Teman saya Birgaldo Sinaga sepertinya sedang gundah. Kemarin dia menelepon saya, mengadukan akun FB-nya yang bermasalah. Followernya sudah lumayan, sampai ratusan ribu. Dia resah jika tidak dapat lagi mengakses akunnya.

Keresahan ke dua, karena kasus SP3 Rizieq. Baginya, keluarnya SP3 Rizieq merupakan jalur kelam hukum. Dia memprotes. Dia berteriak. Dia mengkritik dengan keras via akun Twitter.




Tapi ada satu hal yang dia tegaskan, dia tetap memposisikan dirinya sebagai pendukung Jokowi. “Soal militansi dukungan kepada Jokowi, saya sudah membuktikan dan akan terus membuktikan,” katanya. Tapi, dia bilang, kalau ada yang tidak kita sepakati, kita tetap harus melatih diri untuk menyampaikan protes.

Saya setuju. Pemerintah, pada dasarnya tidak 100% sama dengan Jokowi. Iya, Jokowi adalah Presiden. Tapi tidak semua kebijakan bermuara pada seorang Presiden. Kebijakan eksekutif saja kadangkala bisa tidak satu komando, apalagi yudikatif dan legislatif.

Ada ribuan orang yang ikut menentukan arah dalam proses pengambilan kebijakan. Bisa sejalan dengan kebijakan Presiden, bisa juga malah berlawanan. Jadi kalau kita mengkritik sebuah kondisi yang tidak kita sepakati, itu bukan berarti arah kritikannya ke Jokowi.

Jokowi mau semua perizinan usaha mudah. Coba lihat di lapangan. Apakah semudah yang diingankan Jokowi? Belum tuh. Apalagi jika menyangkut aturan Pemda. Jokowi meminta birokrasi bergerak melayani rakyat. Apakah mental birokrat kita sudah sampai ke titik itu? Rasanya masih jauh. Jokowi minta semua kasus hukum ditegakkan dengan baik. Coba tengok berbagai persoalan yang membelit dunia hukum kita.




Dengan kata lain, mentalitas birokrasi pengelola negara, mungkin juga aparat hukum, perlu terus dibenahi. Bagi rakyat, salah satu cara ikut membenahinya dengan melakukan kritik. Kritik rakyat adalah bahan bakar untuk terciptanya pemerintahan yang jauh lebih baik.

Tapi, harus diakui, untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik, dengan penegakkan hukum yang adil dan rasional, kita perlu pemimpin yang bersih, melayani, tidak punya beban hukum masa lalu, dan punya jiwa nasionalisme. Itu semua ada dalam diri Jokowi.

Itulah yang saya rasa, membuat Birgaldo tidak mengubah haluannya. Kalaupun dia ekspresikan rasa kecewanya pada SP3 Rizieq, dia tetap yakin berdiri di belakang Jokowi saat ini adalah pilihan paling rasional untuk masa depan Indonesia.

Pandangan Birgaldo bisa saja sedikit berlawanan dengan pandangan Denny Siregar. DS lebih melihat peta pertarungan politik globalnya. Di tengah pertarungan politik yang penuh intrik dan mulut nyinyir ini, dia tidak mau membuka celah sedikitpun ruang tembak yang mengarah kepada Jokowi.

Wong, ketika pemerintahan kerja benar saja terus dimaki-maki, apalagi jika ruang tembak itu dibuka oleh pendukungnya sendiri. Tampaknya DS lebih mengkhawatirkan para bigot penjaja agama kembali memainkan kesempatan ini untuk mencari celah isu.




“Mereka selalu mencari celah untuk memecah para pendukung Jokowi. Karena tidak punya prestasi, yang dijual mereka hanyalah konflik. Dengan cara itu mereka hendak menguasai Indonesia,” kira-kira begitu kekhawatiran DS.

Lain lagi style Permadi Heddy Setya, sang Abujanda. Dia mencoba memahami konteks SP3 Rizieq ini dalam kerangka pemakluman. Tulisan dan celotehnya bersikap, jika karena SP3 ini kita kehilangan kepercayaan pada Jokowi, dampaknya bisa fatal.

“Lu mau Indonesia dikuasai oleh mereka yang permisif terhadap ide khilafah?”

Mbok Niluh Pertami Djelantik, seperti biasa, lebih kalem. Dia hanya memantapkan dirinya untuk setia di barisan Jokowi. “Apapun masalah yang dihadapi, kita belum punya pilihan lain yang bisa membawa Indonesia lebih baik di masa depan. Mendukung Jokowi adalah ekspresi cintaku pada Indonesia,” ujarnya.

Inilah teman-teman saya. Kami dipersatukan oleh ide. Kami diikat oleh nilai yang kami yakini. Oleh sebuah harapan tentang Indonesia masa depan. Bukan diikat oleh kepentingan politis praktis. Karena itulah teman-teman saya bisa berbeda pendapat dalam sebuah soal. Pada soal yang lain, bisa satu suara. Ada satu kesamaan: Bahwa secara rasional dan nalar Indonesia saat ini membutuhkan Presiden seperti Jokowi.




