Saya melihat SBY lagi galau saat ini. Ada apa? Melihat ulah si Prabowo. Perbuatan si Prabowo ini aneh tapi nyata. Bagaimana mungkin seorang Jenderal, tunduk di bawah ketiak Rizieq? Bagaimana mungkin Rizieq yang 2 kali dipenjara di era SBY, kini disembah oleh Amin Rais dan Prabowo?

Oh… tak mungkin, tak mungkin. Mirip lagu lagu Koes Plus Zaman Old. Bisa bikin album baru versi Zaman Now hehe.




Tadinya SBY mau ketemu Prabowo. Buat koalisi gitu. Prabowo Capres, AHY Cawapres. Klop dah. PKS dan PAN pendukung. Eh, datang Si Amin Rais, ahli pengkhianat menurut Tri Soetrisno. Nalar Prabowo disusupi.

“Bo… kita ke Arab, yuk,” bujuk Amin Rais.

“Ngapain?” tanya si Bo.

“Kita minta restu si Rizieq. Dia itu amat berpengaruh di Pilpres 2019, lho. Buktinya Ahok kalah di DKI,” ujar Amin lembut nan menawan.

“Lalu?” tanya si Bo penasaran.

“Gini, lho, Bo. Pura-pura nggak tahu aja. Si Rizieq itu, kan, Imam besar umat Islam Indonesia. Kita di PA 212 sudah menghasilkan rekomendasi hebat. Rizieq itu dipilih sebagai Capres nomor satu. Anda Bo, hanya nomor dua. Jadi, kalau mau nyapres, harus minta Izin restunya sekaligus dukungan si Rizieq,” jelas Amin.

“Jadi?” tanya si Bo gemetaran.

“Ingat gue, dong, Bo” kata si Amin.

“Maksudnya?” Bo balik nanya.

“Karena gue yang punya ide ke Arab, dan karena gue sudah capek-capek ngurus PA 212 itu, aku minta jatah Cawapres gitu. Gue minta si Zulkifi jadi Cawapresmu aja. Jadi karena PKS jual-jual mahal, kita aja yang kawin. Gerinda-PAN. Mantap, kan?” tegas si Amin.

“Ok, oklah kalau begitu,” si Bo setuju sambil manggut-manggut kepala.




Pendek kata si Prabowo ngikut bujukan maut si Amin ke Arab. Jadilah pertemuan itu. Hasilnya? Si Amin dan si Prabowo mendapat julukan baru: “si Jenderal dan si sesepuh di Bawah Ketiak Rizieq.” Setelah sukses di Arab, si Amin Rais tersenyum-senyum lebar selebar daun talas. Mengapa?

“Saya sudah degradasikan derajat si Jenderal. Mauhkah PDIP berkoalisi dengan seorang jenderal yang sudah tunduk di bawah ketiak Rizieq? Masih maukah Si Puan Maharani menjajaki koalisi dengan Gerinda?” tanya Amin Rais dengan senyum puas.

“Pasti si Bo tidak bisa lagi ke lain hati,” yakin si Amin

“Lalu masih maukah si SBY juga berkoalisi dengan Prabowo, Sang Jenderal di bawah ketiak Rizieq? Haha. Mumet. Ujung-ujungnya yang kawin Gerinda-PAN. Lalu PKS? Gampang. Mau tidak mau Si PKS yang saling nyikut di internal mereka itu ngikut aja Gerinda seperti di DKI itu”, ujar batin Amin Rais.

Situasi di atas membuat SBY galau. Akibat pertemuan segitiga Prabowo-Amin dan Rizieq itu, SBY bingung. Mau bergabung dengan Gerinda, malu. Mau berbalik kanan, dan melirik ke Jokowi, juga serba sulit. Ah, serba sulit. Ambil gitar gulu. Nyanyi…

“Aku mau pilih jalan yang mana…. Tralala…. tralalala. Bisa, bisa-bisa aku mengambang seperti ikan tak berdaya…. Tralala… tralalala,” dari kunci G ke G minor, turun ke F Minor, terjun ke D minor. Serak.

Tadinya SBY mau sekali bergabung dengan Jokowi. Apalagi kalau AHY jadi Cawapresnya Jokowi. Mantap. Hati ini berbunga-bunga. Laksana hamparan bunga di pinggir jalanan Paris di musim semi. Masa depan gilang-gemilang. Asyik. Jokowi pasti menang.

“Insya Allah, Partai Demokrat bisa bergabung dengan Pak Jokowi untuk Indonesia yang lebih baik,” begitu lirik alunan batin SBY.

“KPK diperintahkan untuk menersangkakan Budiono soal kasus Century,” begitu berita bak halilintar muncul tiba-tiba menghantam kalbu SBY. Braaaaak. Nalar sang Jenderal langsung berbalik 180°.




“Siapa di balik pembuat isu itu?” tanya SBY. Menersangkakan Budiono berarti menelanjangi diriku juga. “Ini pasti manufer pihak penguasa bersama orang-orang di belakangnya,” rintih SBY. “Aku harus melawan nih,” darah SBY mengalir deras.

SBY langsung berbaik-baik dengan si Prabowo.

“Kita bentuk poros PD, Gerinda, PKS dan PAN aja. Jadwalkan pertemuanku dengan Prabowo. Biar kami makan bersama nasi goreng lagi,” perintah SBY kepada pengikutnya. Tetapi apa yang terjadi? Belum sempat ketemu dengan Prabowo, ia sudah ditusuk dari belakang oleh Si Amin Rais. Si Prabowo sudah keburu direbut oleh Rizieq. Sekarang SBY galau. Segalau-galaunya.

Bagaimana dengan si Prabowo? Sebelas-duabelas. Mirip galaunya. Prabowo tak sadar bahwa ia masuk dalam jebakan Amin Rais. Ia tak sadar bahwa ia bakal mendapat julukan baru si Jenderal di ketiak Rizieq. Lalu Demokrat sekarang mulai menjauh. SBY tentu tidak mau ikut-ikutan di bawah ketiak Rizieq. Masa jenderal di bawah ketiak Rizieq? Lalu PKS juga marah karena mereka tidak diajak. Galau. Jika PKS dan PD menjauh, tinggal aku dan Amin Rais. Keduanya mantan capres yang gagal. Gagal lagi… gagal lagi.

Belum habis galaunya, si Prabowo dikejutkan oleh berita baru lagi. Si Puan Maharani mau ketemu dalam waktu dekat. “Mau nggak ya? Mau… nolak, mau… nolak, mau…nolak kayak anak kecil aja. Jika mau, berarti jadi dong Cawapresnya Jokowi. Apa kata dunia? Tanya si Bo.

“Bagaimana perasaan si Amin Rais? Pasti dia bilang: Si Bo akan dilengserkan oleh Allah,” ketus Prabowo galau.

“Ya Tuhan, sampai dimana kegalauan ini berakhir. Sampai lebaran kudakah?” curhat si Bo.

Dua jenderal pun semakin galau ketika melihat si tukang kayu semakin di depan. Survei terbaru Charta: Jokowi menang di Jabar, Jateng dan Jatim. Prabowo hanya menang di Banten.

“Jokowi menang di Jabar?” mata Prabowo terbelalak.

“Tidak, aku tidak percaya itu,” teriak Prabowo.

“Panggil survei INES. Buat dulu aku menang di Jabar, Jatim dan Jateng,” perintah si Bo.

“Mana bayarannya, Bo,” tanya si INES.

“Nanti aja saat lebaran kuda,” seru dua jenderal serentak. Keduanyapun kembali galau.




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.