Kampret: “Cebong itu lucu. Masak kalau bukan pendukung Jokowi mudik nggak boleh lewat tol buatan dia. Logikanya kalau nggak dukung Pak Harto nggak boleh masuk Taman Mini, kalau nggak dukung SBY nggak boleh lewat Kelok 9 atau Suramadu, dasar IQ 200 sekolam.”

Gua: “Ya, ga gitu juga, Preett. Semua fasilitas publik yang dibangun pakai APBN yang nota bene uang rakyat boleh dipakai siapa aja.”

Selanjutnya saya jelasin, saat seseorang menjadi Presiden dia telah meninggalkan ego individual dan golongannya dia harus bisa menjadi presiden semua rakyat Indonesia. Jokowi itu kalah suara di Jabar, tapi Bandara Kertajati yang mangkrak 10 tahun atau waduk terbesar di Indonesia Jatigede yang nggak kelar-kelar di era Pak Mantan juga diberesin sama beliau.

Di Riau dan Sumbar Jokowi juga kalah suara. Kalau dia benci pasti nggak dibangunkan tol di sana. Jokowi mah nothing to lose. Loe aja yang Baperan. Yang loe bilang di atas itu kan cuma sindiran bagi orang-orang yang punya malu. Kalau loe nggak bisa muji setidaknya jangan maki-maki.

Cobalah loe fikir loe pakai kaos Ganti Presiden waktu mudik lewat Tol Cipali, beli premiumnya pakai THR dan gaji ke 13 dari Pemerintah. Sampai di kampung selfie-selfie di depan sawah dan jalan desa yang dibangun pakai dana desa program Jokowi. Tapi sampai di rumah loe fitnah-fitnah Jokowi. Itu namanya apa? Muka tembok atau kampret ndajancok.

“Nggak dukung ya gak apa-apa, tapi mbok Mingkem Bae,” kataku mengakhiri.







Leave a Reply