Jokowi kuasai Jawa. Itulah hasil terbaru survei Charta Politika Mei 2018. Dari 4 Propinsi di Jawa yang disurvei, Jokowi menang di Jawa Barat, di Jawa Tengah, dan di Jawa Timur. Kantong suara Prabowo yang menang di Jawa Barat 2014 lalu, kini telah direbut oleh Jokowi. Jokowi hanya kalah dari Prabowo di Banten. Itupun sangat tipis.

Jumlah pemilih di seluruh Indonesia pada tahun 2019 adalah 196,5 juta. Jumlah pemilih terbesar ada di 3 propinsi: Jabar, Jateng dan Jatim. Jumlahnya ada 66,8 persen dari total jumlah suara di seluruh Indonesia.




Jika seorang kandidat Presiden sudah menang di 3 propinsi itu, maka tiket Presiden hampir direbut. Siapa yang menguasai Jawa, maka akan menang di Pilpres. Itu rumus lama yang berlaku hingga saat ini.

Pertanyaannya, mengapa Jokowi mampu menguasai Jawa? Ada 3 alasan utama.

Pertama, Keberhasilan Jokowi membangun infrastruktur membuat masyarakat terpesona. Arus lancar mudik tahun 2018 ini menjadi buktinya. Jalan tol telah tersambung di mana-mana, pembangunan Bandara, pelabuhan laut, rel kereta api membuat arus mudik semakin lancar.

Ke dua, bergabungnya Golkar. Pada Pilpres 2014 lalu, suara Jokowi di Jawa Barat digerus oleh Golkar yang berpihak kepada Prabowo. Kini pada Pilpres 2019, suara Golkar mengalir kepada Jokowi yang didukung penuh oleh Golkar.

Ke tiga, redupnya Prabowo serta blunder PKS dan PAN. Prabowo harus diakui semakin redup. Ucapan pesimistisnya bahwa 2030 Indonesia akan bubar, membuat masyarakat semakin tak percaya kepadanya. Teori-teori bocor ala Prabowo tidak laku lagi dijual di era masyarakat digital. Ancaman-ancaman Indonesia bubar, juga tidak dipercayai. Era Prabowo sudah usai. Gerinda akan stagnan di Pilpres 2019.

Partai pendukung Prabowo seperti PAN dan PKS tidak berhasil menarik suara untuk Prabowo. Tusukan PAN kepada Jokowi dari belakang, gaya nyinyir tak beradab Amin Rais membuat PAN semakin kerdil. PAN gagal memberi pendidikan politik bagi rakyat secara jantan. Konflik internal PKS, terkuaknya perselingkuhan Mardani Ali Sera dan nada-nada ucapan para elit PKS yang berpihak kepada HTI dan teroris, membuat PKS semakin dibenci dan mau ditenggelamkan.

PKS gagal memberi kontribusi pembangunan politik bagi Indonesia. PKS tidak bersaing dengan jantan. PKS cenderung berlaga secara ‘bencong’ dengan tangan melambai Mardani Ali Sera lewat tagar ganti presiden 2019.

 

Jokowi panen jutaan terima kasih

Harga-harga barang menjelang lebaran 2018 sangat terkendali. Tidak seperti pada Hari-hari Raya sebelumnya. Menjelang lebaran beberapa tahun lalu, beberapa harga Sembako meningkat tajam.

Masuknya Budi Waseso sebagai Kepala Bulog, membuat para mafia terkencing-kencing di celana. Apalagi Budi Waseso telah menangkap ratusan para mafia yang bermain Sembako selama ini. Hasilnya, harga-harga kebutuhan pokok terkendali dan tetap terjangkau. Hujan terima kasih kepada Jokowi pun mengalir bertubi-tubi.

Mudik tahun 2018 ini membuat Jokowi di atas angin. Dari beberapa video yang tersebar di sosial media, masyarakat sangat berterima kasih kepada Jokowi. Jalan tol yang lancar, perjalanan yang singkat, membuat Jokowi dihujani ucapan terima kasih.




