Kolom Lyana Lukito: KAMI TIONGHOA CINTA DAN BERBAKTI KE TANAH AIR INDONESIA

.... masih banyak kaum Tionghoa lainnya yang hanya tahu kami Indonesia, kami lahir hidup cari duit dan mati di negeri nan indah ini ....

2
2077

Saya paling kesal kalau ada orang yang mengindentikkan kaum Tionghoa (minoritas) dengan kekayaan, harta, borjuis, matre dan hidup yang eksklusif. Saya lahir dari keluarga sederhana Tionghoa dan sejak lahir yang saya tahu, Tanah Air saya hanya Indonesia. Bahasa yang saya bisa hanya Bahasa Indonesia dan saya Bangsa Indonesia.

Walaupun sejak sekolah SD saya selalu diledekin “Cina gong Cina gong Cina makan bagong” sambil sesekali dilempari batu kerikil oleh anak-anak.

Tetapi saya tidak marah. Saya sadar kulitku lebih terang. Mataku lebih kecil. Kita memang berbeda secara fisik, tetapi kehidupan kita sama. Sejak lahir hidup dalam kesederhanaan kesusahan. Makan seadanya. Bahkan sering hanya dengan kecap. Paling mewah telor ceplok.




Pernah suatu hari saya ditertawakan didepan satu kelas karena tertinggal sebutir nasi dengan kecap di mulut saya. Mereka menertawakan saya karena makan hanya dengan kecap. It’s OK, Thats real.

Baju baru saya dapat hanya satu tahun sekali pas Imlek. Itupun dibelikan di pasar yang murah. Selebihnya semua baju saya adalah baju bekas hibahan dari orang lain. Dan, saya bersukacita sekali karena model baju-bajunya bagus-bagus.

Sekolah pun dari SD hingga SMA setiap hari saya harus berjalan kaki jauh sekali. Bayangkan betapa anak sekecil saya setiap hari berjalan jauh sambil berdoa agar tidak bertemu orang-orang yang berniat jahat karena saya anak perempuan dan masih kecil. Uang jajan saya tidak cukup untuk membeli sekedar segelas air minum. Saya harus bersyukur karena sejak kecil papa saya sudah tiada. Masuk sekolah pun karna belas kasihan Wakil Kepala Sekolah dengan modal surat keterangan tidak mampu. Saya diberikan uang sekolah paling murah dari seluruh siswa hingga lulus SMEA (Saya pilih SMEA biar bisa cepat kerja).

Lepas SMEA, saya bekerja dan memutuskan kuliah. Saya tahu mama saya pasti kaget dan menentang. Tapi saya memiliki tekad yang kuat. Saya cuma minta uang masuk saja. Sebagian uang masuk kuliah saya dari uang duka papa saya. Sebagian lagi pinjam. Hingga lulus saya membiayai kuliah saya sendiri, walau harus bekerja keras hingga sakit tapi tidak memundurkan tekad saya sejengkalpun.

Saya bisa mengumpulkan uang untuk lanjut ke S2, tetapi saya mengalah untuk adik saya.




Jadi, tidak semua Tionghoa itu asing aseng kaya dan hidup eksklusif! Selain saya, masih banyak kaum Tionghoa lainnya yang hanya tahu kami Indonesia, kami lahir hidup cari duit dan mati di negeri nan indah ini. Kisah Jack dan Anton adalah dua pemuda tampan minoritas Tionghoa yang tidak memiliki rasa malu untuk sekedar berdagang kue di depan mini market Jatinegara bahkan mereka mondar mandir. Sesekali mereka duduk di trotoar sambil menawarkan daganganmya yang untungnya tidak seberapa bagi kalian, tetapi sudah mereka geluti dengan kerja keras mereka di tengah kerasnya kehidupan selama 18 tahun sejak mereka kecil!

Jangan bedakan kami minoritas sebagai sesama saudara kalian, walaupun kulit, kita berbeda, adat budaya latar belakang kita tidak sama, tapi kita adalah Indonesia.







2 COMMENTS

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.