permukaan juga membuat Prabowo jengah. Apalagi Presiden PKS Sohibul Iman terus mendesak agar Prabowo secepatnya memilih satu dari sembilan kandidat yang diajukan PKS. Sohibul seperti menyerahkan bola api konflik PKS ke tangan Prabowo.

Toh, tradisi kepatuhan di PKS sudah tidak dapat dijadikan bahan jualan lagi. Buktinya, Fahri Hamzah terus melawan DPP dan di berbagai daerah ada gejolak kepengurusan. Buktinya Anis Matta main sendiri, tidak mau mengkuti aturan PKS untuk tidak mempromosikan dirinya. Anis memasang baliho di mana-mana.

Artinya, jika Prabowo memilih Cawapres dari PKS, belum tentu semua akar rumput PKS mau membantunya.

Di tengah suasana mual dan perut kembung karena partai-partai yang lebih kecil pada betingkah dan ribut minta apmpun, Prabowo malah mengambil langkah yang membuat dia makin nyungsep. Kemarin, bersama Amien Rais, dia sowan ke Rizieq Shihab di Saudi, sehabis melakukan umroh politis.

Kenapa Prabowo kesannya makin nyungsep? Begini.




Pertemuan alumni 212 kemarin merekomendasikan Rizieq sebagai Capres. Namanya ditaruh di urutan paling atas, sementara Prabowo ada di urutan ke dua. Nama Prabowo juga direkomendasikan untuk posisi Cawapres, sedangkan Rizieq hanya Capres saja. Jadi, sesungguhnya derajat Prabowo di mata alumni 212 jauh di bawah Rizieq.

Kalau Rizieq gak mungkin jadi Cawapres. Sedangkan Prabowo, bisa saja. Yang penting dapat jabatan.

Langkah Prabowo sowan ke Rizieq menunjukan, secara politis, Gerindra dan Prabowo sudah berada di ketiak Ketua FPI itu.

Bahkan, setelah jauh-jauh disambangi Prabowo dengan merendahkan dirinya sendiri, pertemuan itu ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Rizieq tidak secara tegas mendukung Prabowo. Tidak ada nama yang disebutkan akan mereka usung sebagai Capres atau Cawapres. Yang ada hanya ide koalisi keumatan saja.

Jadi? Setelah berbagai atraksi politik dan kehebohan, nyatanya juga tidak memberikan nilai apa-apa kepada pencalonan Prabowo. Sampai sekarang, Prabowo masih seperti yang dulu. Jones. Jomblo ngenes.




Soal koalisi keumatan itu juga bukan jalan mulus. Belum juga sehari, Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra menuding Amien Rais suka berbohong. Di samping itu, elit PKS yang direncakan bertemu bersama malah tidak hadir. Eh, mereka malah melakukan pertemuan dengan Rizieq setelah Amien dan Prabowo pulang. Ajib.

Mengapa PKS menolak bertemu Rizieq bareng Amien dan Prabowo? Mungkin PKS tidak mau berada di bawah ketiak Amien. “Emang Amien siapa? Toh, suara PKS lebih banyak dibanding PAN, masa dia mau ngatur-ngatur.”

Jadi, mau koalisi keumatan atau koalisi kumatan, jika kontennya orang yang hobinya saling cakar dan curiga, ujung-ujungnya mereka akan berantem sendiri. Ini sama persis dengan alumni 212. Ngakunya bawa-bawa agama, ujungnya terpecah menjadi berbagai golongan. Masing-masing golongan mau cari celah dan mangsa sendiri-sendiri.

Sepulang umroh, tampaknya Prabowo masih kepusingan sendiri.

Dia butuh banyak koyo cabe untuk ditempel ke keningnya.

“Mas, kayaknya yang bikin Pak Prabowo pusing bukan soal Capres-capresan, deh,” Abu Kumkum menyela.

“Habis soal apa, kang?”

“Soal foto itu lho, mas. Dia pusing kenapa fotonya dihapus oleh instagram. Itu yang lebih penting daripada soal Capres-capesan.”




1 COMMENT

  1. Pak ‘Jones’ kelihatannya sedang sakit kehilangan pede yang sangat akut. Sakit psikologis, obatnya langka, kadang bisa juga tukang nujum seperti di Arab itu. Kalau sakit pinggang sih obatnya gampang, cukup dengan ayam panggang he he . . .

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.