Tentu saja jika ada 6 juta warga Ibu Kota Jakarta yang mudik ke kampung halaman, maka ketika lewat di jalan tol yang baru dibangun, maka yang teringat adalah Jokowi. Dalam hati kecil para pemudik, baik haters maupun pendukung, mengucapkan terima kasih kepada Jokowi. Jokowi pun panen jutaan terima kasih. Pemudik akan berdoa agar Jokowi tetap Presiden pada tahun 2019 mendatang. Doa Amin Rais pun akan kalah telak yang meminta Allah agar melengserkan Jokowi.

Ketika pemudik sampai di desanya, mereka akan terbelalak. Berkat dana desa, jalan-jalan di desa berhasil diaspal. Arus barang semakin lancar. Ucapan terima kasih menghujani Jokowi lagi.

Diambang Presiden 2019

Kurs dollar sukses dikendalikan oleh Jokowi. Kekhawatiran bahwa dollar akan melambung hingga Rp 15 ribu, ternyata tidak terjadi. IHSG juga kembali rebound. Hal itu menandakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat.

Kebijakan populis Jokowi yang memberi THR ke-13 kepada PNS, dengan jumlah lebih Rp 30 Triliun, mampu mengggerakkan ekonomi menjelang lebaran. Para PNS pun bersukacita dan berterima kasih kepada Jokowi. Kartu Indonesia Sehat telah dibagikan kepada lebih 92 juta penduduk Indonesia hingga Desember 2017. Kartu Indonesia Pintar telah dibagikan kepada hampir 20 juta penduduk Indonesia. Kartu-kartu ini terbukti mampu mengentaskan kantong-kantong kemiskinan.




Angka kemiskinan di Indonesia berhasil diturunkan dari angka 11,22% pada tahun 2015 menjadi 10,12% tahun 2017. Inflasi juga dapat terkendali dari 8,36% pada tahun 2014 menjadi rata-rata 3,4% rata-rata dari tahun 2015-2018. Itu adalah kehebatan seorang Jokowi.

Contoh konkritnya adalah harga BBM pada tahun 2013 adalah Rp. 6.500 per liter. Hingga Juni 2018 harga BBM masih Rp. 6.500 per liter. Selama 5 tahun BBM tidak naik. Ini adalah capaian luar biasa Jokowi.

Sementara angka pengangguran, juga berhasil diturunkan oleh Jokowi dari angka 5,94% pada tahun 2014 menjadi 5,33% pada tahun 2017. Pertumbuhan ekonomi juga stabil. Rata-rata 5% per tahun. Target 7% bisa dicapai, jika Jokowi konsentrasi di pulau Jawa. Namun demi pemerataan dan keadilan sosial, ia membangun Indonesia dari Aceh hingga Papua.

Jokowi ternyata tidak hanya hebat dalam membangun infrastruktur. Ia juga hebat dalam mengentaskan kemiskinan, pengangguran dan mempertahankan capaian pertumbuhan ekonomi. Terobosan luar biasanya adalah BBM satu harga hingga ke Papua dan pembagian gratis jutaan sertifikat tanah.

Selain itu, Jokowi juga mampu sukses di bidang politik internasional. Berhasilnya Indonesia masuk menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan  PBB adalah prestasi tersendiri Jokowi. Terakhir Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada tahun 1995 atau 23 tahun lalu. Dengan masuknya Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, maka jalan untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina semakin terbuka.

Dengan capaian-capaian Jokowi di atas, maka tiket Presiden 2019 semakin dekat. Hal itu sudah semakin tampak dari sekarang ketika hasil survei mengatakan bahwa Jokowi sudah menguasai Jawa.

Jokowi sudah diambang Presiden 2019. Fadli Zon dan Amin Rais akan gagal total memulangkan Jokowi ke Solo. Tagar ganti Presiden 2019 akan semakin tenggelam bersama PKS.

HEADER: Pemetik daun teh di Sukabumi (Jawa Barat) (Foto: Andy)







Leave a Reply