Kolom Lyana Lukito: NAFAS KEHIDUPAN

Tiada yANg lebih berharga daripada nafas kehidupan

0
761

Pagi ini, saya terhenyak membaca laman-laman postingan seorang wanita cantik penderita kanker. Dia baru saja berpulang ke penciptanya. Betapa tegar dan kuat selama 6 tahun berjuang melawan kankernya yang sudah menyebar ke mana-mana, tetapi masih bisa hidup ceria berserah bersyukur dan tersenyum gembira.


Selama hidup, saya sudah menangisi puluhan teman yang pada akhirnya berpulang karena sakit kankernya.

Bahkan beberapa teman facebook, koko-koko baik yang selalu mengkhawatirkan saya dan menjaga saya juga meninggal karena kankernya. Saya sendiri adalah ex penderita kanker 14 tahun  lalu. Betapa saya bisa memahami momok ketakutan, penderitaan, kesusahan, kesedihan, dan kesakitan terbayang jelas.

Sakit, siapa sih yang mau sakit? Kalau boleh memilih, mau sehat selamanya. Kesehatan adalah harta terbesar yang kita miliki. Di dalam setiap tubuh manusia terdapat sel-sel kanker. Mereka bisa saja hidup bila ada pemicunya dan mereka akan tenang bila tubuh dan pikiran kita sehat.




Saudara-saudara dan teman-teman terdekat saya pasti kaget karena mereka task satupun yang tahu saya pernah menderita kanker dan menjalani kemoterepi setahun lamanya sebanyak 11 kali. Selama menjalani pengobatan, saya menjalani kegiatan ke kantor seperti biasa (pulang kantor hingga malam baru ke rumah sakit kemoterapi dan cek darah). Kegiatan bantu Sekolah Minggu dan koor seperti biasa, dan aktivitas lainnya seperti biasa.(Tidak ada yang menyadari kalau rambut saya adalah rambut palsu saat itu). Bahkan dokter yang kemo aja kaget: “Kok bibir lu tetap merah?” (biasa kalo kemo bibir kering hingga bisa berdarah).

Saya pernah bertanya kepada dokter PIK saat divonis menderita kanker dan harus segera dikemoterapi sebanyak 15 kali.

“Dok, mengapa bisa ada kanker?”

Dokter itu memandang wajah saya dengan sedih dan memegang tangan saya. Dia bilang tubuh kita ibarat suatu rumah ibadah. Biasanya sel-selnya adalah pendeta. Maka suatu saat mereka bisa berubah menjadi anak setan.

“Jadi, lu banyak doa aja deh. Lu juga kurang gizi, banyakin makan sayur dan buah.” (Kagak doyan dok).

“Dokter doain saya yah saat Sholat (karna dokter saya seorang Muslim).

Kanker terbentuk karena beban fisik mental yang lelah lalu terpapar Toksin-toksin (racun) dari makanan sehari-hari dan paling utama adalah memafkan! Lepaskan semua beban pikiran dan beban di hati. Jangan biarkan mengendap menjadi racun di dalam hati kita. Maafkan semua orang yg telah menyakiti hatimu dan bebaskan hatimu!

Kunci utama adalah KEKUATAN PIKIRAN Dan KEKUATAN DOA. Memiliki pikiran yang positif dan optimisme tinggi maka kekebalan tubuh akan meningkat. Afirmasi dapat dilakukan kapanpun dan di manapun, terutama setiap pagi hari ketika bangun tidur dan malam hari menjelang tidur. “Saya sehat dan kuat”

Oleh karena itu, saya mendukung penuh dan apresiasi kepada pemerintah siapapun yang memperhatikan pasien-pasien penderita kanker terutama anak-anak. Saya mendukung penuh RS Kanker yang gratis berikut fasilitasnya rumah singgah bagi keluarga pasien. Sselain beban fisik, lebih penting lagi beban-beban mental akibat biaya pengobatan yang tinggi.

Beruntung dan berterimakasihlah sekarang sudah ada BPJS hasil karya Jokowi Ahok. Saya dulu pengobatannya bayar sendiri. Hiks… Sekarang RS Kanker Gratis impian Ahok sepertinya dihentikan dan hanya tinggal kenangan. Mengapa?







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.