Bahwa kita tidak ikhkas negeri ini jatuh ke tangan para pencoleng, para penjaja agama yang menjadikan rumah ibadah sebagai sarana agitasi. Kita tidak ikhlas negeri ini digarong lagi, sumberdayanya dikeruk dan rakyat dininabobokan dengan slogan basi. Kami terbiasa berdebat keras. Saling mempertahakan argumen. Saling meledek. Setelah itu kembali berpelukan seperti Teletubies.

Jika kami ngobrol langsung, tidak pernah ada kesepakatan diambil dengan mudah. Bahkan untuk sekadar menentukan kita mau makan di mana. Biasanya Birgaldo yang keras dan Abujanda yang ngeyel selalu terlibat perdebatan gahar. Seru, lucu, dan agak menghangat.

Saya, DS dan mbok Niluh menikmati karakter teaterikal keduanya.

“Lho, kalau pandangan mas sendiri soal SP3 Rizieq, gimana?” seorang teman bertanya.

“Anda nanya pendapat saya?”

“Iya…”

“Pendapat saya tentang kasus ini, sama seperti pendapat Kak Emma…”

“Maksudnya?”

“Keluarnya SP3 itu, tidak membuktikan hal itu tidak terjadi. Iya, kan kak Emma?”




2 COMMENTS

  1. Hari ini 21/6 sudah ditegaskan oleh presiden Jokowi bahwa beliau tidak campur tangan soal SP3 ini.
    “Tanyakan pada penyidik atau Kapolri. Jadi nggak ada intervensi,” ujar Jokowi kepada wartawan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (21/6/2018)- detik-news.

    Jadi semakin ‘ngeri’ lagi bagi Rizieq untuk pulang karena bukan inisiatif Jokowi sebagai presiden, tetapi hanya inisiatif penyelidik (hukum) dan bisa diangkat kembali kalau sudah menemukan bukti baru soal kasusnya.

    Paling jitu dan berguna bagi semua dan bagi kesatuan bangsa ini ialah Pak Rizieq ngaku saja dan menjelaskan semua perkaranya dan menyedari kepentingan kesatuan dan perjuangan nasional bangsa Indonesia adalah dasar pemikirannya sekarang dan rakyat negeri ini akan menunjukkan kegembiraan dan menyambut kejantanannya yang bijaksana.

    Ayo pak jadi herolah.

    MUG

  2. “Kami diikat oleh nilai yang kami yakini. Oleh sebuah harapan tentang Indonesia masa depan. Bukan diikat oleh kepentingan politis praktis. Karena itulah teman-teman saya bisa berbeda pendapat dalam sebuah soal. Pada soal yang lain, bisa satu suara. Ada satu kesamaan: Bahwa secara rasional dan nalar Indonesia saat ini membutuhkan Presiden seperti Jokowi.”

    Inilah dasar utama membikin diskusi/debat apapun akan menjadi bermanfaat walau kadang-kadang harus dengan ‘hati panas’, karena akan menemukan hasil/kebenaran yang lebih ilmiah menuju ke tujuan yang sama itu. Apalagi dalam soal SP3 Rizieq yang banyak kaitannya dengan negara kesatuan RI karena Rizieq selama ini telah bikin banyak tindakan yang bergejala mengakibatkan perpecahan dalam kerangka NKRI yang berlandaskan Pancasila itu.

    Bisa banyak pemikiran dan dugaan, siapa dibelakang SP3 ini, Jokowi sendiri, Polisi sendiri, atau bersama semua dalam pemerintahan atas persetujuan Jokowi. Tentu juga jadi pertanyaan, kalau Jokowi tidak setuju mengapa menerima dan membiarkan saja pertanyaan publik ini?

    Memang situasi ini pasti menimbulkan berbagai penafsiran dan berbagai kesimpulan dikalangan publik yang luas, antara pro dan kontra Rizieq + FPI-nya . . . . atau inikah yang mau dicapai oleh Jokowi dan pemerintahannya memancing diksusi publik, untuk kemudian bikin landasan keputusan yang lebih mantap karena nantinya sudah sesuai dengan putusan pemikiran publik yang luas? Ini juga tidak salah, malah bagus juga memang, dasar keputusannya sudah diuji oleh publik.

    Ini namanya memanfaatkan keterbukaan dan internet yang telah memungkinkan partisipasi jutaan publik dalam membicarakan soal-soal penting negara. Ini sangat membantu pasti, dan inilah juga arti penting era internet dan keterbukaan. Hal begini tidak mungkin pada era abad lalu, abad kegelapan abad 20 maupun abad-abad sebelumnya.

    Kalau kita tinjau dari segi KONTRADIKIS POKOK DUNIA yang ada sekarang, yaitu kontradiksi antara kepentingan nasional bangsa-bangsa dunia kontra kepentingan internasional neolib tujuan NWO, pastilah akan sangat membantu menjernihkan suasana yang dianggap masih galau ini.
    Dimanakah Rizieq berdiri diantara dua kekuatan dunia yang sedang berhadap-hadapan ini?
    Dari sikap politiknya yang tidak mencerminkan usaha untuk menyatukan, sweeping, demo-demo anti-pemerintahan selama ini, jelas bahwa sikap-sikapnya lebih sesuai dengan maksud dan tujuan penggagas divide and conquer internasional, artinya bukan dipihak pemersatu demi kepentingan nasional melawan kekuatan divide and conquer internasional itu.
    Tetapi apakah masih begitu sikapnya sampai sekarang terutama setelah dapat berita SP3?

