Gosip yang beredar di WAG dan medsos lainnya mengatakan kasus chat WA mesum Riziek Shihab dengan Firza Husein akan diberhentikan alias di-SP3 kan. Kabarnya pula, pihak kepolisian kesulitan mengumpulkan bukti kuat, karena sang penyebar konten mesum Riziek Firza belum tertangkap sampai sekarang.

Dan macam-macam pula reaksi dua kubu. Dari pro Jokowi banyak yang menyesalkan kerja aparat kepolisian yang terkesan kurang profesional. Sedangkan dari kalangan Kamvret pecinta tante Firza eh Riziek Shihab bersorak gembira atas adanya kabar yang santer terdengar ini.

Sedangkan menurut saya sendiri sih kok biasa wae. Terlepas dari benar salahnya Riziek Shihab dalam kasus itu, sebenarnya kerugian terbesar tetap berada di pihaknya.

Lah kok bisa, Cyyynnn? Ya tentu bisa. Apa toh yang gak bisa di negeri ini. Riziek tetap akan merugi di dalam kasus ini, karena keliru langkah. Benar salahnya Riziek pun tak akan merubah stigma masyarakat yang sudah terlanjur menstempel si Arab KW dengan sebutan PENGECUT, dengan kaburnya ke Saudi Arabia. Padahal, si Arab KW katanya punya massa “7 juta” ngumat, dengan rincian 200 ribu manusia sedang sisanya adalah anak buah dajjal. Ternyata memilih menjadi hello kitty daripada seekor singa.

Bandingkan dengan seorang Ahok, punya nyali untuk menghadapi “kasus” yang menjeratnya. Tidak meminta bantuan, meski Presiden Jokowi adalah seorang karib dekatnya. Bila berbicara intervensi, sebenarnya hukuman Ahok lah yang lebih terkesan “dipaksakan”. Ahsudalah, kita tunggu saja kemerdekaan Ahok dari balik penjara.

So kesimpulanya adalah, Riziek meskipun dinyatakan bebas, tetapi namanya tetap saja dipandang buruk oleh masyarakat, karena memilih untuk menjadi PENGECUT. Sedangkan Ahok, meskipun dipenjara, tidak akan mengurangi simpati dan empati masyarakat terhadap dirinya, berkat jiwa besar dan keberaniannya.

Bahkan sekarang nama Ahok mulai dirindukan. Karena duet Upil Ipil kualitasnya tidak lebih dari sekedar gerombolan anak alay. Pimpinan Ely Sugigi, dalam memimpin Jakardah. Inilah kehidupan, yang salah belum tentulah salah.

Terkadang penjara hanya tempat pelabuhan sementara bagi jiwa-jiwa yang merdeka. Tempat bermetamorfosa seseorang menjadi pribadi yang luar biasa.

Jangankan SP3, SPP jaman sekolah dulu saja tak pernah kuhiraukan. Mau bebas, mau njengking, toh masih banyak kasus yang antri menantimu, Beb. Salah satunya isi ceramah ente yang mirip dengan kalimat ini: “Yang ngebantu persalinan emak ente waktu ngebrojolin ente, tu siapa, Beb? Genderuwo ataukah mak lampir?”

Salam Jemblem.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.