Perlawanan harus terjadi ketika perubahan datang. Soalnya, perubahan itu sendiri adalah bentuk perlawanan dari keadaan sebelumnya yang memang memerlukan perubahan. Kita ambil saja sebagai contoh ban kendaraan dengan jalan. Apa yang terjadi jika jalan dan ban itu tidak ada perlawanan, alias gesekan, satu dengan yang lain? Bayangkan jika jalanan semua tertutup es yang membeku, dapatkah kendaraan melaju jika tidak menggunakan ban khusus?

Perubahan memang selalu memerlukan perlawanan. Untuk lajunya yang baik, resistensi yang ada akan muncul sesuai kebutuhan.




Melihat situasi perpolitikan Indonesia saat ini, tentu kita juga begitu banyak melihat perubahan. Kita lihat saja bagaimana Ali Mochtar Ngabalin menjadi Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP). Fakta lain adalah elektabilitas Jokowi yang sudah mengungguli Prabowo, dibandingkan dengan pemilu 2014. Masih banyak perubahan yang terjadi, akan tetapi dua contoh ini kiranya cukup untuk kita lanjutkan ke ulasan apa yang membuat orang berubah.

Saya jadi teringat pernah belajar (online) sedikit tentang perubahan dalam kursus Change Management di IndonesiaX.id, yang pematerinaya adalah Prof. Rheinald Kasali. Ada empat tahapan respon terhadap adanya suatu perubahan. 

Denying atau penyangkalan adalah respon yang pertama. Kebijakan yang sebaik apapun, dalam kondisi yang sudah tidak berubah begitu lama (zona nyaman), maka akan ada penentangan. Kebijakan penghapusan subsidi BBM adalah salah satu contoh. Masyarakat secara umum menentang kebijakan ini, karena merasa tidak peduli dengan kondisi rakyat susah.

Pilihan yang tidak populis tetap diteruskan, subsidi dicabut dan dialihkan ke pembangunan yang produktif. Melihat pemerintah yang terus bergerak, walau tidak populis, masyarakat umumnya menyalahkan. Inilah tahapan ke dua sebagai reaksi terhadap perubahan, yaitu Blaming, menyalahkan apapun kebijakan di luar yang sudah biasa. Pemimpin yang menginspirasi dan visioner akan tetap berjalan tegar. Pembangunan infrastruktur tetab dipercepat, sekalipun ada pihak yang tetap menyalahkannya.

Ada pepatah yang mengatakan, “semangat perjalanan yang masih panjang harus tetap dijaga dengan kemenangan-kemenangan dalam jangka pendek”. Beberapa infrastruktur sudah selesai. TransPapua yang kelihatannya mustahil sudah terlihat. Pelabuhan-pelabuhan laut, bandar udara, serta bendungan-bendungan sudah juga mulai terlihat. Pembangunan jalan tol di berbagai wilayah juga sangat terasa manfaatnya.

Kami yang ada di Kabupaten Bandung, misalnya, sangat merasakan bagaimana pagi kami tidak sesumpek dulu diperjalanan setelah tol Soreang Pasir Koja dapat digunakan. Sungai Citarum yang dulu sangat kotor  yang airnya jadi hitam pekat saat kemarau, kini sudah berubah. Airnya memang belum jernih, akan tetapi kendati kemarau dan debit airnya menurun, airnya tidak hitam lagi. Beberapa waktu lalu, bahkan ikan tidak mati saat diadakannya mancing gratis. 




Masih banyak hasil kerja lain yang sudah dirasakan oleh masyarakat. Melihat kemenangan-kemenangan pendek ini, masyarakat yang awalnya Denying dan Blaming, berada pada titik tawar menawar atas sikapnya yang sebelumnya menolak dan menyalahkan ,akan tetapi sudah merasakan manfaatnya. Titik inilah yang disebut sebagai Bargainingyakni transisi frontal antara menolak dan menerima setelah melihat dampak dari perubahan.

Waktu terus berjalan, pemerintahan Jokowi-Jk terus konsisten membangun fisik dan manusianya.  Survey Indo Barometer terbaru menyajikan data bahwa elektabilitas Jokowi di Jawa Barat sudah terbalik dibandingkan dengan pilpres 2014. Ini menjadi menarik karena Jawa Barat adalah salah satu basis dukungan Prabowo saat pilpres 2014 lalu.  Kenaikan elektabilitas ini sederhananya adalah banyaknya masyarakat yang sudah merasakan hasil kerja pemerintahan saat ini. Penerimaan masyarakat atas perubahan yang dilakukan inilah yang disebut Accepting.

Denying, Blaming, Bargaining, dan Accepting, adalah tahapan sikap masyarakat terhadap suatu perubahan. Ini adalah lumrah dan harus terjadi untuk perubahan yang lebih baik. Akan tetapi kita juga tentu tidak menutup mata terhadap adanya penolakan yang konsisten. Ada pihak yang sampai saat ini masih berada pada posisi Denying dan Blaming.




Secara umum pihak yang masih menolak dan menyalahkan adalah oposisi. Kita seakan-akan melihat pertunjukan bahwa oposisi itu harus negasi seberapapun perubahan positif yang sudah terjadi. Denying dan Blaming, itulah seakan-akan fungsi dari oposisi. Jika memang semua berjuang untuk keadilan sosial dan kesejateraan semua rakyat dan dunia, sejatinya menjadi oposisi itu adalah untuk meluruskan apa yang kira-kira menyimpang, bukan membelokkan kebaikan sehinga membangun opini keburukan untuk mencapai tujuan kekuasaan. Kalau demikian yang terjadi, maka kelompok oposisi akan selalu mencari pembenaran bukan kebenaran.

Dalam buku ‘Start With Why- Simon Sinek”, dituliskan bahwa pemimpin sejati yang visioner adalah pemimpin yang menginspirasi bukan mengintimidasi atau menakut-nakuti. Pemimpin yang menginspirasi tahu kebutuhan dasar manusia adalah dihargai, diperhatikan, dan diperlakukan sebagai mahluk yang punya perasaan.  Sekolompok elit boleh- boleh saja membangun opini seburuk mungkin terhadap pemerintah yang dengan tulus membangun negri, akan tetapi jangan lupa mahluk perasa (rakyat) inilah yang menentukan pilihan.

Mahluk perasa itu akan memilih terhadap apa yang ia rasakan, bukan berdasarkan hasutan. Dalam keadaan panik terhadap ancaman, sangat mungkin masyarakat salah menilai tetapi elit juga harus paham bahwa se-elit apapun mereka, mereka bukanlah tupai. Tupai saja begitu lincah, sesekali bisa jatuh. Bagi kaum perasa, tidak perlu waktu lama baginya untuk sadar dari lamunan.  Masyarakat akan dengan mudah mencapai tahapan ACCEPTING terhadap perubahan yang tulus.

Salam semangat dan perjuangan,




Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.