    Perubahan dunia sangat cepat, karena informasi dan pendalaman pengetahuan yang sangat cepat, berkat internet dan keterbukaan. Perubahan ini termasuk didalam kepala tiap manusia. Siapa yang tiak merasakan? Yang tidak merasakan berarti ketinggalan sangat jauh karena tidak pernah membaca dan mengikuti perubahan dan perkembangan dunia terutama dalam soal informasi dan pengetahuan yang beredar cepat. Bagaimana pengertian anda tentang komunisme tahun lalu, atau pada tahun 1965, dan bagaimana sekarang? Begitu juga tentang terorisme tahun lalu dan bagaimana sekarang?

    Mengapa terorisme meredup, kecualai di beberapa negeri yang masih jauh dari informasi dan pengetahuan dunia itu (Afrika) dimana brainwashing dan mind control masih mendominasi mayoritas penduduk sebagai akibat dari “the pernicious influence of mainstream news” peninggalan abad lalu?

    The ability of the press, in concert with versions of the Deep State, to twist and deform and undermine and reverse and fragment public perception, on every major story and issue, is basically substituting death for life. If the population is, on a daily basis, under the influence of such mind control, then what kind of breakthrough is possible? No breakthrough. None. The game is over.” kata Jon Rappoport setelah Trump masuk di Gedung Putih 2017. Lihat disini: https://jonrappoport.wordpress.com/2017/12/17/why-has-the-deep-state-gone-to-war-against-donald-trump/

    Tetapi untunglah kita, kata Jon Rappoport, dengan lahirnya internet dan keterbukaan, dengan bermunculannya media idependent seluruh dunia, maka “through the Internet, that brainwashing is being shattered by independent media, piece by piece”. Dunia diselamatkan oleh internet dan keterbukaan, dan karena “brainwashing is being shattered piece by piece”. Mata publik dunia semakin terbuka, dan arahnya pasti.

    Memang tidak bisa diharapkan bahwa Rizieq sudah membaca atau akan membaca semua informasi penting perubahan dunia itu dan karena itu sudah berubah pandangan politiknya terhadap kesatuan bangsa ini, tetapi jutaan publik bukanlah Rizieq doang. Jutaan publik itulah yang banyak menentukan kesedaran maupun tingkah laku seseorang, artinya yang menentukan perubahan dan perkembangan. Sama halnya dengan perkembangan NWO itu sendiri, publik dunialah yang akan menentukan, dan ternyata sudah menentukan. NWO collapsing! Dengan sendirinya juga terorisme, komunisme, neolib, dan politik divide and conquernya yang pernah dipaksakan kepada begundal-begundalnya di banyak negeri termasuk Indonesia seperti PRRI/Permesata, rezim diktator Soeharto, gerakan 411, 212, teror Thamrin, akun biaya tinggi Saracen, teror gereja, gerakan ganti presiden dsb. Publik Indonesia yang luas sudah semakin bisa melihat “the pernicious influence of mainstream news”, berita-berita internasional yang melahirkan opini nasional yang keliru selama ini atau terutama selama abad 20.

    Ketika SP3 diumumkan oleh polisi, dikatakan juga bahwa kasus itu bisa kembali dibuka jika penyidik menemukan bukti baru terkait kasus ini di waktu mendatang. “Terhadap kasus ini dapat dibuka kembali bila ditemukan bukti baru,” (detik news), terang brigjen Iqbal. Ini bisa juga menandakan adanya kontradiksi intern polisi, tetapi bisa juga berakibat Rizieq takut pulang kalau merasa dipancing, kalau-kalau kemudian kasusnya ‘dibuka kembali dengan menemukan bukti baru’.

    Apapun yang terjadi, dan dibawah pengaruh positif kepemimpinan nasionalis presiden jokowi, arus besar positifnya akan dominan.

    Juga arus besar perubahan dan perkembangan dunia kearah yang semakin positif bagi perjuangan keadilan bangsa-bangsa dunia, sudah semakin terlihat. Perubahan dan perkembangan ini tidak tergantung siapapun, terutama dalam bidang informasi dan peningkatan pengetahuan dan kesadaran publik, yang tergambar dalam perjuangan demi kepentingan nasional atau demi kepentingan internasional neolib NWO dengan taktik divide and conquernya. Ini terlihat jelas dalam Kontradiksi Pokok dunia sekarang ini. Perjuangan untuk kepentingan nasional sedang berkobar semakin mendalam di Indonesia, dan semakin luas dan meyakinkan di Eropah dan AS. NWO dan divide and conquernya semakin ‘collapsing’, walaupun usaha divide and conquernya masih belum reda.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.