Ketika negara-negara maju yang oleh mereka disebut kafir, liberal, mamariki, mamarika, oseng-oseng dan lain-lain berusaha keras hidup lebih baik, bekerja memanfaatkan tekhnologi dengan tidak mengesampingkan budaya dan kearifan lokal, di negeri ini ada golongan yang teramat lucu. Kenapa lucu?

Bajunya sih gamis. Tuhan selalu diteriakkan di mana saja dan kapan saja ketika ada pesenan. Kira-kira Tuhan ngenes gak, ya?




Tentunya prihatin. Prihatiiiiin sekali. Tuhanku sih tentu gak seperti Tuhan mereka. Tuhanku tidak suka marah. Tuhanku lebih toleran dan mengajarkan untuk mandiri. Membahagiakan keluarga adalah jihad yang paling mulia.

Lah, mereka?

Ada patung wanita yang bagaimanaa, gitu, mereka robohkan. “Patung ini mengganggu iman kami, mengganggu akidah kami. Kami jadi suka ngaceng sengaceng-ngacengnya,” kata mereka.

Ada wayang, ketoprak, ada pertunjukan budaya leluhur, mereka bilang bid’aahh. Tidak ada di jamaan nabi. Dosaaaa!! Ketika ada simbol-simbol salib, mereka teriak: “Kristenisasiiiii” Ketika ada golongan lain yang beda agama dicalonkan untuk menjadi pemimpin meski berintegritas dan berkwalitas, matanya mendelik: “Jangan pilih yang tidak saimaaann!”

Seni dan budaya adalah implementasi dari budi pekerti. Di sana tersirat serta tersurat akan nilai dan filosofi. Nilai dari rasa kemanusiaan, seni dan budaya banyak elemen yang terlibat. Ekonomi, keindahan, nilai estetika dan yang paling utama adalah kemandirian. Bali contohnya.

Ketika golongan mereka sudah berhasil memenangkan dalam kontestasi Pilkada DKI, tiba-tiba surat edaran minta THR kembali marak, masif dan ugal-ugalan.

*****

” Tok.. Tok .. Tok …”
” Ya, masuk. Ada yang bisa dibantu?”
” Bos. TE Ha Er, Bos.”

Berpakaian gamis sambil menyodorkan selembar kertas dengan cengar-cengir wajah dibuat lugu dan lucu.

Matiihh aku..




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.