Selama agama masih berkeliaran dalam ruang-ruang politik negara, selama itu pula kegaduhan politik akan terus berlangsung, bahkan dalam politik, Islam vs Islam sering menjadi tontonan terbuka.

Jika kegaduhan bisa diarahkan pada pertengkaran ideologis, maka Indonesia akan menjadi negara pertama di Asia yang pengetahuan rakyatnya terbuka bebas. Tapi, sayang sekali, cuman ada satu ideologi yang bebas berkeliaran bahkan dalam ruang privacy warga negaranya, sementara ideologi lain dibungkam oleh alasan absurd.

Lalu bagaimana solusinya?

Bebaskan semua ideologi dan biarkan rakyat memilih mana yang cocok untuk kebutuhan intelektual, maupun psikologinya.

Indonesia bisa menjadi negara besar jika anggaran Departement Pendidikan dan Kebudayaanya lebih besar dari anggaran Departement Agamanya, ini masih syarat umum. Syarat khusunya ada pada ilmu yang diinstall di kepala generasinya. Jika ilmunya palsu, maka generasi yang lahirpun akan ikut palsu. Jika ilmunya real, maka generasi yang dilahirkan pun akan real.




Kalau solusi kebangsaan Indonesia hanya datang dari satu ideologi, maka itu bukan solusi namanya. Solusi bisa muncul dari mana saja. Pertayaannya, apakah kita bisa menerima solusi yang datang dari luar kebiasaan kita sebagai bangsa? Karena kita punya kebiasaan bahwa idea kita bisa menjawab segalanya, sehingga mendengarkan perspektif yang sedikit berbeda menjadi momok. Bahkan bisa dicap sebagai sebuah ancaman.

Penyakit mental semacam ini harus segera disingkirkan jauh-jauh. Jika tidak, kita selamanya akan menjadi bangsa yang terpuruk oleh ulah kita sendiri.

Logika sederhana, 6+3 = 9. Begitu pun 5+4 hasilnya = 9. Ini artinya, untuk sampai pada angka 9 bukan hanya satu jalan. Sesungguhnya ada banyak jalan. Cuman saja, kita terkadang terjebak dalam satu pemahaman bahwa hanya ada satu jalan kebenaran. Padahal pandangan ini jelas sekali bermasalah.

Rubah cara pandangmu dan kamu akan menyaksikan dunia yang berbeda.

Aku bersaksi bahwa tidak ada itu yang namanya lontong, yang ada dan yang sering saya lihat berkeliaran di wall saya namanya Otong. Besok ganti nama lagi jadi Ridwan. Terus, habis Ridwan langsung loncat ke Fauzan.

Sesungguhnya di dalam DNA manusia macam Otong terdapat zat yang bernama “mencla-mencle” dan manusia model begini tidak layak nongkrong di depan pintu sorga.

Salah satu penyakit mental yang sudah membatu dalam kesadaran manusia Indonesia adalah “berpura-pura” dalam hampir semua hal, bahkan ketika ditanya apakah anda bahagia dengan pernikahan anda jawabannya selalu “pura-pura” iya, padahal realitasnya tidak. Tapi, rata-rata manusia Indonesia lebih baik “berbohong” untuk menjaga yang namanya “Hubungan baik”, sebuah praktek yang akhirnya membentuk mental kolektif bangsa ini.

Berpura-puralah agar hidupmu aman, damai, sejahtera, baik, sentosa, tapi PALSU.

#Itusaja!

VIDEO: Lagu Karo BUNGA RAMPE diiringi kulcapi dan suling. Lagu legendaris ciptaan Alm. Reno [Karo-karo] Surbakti ini dinyanyikan oleh Ratna [Karo-karo] Sitepu di sebuah pesta rakyat di sebuah kampung tradisional Suku Karo di Kabupaten Langkat. Perhatikan wajah penyanyinya yang menahan diri untuk tidak hanyut dalam tangis.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.