Kolom Daud Ginting: KEPALSUAN DI LAMPU MERAH

“Ketipu aku selama ini,” gumamku dalam hati sambil menertawai ketololan ku selama ini.

0
771

Ada sebuah cerita menarik masih segar dalam ingatanku atas suatu peristiwa di perempatan Jl. Sudirman dan Jl. Patimura, Medan. Saat mengemudi mobil karena lampu merah, saya berhenti di deretan ke dua, mobil di depan saya persis berhenti di bawah lampu merah.

Seorang pengemis yang nampak menyeret pantatnya di aspal mendekati pintu supir mobil di depan saya, penyandang cacat yang dari celana yang dipakai terlihat dia hanya memiliki kaki sebelah. Seperti biasa dilakukannya dia menengadahkan tangan untuk memohon diberi uang ke pemilik mobil.




Tidak lama kemudian pengemudi mobil di depan saya terlihat membuka pintu mobil, turun dan berdiri di jalan raya seiring membentak-bentak, marah dan hendak menendang pengemis itu. Tidak lama kemudian pengemis berdiri dengan kedua kaki sempurna dan secepat kilat berlari kencang meninggalkan pria yang membentaknya.

Sebenarnya saya kaget dengan peristiwa itu, tetapi kemudian saya tertawa lepas merasa lucu dan sudah tentu saya juga merasa tolol karena sudah dikibuli penyandang cacat palsu itu selama ini. Setiap kali lewat jalur itu saya sering melihatnya dan beberapa kali pernah memberi uang recehan.

“Ketipu aku selama ini,” gumamku dalam hati sambil menertawai ketololan ku selama ini.

Tanpa niat narsis atau memuji diri sendiri, sejak Sekolah Dasar memang kita memperoleh pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Salah satu inti pelajaran itu yang paling melekat dalam benakku adalah, sebagai masyarakat Indonesia kita diminta untuk memiliki sikap tepo seliro; memiliki kepedulian sosial terhadap penderitaan orang lain, harus mau memberi bantuan jika orang lain dirundung duka atau mengalami penderitaan.

Namun, peristiwa di atas menjadi bahan permenungan bagiku bahwa sikap kebaikan atau jiwa masyarakat yang suka berempati, mau merasakan persis apa yang dirasakan orang lain, justru sering dimanfaatkan oleh kepentingan sempit pihak lain, diperdaya atau ditipu oleh orang lain. Kebaikan atau sifat murah hati individu, apalagi kebaikan atas nama agama/ religiusitas sering disalah gunakan oleh orang opurtunistik, menghalalkan segala cara memperdaya orang lain demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Peristiwa penipuan atas nama rasa iba dan kepedulian ini bukan hanya terjadi dalam interaksi sosial kehidupan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat, namun sudah menjadi trend juga dalam atmosfir kehidupan politik nasional dewasa ini.

Jika masih segar dalam ingatan kita, pernah terjadi seorang calon presiden tiba-tiba popularitas dan elektabilitasnya menjulang tinggi karena dia mampu membangun image sebagai seorang tokoh politik teraniaya hanya karena ada menyebut dirinya “Mirip Anak Taman Kanak-kanak”. Atas nama iman, atau memiliki kepedulian terhadap rumah ibadah dan atas nama membela agama tertentu, masyarakat juga banyak membela figur tertentu sebagai calon pemimpin yang mesti didukung mati-matian, bahkan bila perlu mencaci-maki orang lain yang tidak sama pilihannya.

Pigur calon pemimpin yang ikut kontestasi Pilkada memahami betul sikap masyarakat yang gampang merasa iba dan fanatisme religiusitas ini, sehingga figur itu juga banyak melakoni hidup seakan teraniaya, dan tiba-tiba berubah menjadi orang paling beriman.




Sikap anomali atau tidak sesuai dengan realita dirinya sendiri yang dilakukan oleh orang tersebut merupakan indikator bahwa sesungguhnya dia tidak memiliki kemampuan atau keunggulan komperatif untuk diandalkan. Jalan satu-satunya baginya adalah menipu diri sendiri dan mengelabui orang lain. Kreatifitasnya miskin dan tidak mampu berpikir lateral, atau tidak mampu berpikir lain dari yang lain.

Figur yang sejak awal pencalonan dirinya sudah sarat dengan sifat menipu, tidak jujur dan senang melakukan kamuflase maka jika terpilih jadi pimpinan juga tidak akan memimpin dengan kejujuran, penipu dan hanya akan mementingkan diri sendiri di atas penderitaan orang lain. Itulah namanya “Pemimpin Naif”. Salah memilih pemimpin yang baik dan benar bagi masyarakat merupakan lampu merah di persimpangan jalan bagi masyarakat itu sendiri.

Selamat menentukan pilihan bagi masyarakat Sumatera Utara.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.