Perlu dicatat bahwa yang melakukan aktivitas politik adalah Homo Homi Sapienus (HHS). Dalam setiap aktivitas politiknya, HHS bisa menggunakan pendekatan apapun sesuai dengan kebutuhan dan juga kepentingannya. Indonesia misalkan, ada begitu banyak HHS yang hidup sekaligus beraktivitas di dalamnya. Lebih banyak menggunakan Islam sebagai pendekatan politik, karena hanya Islam yang bersarang dalam kesadaran mereka.

Di luar ideologi Islam menjadi tidak menarik, karena alasan-alasan yang sifatnya ‘akidah’.




Bahkan Indonesia yang punya ideologi resmi harus diterjemahkan ke dalam Islam agar memenuhi standard mereka. Lihat saja misalkan Pembukaan UUD 45 dipahami sebagai spirit Islam, karena pada alinea ke tiga tertulis: “Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa.” Ini dipahami sebagai spirit Islam, karena tanpa rahmat dari Allah maka bangsa Indonesia mungkin tidak akan pernah merdeka.

Padahal, fakta di balik kemerdekaan bangsa Indonesia sangatlah kompleks. Kompleksitasnya menjadi tidak penting karena ada unsur Allah di sana. Allahlah yang maha penting dan penentu Kemerdekaan Indonesia.

Ketika ada yang berusaha memberikan penjelasan yang sedikit lebih terbuka soal bagaimana bangsa ini lahir, maka akan dicap macam-macam, bahkan bisa sampai pada proses yang lebih kejam yaitu membunuh karier politik seseorang. Lihat saja misalkan, jauh sebelum Indonesia merdeka sebagai anak bangsa yang tergabung dalam berbagai jong (sebuah kata Belanda untuk muda atau pemuda) sudah mengucapkan “Sumpah Pemuda” sebagai spirit awal dalam membangun Indonesia yang datang dari beragam identitas kebudayaan, suku, maupun bahasa. Namun, karena spiritnya adalah ingin membangun sebuah bangsa yang berpijak di atas semangat kebersamaan dan keberagaman, maka mereka dengan sadar dan suka rela menyimpan identitas primordial, lalu berpijak bersama di atas identitas bersama yaitu Indonesia.

Inilah semangat yang dilupakan oleh generasi muda bangsa ini. Kita terjebak dalam satu pola yang coba dipaksakan. Sebuah identitas yang saya sebut sangat ‘egosentrik mayoritas’ dan tidak cocok dengan semangat utama bangsa Indonesia didirikan.

Untuk semua kesalahpahaman ini kita perlu terus menulis agar kesalahpahaman akibat paham yang salah kaprah bisa segera diurai, bahwa tidak peduli apapun latar belakang anda, asalkan spirit anda adalah ingin membangun Indonesia, maka anda adalah Indonesia.

FOTO-FOTO: Wartawan dan foto model SORA SIRULO (Siska V. Tarigan)




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.