Kolom Daud Ginting: ANAK MAMI OUTSIDE THE BOX

Jika ingin sukses dalam karir, seseorang mesti memiliki keunggulan komperatif dibandingkan orang lain.

0
490

Di saat ananda mengatakan “Outside The Box”, tentu Mami teramat sangat senang mendengarnya. Relung hati Mami berbunga-bunga menyimaknya. Kamu benar Nak, sebagai generasi muda harapan bangsa kamu mesti berpikir dan bertindak outside the box. Jika itu telah kamu lakukan berarti kamu sudah matang, mampu berpikir lateral, mampu berpikir lain dari yang lain, artinya kamu mampu menawarkan pemikiran dan solusi alternatif.

Itulah kreatifitas.

Jika ingin sukses dalam karir, seseorang mesti memiliki keunggulan komperatif dibandingkan orang lain. Jika tidak memiliki nilai lebih atau tidak beda dengan yang lain, itu namanya kamu follower, ikut-ikutan, suka meniru.

Semua orangtua pasti bangga jika melihat anaknya sudah mampu bertindak dan berpikir matang dan mandiri, apalagi memiliki nilai lebih sebagai modal memetik kesuksesan sebagaimana idaman setiap Ibu yang mencintai anaknya.




Oleh karena itu, sebagai anak yang ingin membanggakan orangtua harus hati-hati bicara di hadapan publik. Jaga penampilan agar citramu tidak melorot ke titik nadir. Pencitraan itu penting untuk meningkatkan popularitas, sudah barang tentu akan menaikkan elektabilitas. Nah, soal “ISI TAS”, slow but sure !!!

Kembali ke soal “Outside The Box”. Narasi ini sangat menarik karena dalam pelatihan human resources development, untuk memberdayakan seseorang menjadi lebih sukses diperlukan kemauan seseorang untuk meninggalkan zona nyamannya untuk bergeser menjadi mampu berpikir alternatif sebagai bentuk sikap kreatifitas.

Hanya orang kreatif mampu memetik sukses, dan orang yang mampu memproduksi hal-hal baru. Produk yang memiliki keunggulan lah yang mampu leading di pasar persaingan. Jika seseorang tidak memiliki kreatifitas dan keunggulan dia akan jadi pecundang.

Menjelang kontestasi Pilpres 2019, secara kasat mata terlihat jelas persaingan itu makin hangat, bahkan terkesan ingin saling menjegal dengan segala cara alias tidak rasional. Menjelekkan kompetitor dengan cara menebar rasa kebencian, mengkritik incumben asal “ngoceh” tanpa menawarkan alternatif pemikiran, bahkan ada yang lupa kritikannya justru menjadi serangan balik kepada dirinya sendiri.

Masih segar dalam alam bawah sadar kita, ada kritikan terhadap Pemerintahan Jokowi bahwa pembangunan infrastruktur yang dilakukan kabinetnya dianggap mengabaikan keberpihakan terhadap penderitaan rakyat. Pembangunan infrastruktur, baik jalan tol, pelabuhan, Bandara dan bendungan seakan sebatas gagah-gagahan.

Mereka lupa pemerintahan Jokowi menerapkan prinsip “Bukan memberi ikan kepada masyarakat, tetapi memberikan kail”. Bukankah jika memberi ikan hanya cukup untuk dimakan satu hari? Pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan subsidi BBM memang enak terdengar dan menyenangkan masyarakat serta meningkatkan popularitas tetapi jangan lupa bahwa hal itu manipulatif -meninabobokan- masyarakat.

Catatan penting yang perlu diingat ketika pertama sekali menjabat Presiden Indonesia, Jokowi diwarisi kondisi keuangan negara yang tidak surplus amat, tidak berlimpah uang di kas negara, bahkan defisit, utang menumpuk dan proyek banyak mangkrak. Justru lucu dan menggelikan jika dengan kondisi keuangan menipis Jokowi memilih kebijakan bagaikan Sinterklas. Pembangunan infrastruktur itu tidak ubahnya bagaikan memberikan kail atau sekalian memberdayakan masyarakat memancing sendiri mencari ikan yang difasilitasi oleh pemerintah.

Siapapun yang ingin mencalonkan diri jadi Presiden maupun Wakil Presiden sah-sah saja. Namanya juga tengah hidup di alam demokrasi. Tetapi, calon yang muncul itu alangkah lebih indah dipandang mata jika mampu menawarkan hal baru, pemikiran baru atau solusi lebih baru sebagai alternatif pilihan dan keunggulan komperatif demi kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika tidak mampu membidani munculnya alternatif baru lebih baik tidak banyak bicara, karena untuk membidani juga tidak mampu gimana bisa melahirkan hal yang baru, itulah esensi sesungguhnya “Outside The Box”.

Selamat Berpikir Merdeka !!!







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.