Menikmati indahnya 1 Syawal, menikmati kebersamaan saling memaafkan di hari lebaran bersama sahabat, temen, keluarga dari lintas suku agama dan ras tentu merupakan kebahagian tersendiri. Rasa persatuan dan kesatuan serta terciptanya harmonisasi sebagai makhluk Tuhan benar-benar membuat hati terasa damai.

Tentu kedamaian adalah dambaan semua manusia waras. Tentu kebersamaan adalah keinginan manusia yang paling hakiki. Siapa sih yang ingin bermusuhan? Siapa sih yang ingin gontok-gontokan hingga berujung perpecahan, yang lebih jauh lagi terjadi perang dan saling bunuh? Tentu siapapun tidak menginginkan itu.




Setelah umat muslim selama sebulan penuh berpuasa, ada hal yang ditunggu tunggu adalah hari kemenangan. Hari bersuka cita dan satu hal yang paling indah adalah saling bermaaf-maafan. Yang oleh bangsa ini disebut Halal bihalal.

Namun, tahukah anda bahwa ternyata tradisi halal bihalal adanya hanya di Indonesia? Negeri yang elok, negeri yang mempunyai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Bukan dari negeri Timur tengah yang hingga saat ini masih berkecamuk saling membunuh.

Ceritanya begini. Saat itu, tahun 1948, Bung Karno gelisah dengan situasi negara pasca kemerdekaan yang cenderung agak hangat oleh disintegrasi bangsa serta para elite politik eker-ekeran seperti halnya sekarang. Bung Karno memanggil KH Wahab Hasbullah yang moderat dan kharismatik.

“Gini, Kyai, saya minta petunjuk dan saran agar ada sebuah acara setelah lebaran ini untuk menyatukan para elite politik yang karepe dewek,” itu kira-kira.

Apa jawaban kyai Kharismatik tersebut?

“Itu gampang, Presiden. Para elite politik tidak mau bersatu karena memang elite politik di mana-mana sok keminter. Tidak mau bersatu, saling menyalahkan. Supaya mereka tidak punya dosa lagi, sebaiknya dihalalkan. Mereka harus duduk bersama dalam acara halal bi halal.




Bung Karno akhirnya sepakat dan atas perintah beliau, halal bi halal menjadi agenda wajib bagi instansi pemerintah atau swasta.

Di sinilah luarbiasanya pendahulu kita. Di sinilah hebatnya para ulama kita saat itu. Demi terciptanya NKRI, semua sepakat bahwa Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika menjadi pemersatu bangsa. Dan halal bi halal adalah pemersatu bangsa dalam bentuk lain. Keren, bukan?

Islam Nusantara ternyata lebih membumi dengan kearifan lokal. Karena sejatinya agama yang bijaksana tentu akan melebur dengan tradisi dan budaya leluhur.

Bukan malah mengkofar kafirkan!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.