Kolom Eko Kuntadhi: IBU DARI PKS,YA?

0
738

Ini kisah seorang teman yang hidupnya berbeda dengan orang lainnya. Menjelang lebaran ini, istri teman saya ke pasar bermaksud berbelanja bahan makanan. Dia masuk ke losd tukang daging.

“Daging sekilo berapa, pak?”

“Ibu simpatisan PKS, ya?”

“Iya…”

“Ohhh, sekilonya Rp 200 ribu, bu.”

“Mahal sekali!,” katanya sambil memaki.




Ibu itu tidak tahu, tukang daging menjual kepada pelanggan lain hanya Rp 100 ribu atau paling mahal Rp 110 ribu sekilo. Itu juga karena mau lebaran. Biasanya malah hanya Rp 90 ribuan sekilo.

Ketika tahu harga daging di luar jangkauannya, dia akhirnya memilih membeli telur.

“Telur sekilo berapa, pak?”

“Lagi naik, nih, bu. Sekarang Rp 35 ribu.”

“Kok, mahal sih, pak?”

“Iya, ibu dari PKS, kan?” tanya tukang telur.

Entah kenapa, barusan tukang telur itu menjual dengan harga Rp 22 ribu sekilo. Harganya justru sedang turun. Seminggu lalu harga telur masih Rp 25 ribu sekilo.

Dia heran, ketika membeli bawang, cabai, beras, para pedagang di pasar itu selalu bertanya. “Ibu dari PKS, ya?”

Ohh, rupanya ada semacam kesepakatan para pedagang di pasar, jika yang belanja orang PKS memang harganya dibuat lebih mahal dari pembeli lainnya. Bukan apa-apa. Jikapun diberi harga aslinya, nanti di media sosial, mereka tetap saja akan ngomong bahwa harga-harga naik gila-gilaan. Padahal realnya biasa-biasa aja.

Coba lihat inflasi atau kenaikan harga rata-rata di pasaran menjelang lebaran kali ini. Angkanya hanya 0,21%. Ini adalah angka terendah dibanding inflasi pada periode tahun lalu. Cabai merah, bawang putih dan cabai rawit yang biasanya melonjak karena ibu-ibu membeli lebih banyak untuk membuat sayur ketupat dan sambel goreng ati di rumahnya, justru kini malah stagnan.

Begitu juga dengan beras. Waktu impor yang pas dan galaknya Kabulog (Budi Waseso) menghantam mafia yang berani menimbun beras, membuat harganya anteng seperti bayi dalam pelukan Lucinta Luna.

Proses pengendalian inflasi memang dilakukan dengan sangat serius. Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, BUMN bahkan kepolisian dikerahkan untuk menjaga gejolak harga.

Ibu itu pulang dari pasar dengan menyimpan gondok. Dia menstarter motornya, melaju di jalanan. Masuk ke SPBU hendak mengisi bensin.

“Isi Premium, pak.”

“Ibu dari PKS, ya?”

“Iya.”

Mendengar jawaban itu, orang yang antri di belakang ibu hendak mengisi Premium tetiba pada melipir. Mereka pura-pura bubar dari antrian. Lantas, petugas SPBU ini menjawab: “Wah, Premium habis bu. Itu tadi terakhir kami menjual Premium sebelum ibu. Kalau mau isi Pertamax aja, bu.”

Setelah si ibu berlalu. Mereka yang antri membeli Premium berbaris lagi seperti semula.




“Iya, percuma kita bilang stok Premium di Jawa, Bali, Madura dan berbagai pulau utama masih memadai. Soalnya nanti juga di media sosial dia akan teriak, Premium gak ada. Langka. Padahal banyak, tuh,” ujar petugas SPBU.

“Maklum, pak. Namanya juga orang PKS,” celetuk salah satu pelanggan. Mereka tertawa bersama.

Sesampai di rumah, seperti biasa dia langsung update status. “Ini pemerintahan gila. Harga meroket mencekik leher. Premium langka. Lebih baik dulu, meskipun ada korupsi daging sapi, tapi harganya hanya Rp 195 ribu sekilo. Gak sampai Rp 200 ribu.”

Waktunya pulang kampung. Ibu dan keluarganya memilih angkutan bus. Ketika melewati jalan tol yang baru diresmikan, ibu itu bertanya kepada orang di sebelahnya. “Jalan ini bagus. Ini yang memprakarsai pembuatannya siapa, ya pak?”

“Ibu dari PKS, ya?” tanya orang itu.

Setelah si ibu menganguk, orang itu menjawab: “Ohh, jalan ini yang membangun rakyat, bu. Gak tahu dari mana mereka iseng-iseng bergotong royong membangun jalan ini. Mereka membangun begitu saja, pakai uang mereka sendiri. Hebat, kan, bu?”

Makanya dia langsung marah-marah ketika di gerbal tol, petugas meminta pembayaran. “Hei, ngapain kamu minta bayaran. Ini jalanan rakyat. Dibangun oleh rakyat, kenapa harus bayar?!” hardiknya melalui jendela.

Rupanya si supir tahu ibu itu dari PKS. Dia mencoba menenangkan. “Gak bayar kok, bu. Kita cuma diminta menempelkan kartu ini,” ujar supirnya kalem, sambil menunjukan kartu e-Tol kepada si ibu.

“Ohh, saya kira harus bayar, pak. Kalau dipaksa bayar, kasih tahu saya, pak. Biar saya maki-maki mereka. Pemerintahan apaan ini, masa lewat jalan tol harus bayar?”

Membaca kisah ini, saya jadi tahu kenapa ada sebagian orang yang status di media sosialnya berbeda dengan kenyataan.

Di kampung, ibu itu bertemu Abu Kumkum yang kebetulan sekampung dengannya. “Maaf, mas. Mas ini Abu Kumkum, ya?”

“Ibu sekarang jadi simpatisan PKS, ya?” Abu Kumkum balik bertanya.

“Iya…”

“Ohh, maaf, bu. Ibu salah orang. Saya bukan Abu Kumkum. Saya Reza Haradian, kebetulan lagi shooting di sini…”




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.