Lhadalah, Si Median lha kok tau, kalau kami ini gak tamat SD? Wih wih, jebule pendukung Pak Jokowi iki kesemuanya gak tamat SD, yo, cah? Gak tamat SD, tapi kok ada yang jadi dosen? Ada yang jadi pejabat negara? Ada yang pengusaha? Ada yang menjadi mubaligh NU?

Lhadalah, para kecebong itu sekolahnya ada di alam gaib kah?




Wihh, hebat ya ternyata. Gak tamat SD tetapi hidupnya bisa bermanfaat untuk keluarga dan sesamanya. Woalah, Survei Median ini kok tepat banget, sih? Para kecebong itu mah apa atuh? Kayak remukan rengginang di dalam kaleng Khong Guan.

Bodoh, dungu dan sering disebut IQ 200 sekolam adalah hal yang biasa kami terima dari kaum vintar level andromeda fifis unta. Biarpun kami bodoh dan gak tamat SD, namun kami gak ngerusuhin negara. Kami juga gak tergiur dengan bayaran “wow” jikalau ikut demo.

Memang para kamvret itu lulusan luar negeri semua. Sampai-sampai tingkat kejeniusan mereka itu benar-benar emejing warbiasyah. Saking jeniusnya, air jamban disulap menjadi air untuk dikonsumsi. Fifis unta lebih disukai daripada beras kencur khas Jawa. Penghijauan dan reboisasi dengan menggunakan pohon imitasi. Mengatakan bahwa kitab suci itu adalah fiksi. Tereak anti Cina, ternyata Capres yang didukungnya singkek juga. Sudah keturunan China, masih dibela dan dikatakan bahwa si Capres aslinya keturunan Arabia.

Ngajakin Tuhan untuk berkampanye. Dulu tereak tol itu hanya untuk kalangan orang kaya, aseng asing asong asoy. Eh sekarang berubah lagi. Dengan berteriak: “Tol itu dari rakyat dan untuk rakyat, bukan untuk pendukung pak Jokowi saja.”

Piye? Otaknya para kamvret memang emejing warbiasyah bukan? Saya pribadi saja salut atas “kecerdasan” yang mereka miliki. Sampai-sampai saya meneteskan air mata, seraya berkata: “Ya ALLOH Gusti, dulu pas pembagian otak, para kamvret ini pada ke mana? Ketiduran di Istiqlal kah?”

Hmm, efek fifis unta memang emejing warbiasyah.

Salam Jemblem







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.